SURABAYA | SURYA Online - Jepang minati sektor agribisnis dan manufaktur Jatim. Jatim memiliki banyak keunggulan dibandingkan daerah lain, tenaga kerja yang murah dan trampil dan perizinana yang cepat.
Kepala Badan Penanaman Modal (BPM) Jatim Warno Harisasono mengatakan, Jepang menjadi salah satu perhatian utama karena selama setahun ini investasinya menurun.
“Memang masih dalam posisi lima besar tapi nilainya turun. Padahal potensi Jepang sangat bagus, apalagi Jatim punya banyak home industry spare part,” katanya di sela Business Meeting with Delegation from Osaka Jepang di Hotel Majapahit, Senin (28/11/2011).
Sejak 1967 sampai saat ini realisasi investasi Jepang di Jatim mencapai 2,1 miliar dolar AS untuk 144 proyek dengan serapan 1.745 tenaga kerja.
Sampai dengan QIII/2011 realisasinya Rp 80 triliun atau secara year-on-year naik 134 persen, namun secara akumulasi investasi Jepang di Jatim terus turun.
Bidang usaha yang lebih banyak digarap selama ini kimia, makanan dan minuman, perdagangan, industri logam hingga jasa. Bidang yang akan dijajagi lebih lanjut yakni manufaktur (baja metal plastik) dan agribisnis.
“Kendalanya di Jatim hanya soal pasokan energi listrik dan gas, kalau soal infrastruktur relatif tidak banyak kendala,” yakinnya.
Penulis : Dwi Pramesti YS
Editor : Heru Pramono