PHILADELPHIA | SURYA Online - Pemerintah federal AS, Kamis (29/9/2011), menangkap 37 pegawai dan mantan pegawai Boeing karena menjual atau berusaha membeli obat penghilang rasa sakit dan penenang di sebuah pabrik yang membuat pesawat militer di pinggiran kota Philadelphia.
Setelah empat tahun penyelidikan, Jaksa AS, Zane David Memeger, mengatakan, 23 orang telah ditangkap karena menjual obat penghilang rasa sakit, oxycontin, dan obat tak sah lain, dan 14 orang diciduk karena berusaha memiliki bermacam obat. Semuanya, kecuali satu orang, merupakan pegawai atau mantan pegawai Boeing Co. Satu orang lagi diduga akan ditangkap.
“Penyelidikan dan penghukuman ini dipusatkan bukan hanya pada penjual, tapi juga pada pengguna karena peran penting dari semua pegawai ini dalam pembuatan pesawat militer,” kata Memeger dalam sebuah konferensi pers.
Boeing mempekerjakan lebih dari 6.000 orang di pabrik Ridley Park. Di sini diproduksi pesawat V-22 Osprey, yang bisa lepas-landas secara vertikal, dan helikopter Chinook H-47. Osprey dan Chinook merupakan pesawat standar militer AS yang digunakan di Irak dan Afghanistan. Menurut Memeger, tak ada bukti bahwa pengerjaan pesawat-pesawat itu terganggu.
Juru bicara Boeing, Damien Mills, mengatakan perusahaan tersebut kooperatif dalam penyelidikan itu dan memastikan pegawainya yang dicurigai tak membahayakan keselamatan atau kualitas produksi pesawat. Semua pegawai yang menjadi terdakwa dalam kasus tersebut diskors.
Agen FBI dan Lembaga Pengawas Obat melancarkan penggerebekan pada Kamis pagi di pabrik itu. Dalam penggerebekan tersebut ditemukan obat penghilang rasa sakit, oxycontin, serta fentanyl yang dijual dalam bentuk tablet dengan nama actiq. Juga ditemukan obat-obat lain -penghilang rasa sakit buprenorphine, yang dijual dengan nama suboxone, dan obat penghilang rasa cemas alprazolam, yang dijual dengan nama xanax.
Damien Mills mengatakan, pada Mei 2006 sejumlah karyawan menghubungi kelompok etika internal perusahaan terkait kecurigaan adanya tranksasi ilegal obat di pabrik itu. Dia mengatakan, Boeing mulai melakukan investigasi internal dan pada Agustus 2007 memberikan temuannya kepada penyelidik federal.
Sumber : antara
Editor : Titis Jati Permata