Taufiq Rahman
Senior quality engineer TF-C
Hari itu, dengan tiga mobil, kami berenam mengunjungi sebuah satu sekolah terpencil di pelosok Indonesia. Ribuan kilometer jauhnya dari Surabaya. Kami tak sedang menjalankan program CSR. Kami hanya beberapa karyawan yang ingin berbagi dan memberi semangat anak-anak sekolah di sana yang sedang berjuang memperbaiki nasibnya.
Di depan kami, tampak gedung berukuran 10 kali 30 meter. Beratap seng, dinding dari papan kayu bercat biru muda. Tanpa jendela. Hanya anyawan kawat agar sinar matahari dan udara bisa masuk dan orang bisa melihat ke dalam ruangan kelas. “Good morning, sir!” gadis kecil berjilbab itu berlari menghampiri kami. Memang ada dua orang asing dalam rombongan. Gadis itu mencium tangan kami. Ulahnya, diikuti teman-temannya.
Kami baru tahu kalau lantai sekolah itu berupa tanah. Anak-anak berdiri rapi di depan sekolah. Pakaian mereka berwarna warni dan bagus. Benak saya mengatakan mungkin itu pakaian terbagus yang mereka miliki. Kepala sekolah mungkin meminta mereka untuk mengenakan pakaian bagus, untuk menyambut tamu sekolah. Sebelumnya kami memang menginformasikan akan berkunjung ke sekolah.
Dua anak kecil menarik perhatian kami. Ia tak bersepatu dan kakinya masih berlepotan lumpur yang belum kering. Baunya agak amis. “Saya tak punya sepatu pak! Saya harus lewat rawa-rawa sebelum sampai di sekolah,” ujarnya. Duh gusti Allah!
Pak Buyung, guru sekaligus kepala sekolah mengucapkan terima kasih kepada Allah karena ‘mengirim’ kami ke sekolahnya yang sederhana. Saat ini, kisahnya, ia baru memiliki dua kelas, karena sekolah tersebut baru menerima murid dua tahun silam. Sekolah ini berdiri karena bantuan warga. Ada yang menyumbang papan kayu, atap seng bekas bongkaran rumah, pintu, dan menyumbang gemboknya saja. Sekolah itu tanpa toilet, sehingga anak-anak harus ke sungai di belakang sekolah untuk buang air. Pak Buyung langsung menyatakan sumbangan dari kami akan dipakai untuk menyemen lantai kelas.
Gantian kami pidato. Kami senang ada di sini dan bagi kami, anak-anak lebih butuh kepedulian dan orang yang bisa memberi mereka semangat. Mereka anak-anak hebat, karena di tengah keterbatasan, mereka gigih berjuang. “Teruslah belajar, karena kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi, 30 atau 40 tahun lagi Indonesia mungkin akan dipimpin salah satu di antara kalian,” Mr Tony, orang asing dalam rombongan kami memekikkan semangat sekaligus mengakhiri sambutan. Mendengar harapan Mr Tony, dua guru perempuan tak sanggup menahan emosinya. Mata mereka berkaca-kaca.
Kami lalu membagi tas, buku, dan pensil. Mereka pun berebutan senang. Hal yang sederhana, namun sungguh membahagiakan berbagi dengan mereka. Dua jam kemudian, kami pamit pulang. Anak-anak kembali mencium tangan kami satu per satu. Kami elus kepala mereka sembari berpesan agar mereka tak pernah berhenti belajar.
Tiga bulan berselang, saya terkejut ketika seorang teman menunjukkan kepada kami bahwa foto kami bersama anak-anak sekolah itu menjadi foto sampul di kalender sebuah perusahaan managemen konstruksi top di Indonesia. Kami bangga, bukan karena foto kami dipasang di sana. Tetapi lebih karena melihat wajah gembira anak-anak yang sedang tertawa dan berlompatan menunjukkan tas pemberian kami.
Editor : tri