
Nisreen Mansour terbaring di ranjang rumah sakit militer di Tripoli di bawah pengawasan pasukan pemberontak. FOTO:DAILY MAIL
TRIPOLI | SURYA Online - Bagi Nasreen Mansour al Forgani, Fatma adalah komandan yang haus kekuasaan tetapi setia pada rezim Khadafi. Ia akan melakukan apa saja, termasuk mengorbankan anak buahnya.
“Dia (Fatma) bilang, kalau ibuku mengatakan sesuatu yang melawan Khadafi, aku harus membunuhnya seketika itu juga. Kalau saya mengatakan sesuatu yang dia tidak suka, dia akan memukulku dan mengunciku dalam kamar,” kata Nasreen mengenang sikap komandannya.
Soal kaum pemberontak, Fatma juga punya cara lain untuk menakut-takutinya. “Dia bilang, kalau pemberontak datang, mereka akan memperkosa kami,” katanya soal manipulasi Fatma.
Yang mengejutkan, Fatma juga bertindak sebagai mucikari dengan memaksa para anakbuahnya menjadi budak seks para komandan pengawal Khadafi.
“Fatma punya kantor di markas Brigade 77. Di kantor itu ada sebuah kamar dengan satu tempat tidur. Suatu hari, dia memanggil aku dan memaksaku masuk kamar itu sendirian. Lalu datang Mansour Dau, komandan Brigade 77. Dia masuk dan menutu pintu, lalu memperkosa aku,” tutur Nisreen.
Setelah selesai, Fatma mengatakan pada Nisreen agar tidak memberitahukan hal itu kepada siapa pun termasuk orangtuanya. “Jadi setiapa Mansour datang ke markas, ia selalu diberi seorang gadis oleh Fatma. Sebagai gantinya, dia mendapat hadiah,” kata Nisreen lagi.
Ternyata, derita Nasreen tidak hanya sampai di situ. Anak Mansour yang juga menjadi perwira di brigade itu, juga ikut memperkosanya pada lain kesempatan. Komandan lain di brigade itu juga melakukan hal yang sama. Semua itu terjadi pada semua gadis yang dikenalnya, dan keadaan terus memburuk ketika rezim mulai rontok.
Kisah tragis dialami Faten. Gadis itu terbunuh dalam peristiwa yang ganjil tetapi brutal saat kaum pemberontak mulai mendekati Tripoli. Saat itu Nasreen dan Faten sedang berjaga di sebuah pos dekat Bab al-Azizya, benteng Moammar Khadafi.
Saat itu tiba-tiba, putra Khadafi, Saif al Islam dan rombongannya datang. “Saif mengenakan rompi tahan peluru, helm dan kacamata pilot. Faten mendekat dan tiba-tiba pengawal Saif menembak kepalanya. Ia dibunuh hanya karena terlalu dekat Saif,” kata Nisreen.
Saat itu kondisi keamanan makin memburuk di Libya. Dan, muncullah pepatah, “Gorok leherku, asal jangan biarkan ada gadis menembakku dari belakang.” (bersambung)
Sumber : Daily Mail
Editor : Adi Sasono