Home » Berita Terkini » HotNews » Sport » Surabaya Metro

Persebaya Tetap Ruwet, Latihan Dijaga Polisi

DIJAGA - Puluhan polisi menjaga Tim Persebaya saat latihan di lapangan Persebaya, Kamis (29/9). Foto: surya/erfan hazransyah

SURABAYA | SURYA - PSSI dijadwalkan baru memutuskan sengketa dualisme kepengurusan Persebaya, Jumat (30/9) ini. Tapi, tim Persebaya bentukan PT Persebaya Indonesia yang dipimpin Cholid Ghoromah tetap eksis menjalankan latihan hingga Kamis (29/9).

Saat ini, Persebaya terbelah menjadi dua, yakni kubu Wishnu Wardhana melalui bendera PT Mi­tra Muda Inti Berlian (MMIB) yang musim lalu berlaga di Divisi Utama (DU) dan kubu Cholid Goromah dengan badan hukum PT Persebaya Indonesia yang musim lalu bernama Persebaya 1927 dan bermain di Liga Primer Indonesia (LPI).

Dalam sesi latihan kemarin, Persebaya menjalani latihan di lapangan Persebaya. Latihan yang dipimpin pelatih kepala Divaldo Alves, terasa lain dibanding latihan biasanya. Latihan Mat Halil dkk ternyata mendapat perhatian ekstra dari Polrestabes Surabaya. Lembaga kepolisian itu menerjunkan sekitar 30 personelnya untuk menjaga latihan tim berjuluk Bajul Ijo.

Tidak hanya polisi dengan pakaian dinas warna cokelat-cokelat, polisi berpakaian preman juga banyak terlihat di Mes Persebaya Jl Karanggayam Surabaya, berbaur dengan penonton.

Adanya puluhan polisi menjaga latihan Persebaya, ini tidak lazim. Bisanya latihan Mat Halil dkk cukup dijaga oleh keamanan internal Mes Persebaya. Puluhan polisi turun dan menjaga latihan skuad Bajul Ijo hingga bubar ini, karena ada kabar ratusan suporter Surabaya (sering disebut Bonek) akan mendatangi Mes Persebaya untuk melakukan demonstrasi terkait konflik dualisme kepengurusan.

Puluhan Bonek memang berdatangan ke Mes Persebaya dan melihat latihan. Tapi, mereka tidak melakukan unjuk rasa. Melainkan hanya membentangkan spanduk berukuran besar dengan tulisan “Satu Nyali Wani Tolak Merger” yang ditempelkan di tembok sisi timur lapangan Persebaya.

Seorang perwira polisi, Kompol Mustaqim, saat ditanya wartawan menolak memberikan komentar, terkait banyaknya polisi yang menjaga latihan. “Kami tidak berani memberikan pernyataan, kecuali pimpinan,” kata Mustaqim yang ditemui di pinggir lapangan Persebaya.

Sebelumnya, Bonek menggelar unjuk rasa di Jl Gubernur Suryo dan Taman Surya Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Bonek menuntut supaya konflik dan dualisme Persebaya diakhiri. Mereka juga menuntut Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini turun tangan menjadi mediator.

Sementara itu, mediasi yang dilakukan Wali Kota Tri Rismaharini tidak membuahkan hasil Persebaya bersatu. Kedua kubu yang terlibat konflik, yakni Persebaya kubu Cholid Goromah dan Wishnu Wardhana sama-sama merasa paling benar. Pertemuan dihelat di Rumah Dinas Wali Kota Surabaya, Kamis (29/9) sore selama satu jam. Dari kubu Cholid, hadir Komisaris Utama PT Persebaya Indonesia, Saleh Ismail Mukadar, Cholid, dan Suprastowo.

Sedangkan kubu Wishnu, hadir Direktur PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB), M Alyas, kuasa hukum, Ahmad Julianto, Gangsar Wahyudi, Wastomi Suhari, dan Andi Slamet.

Perwakilan klub juga ikut hadir, seperti Amang Mulia (Fatahillah), Hendrik Peter (Maesa), Hartono Purnomosidi (Pusura), Noerhadi (Putra Mars), dan beberapa perwakilan lainnya.

Jalannya pertemuan berjalan alot. Kubu Wishnu dengan juru bicara Alyas bersikukuh, PSSI sudah mengakui Persebaya versi Wishnu. Dengan catatan, Wishnu mengajak Cholid untuk merger dan kerjasama. Termasuk pembagian saham, yakni 35 persen PT MMIB, 35 persen Cholid dan Wishnu mewakili anggota Persebaya 30 persen.

Tapi, argumen tersebut dibantah Cholid. Dia mengatakan, surat tersebut mentah dengan kedatangan Wakil Ketua PSSI, Farid Rahman pada 25 September lalu. Dalam mediasi yang dilakukan Farid, disepakati bahwa masalah dualisme Persebaya diserahkan ke PSSI.

Saleh Mukadar sempat memberi tawaran, supaya Persebaya diambil alih Pemkot Surabaya. Termasuk kepemilikan saham, tetapi ditolak Risma dengan alasan pejabat negara tidak boleh memegang perusahaan.

“Sebenarnya saya berharap pertemuan ini ada jalan keluar. Tapi kalau lihat gini, kayaknya tidak ada jalan keluar. Mari kita saling arif, sehingga tidak ada perselisihan,” pinta Risma.

Karena gagal menyatukan Persebaya jadi satu alias masalah Persebaya tetap ruwet, Risma akhirnya menyerahkan sepenuhnya ke PSSI. Ia berharap, apa pun yang diputuskan PSSI, kedua kubu legawa menerimanya. Ia juga tidak ingin ada keributan setelah keputusan PSSI keluar hari ini.

“Apapun yang diputuskan besok, saya harap bisa menerima. Saya udah coba jembatani, tapi tidak bisa. Saya minta semua, jangan sampai ada keributan atau pengerahan massa. Setuju?” tegas Risma. “Setuju,” jawab seluruh orang yang hadir di ruangan itu, termasuk Cholid, Saleh, dan Alyas. “Ini saya rekam. Kalau ada apa-apa ada rekamannya,” ingat Risma

Ditemui usai pertemuan, baik Cholid maupun Alyas sama-sama berjanji untuk legawa dan menerima apa pun hasil keputusan PSSI. “Saya akan legowo, apa pun yang diputuskan PSSI,” janji Alyas. Cholid juga berjanji menaati hasil keputusan PSSI. “Kita jangan lihat pribadi, kita harus lihat masyarakat Surabaya,” timpal Cholid.

Penulis : fat/iks

Editor : Sugeng Wibowo

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "