Home » Berita Terkini » HotNews » Surabaya Metro
Di Depan Ruang Kerja Kabiro Kesra | Menyaru Pejabat Ir Indra Maulana

Gendam Rp 600 Juta di Kantor Gubernur

Grafis: surya/yusuf

SURABAYA | SURYA - Kantor Gubernur Jatim di Jl Pahlawan Surabaya di-obok-obok penjahat. Seorang warga kena gendam Rp 600 juta dekat ruang kerja gubernur. Sebelumnya, Gedung Grahadi Jl Gubernur Suryo, tempat gubernur menerima tamu penting, juga dijarah pencuri motor.

Kasus gendam Rp 600 juta yang terjadi Kamis (28/7) benar-benar mencengangkan. Bayangkan saja. Si penggendam tak sekadar mengaku sebagai orang pintar atau paranormal, melainkan justru menyaru sebagai pejabat di lingkungan Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemprov Jatim.

Saat menyaru, si pelaku benar-benar mirip pejabat, dengan kata-kata dan kalimat yang menunjukkan bahwa mereka menguasai berbagai persoalan yang harus dituntaskan Biro Kesra.

Hebatnya lagi, si penggendam benar-benar membawa korban ke Kantor Biro Kesra di Kantor Gubernur Jl Pahlawan Surabaya. Dan, penggendaman justru berlangsung mulus di depan ruang kerja Kabiro Kesra Pemprov di lantai empat gedung gubernuran. Padahal, tak jauh dari tempat itu, sekitar 75 meter ke barat, ada ruang kerja gubernur dan wakil gubernur.

Kenapa kejahatan justru bisa berlangsung di sana? Ya, itulah kehebatan komplotan penggendam yang berhasil memperdayai Yuniar Wardhani (39), pegawai perusahaan money changer Utama Valas yang beralamat di Jl Mas Sanyoto, dan pimpinannya.

Yang jelas, siang kemarin Paidi, petugas Satpol PP yang berjaga di Kantor Gubernur mengatakan, pihaknya baru mengetahui ada orang yang digendam di kantor yang dijaganya setelah korban melapor ke Pos Satpol PP di lantai satu. Kebetulan, ia dan temannya bernama Wahib, yang menerima laporan dari korban.

Menurut Paidi, peristiwa penipuan dengan cara menggendam itu terjadi sekitar pukul 12.30 WIB. Saat itu, Yuniar Wardhani yang tinggal di Perumahan TNI AL Gedangan, Sidoarjo, mendapatkan perintah dari pimpinannya untuk mengantar uang dolar Amerika Serikat senilai Rp 600 juta.

Rupanya, si pelaku yang mengaku bernama Ir Indra Maulana telah menelepon pimpinan Yuniar meminta dikirimi uang dolar AS yang nantinya akan ditukar dengan rupiah. Dengan mengaku sebagai pejabat di lingkungan Biro Kesra Pemprov dan meminta kiriman uang ke Kantor Biro Kesra, sebuah alamat jelas dan resmi, tentu saja pimpinan Yuniar menjadi tidak ragu lagi.

Yuniar yang ditugasi pimpinan pun melangkah dengan mantap menuju Kantor Biro Kesra Pemprov di lantai empat. Di Kantor Gubernur Jl Pahlawan, Yuniar langsung menuju pos Satpol PP.

Setelah diberi identitas tamu, dia langsung menuju lantai empat dengan lift sambil menenteng tas berisi uang dolar Amerika senilai sekitar Rp 600 juta. Nah, di ruang lobi kantor di depan ruang kerja Kepala Biro Kesra yang berhadap-hadapan dengan ruang Biro Hukum inilah, Yuniar bertemu dengan pelaku yang ternyata tidak sendirian. Pria mengaku bernama Ir Indra Maulana itu didampingi dua rekannya.

Setiba di depan ruang kerja Biro Kesra, Yuniar mencoba masuk, untuk memastikan bahwa tiga pria yang ditemuinya adalah pejabat di kantor itu. Namun, si Indra Maulana menghalangi. “Si pelaku menyatakan: Transaksinya di sini saja,” ujar Paidi menirukan laporan korban.

Akhirnya, uang dolar AS di amplop langsung diserahkan kepada Indra Maulana. Setelah menerima uang, pelaku meminta izin kepada korban untuk naik ke lantai enam sebentar, dengan alasan akan meminta tanda tangan pengesahan dari pimpinan. Korban Yuniar mengusulkan untuk ikut naik ke lantai enam. Namun, pelaku menyatakan tidak perlu karena hanya sebentar saja.

Anehnya, Yuniar nurut saja. Firasat korban benar. Satu menit, dua menit, hingga selama beberapa jam, ternyata Indra Maulana tak menunjukkan batang hidungnya. Saat itulah, Yuniar baru sadar telah ditipu pelaku. Saat itu juga korban spontan menjerit-jerit histeris. “Saya ditipu….ditipuuu…kena gendaaammm.”

Jerit tangis perempuan ini tentu saja mengagetkan ratusan pegawai di Biro Kesra dan Biro Hukum Setdaprov Jatim. Para pegawai ini pun lari berhamburan keluar ruangan. Setelah tahu apa yang terjadi, korban lantas diantar ke Pos Satpol PP di lantai satu untuk melaporkan kejadian yang dialami.

Oleh Satpol PP, laporan diteruskan ke petugas Polrestabes Surabaya. Sekitar pukul 14.30 WIB, korban dibawa petugas kepolisian ke Mapolrestabes di Jalan Sikatan untuk dimintai keterangan.

Para pelaku nampak sangat profesional. Salah seorang pelaku mengaku bernama Indra karena di Biro Kesra memang ada staf bernama Indra. Begitu pula, pakaian. Mereka mengenakan pakaian batik saat para pegawai sedang berbusana batik.

Kepala Bidang Operasional Trantib Satpol PP Jatim Meidy Susanto mengatakan, pengamanan yang dilakukan anak buahnya dalam menjaga kantor Gubernur sudah sesuai dengan prosedur. Setiap ada tamu yang datang, harus lapor kepada petugas Satpol dan meninggalkan Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Setelah ditanya keperluannya apa dan mau menemui siapa, si tamu diberi keplek dengan tulisan TAMU. ”Nah, saat penipuan modus gendam itu terjadi, ada lima anak buahnya yang bertugas. Mereka lapor sudah melakukan dengan sesuai aturan yang ada,” ujarnya kepada Surya.

Tetapi, karena Kamis kemarin merupakan hari swadesi – waktu dimana PNS di lingkungan pemprov menggunakan pakaian batik, petugas Satpol PP diduga sulit membedakan mana pegawai dan mana orang luar. Sehingga para tamu dengan mudah masuk ke gedung tanpa terdeteksi. Nah, celah itulah yang diduga dimanfaatkan pelaku. ”Itu beda jika hari Senin sampai Rabu dimana PNS memakai pakaian dinas harian (PDH). Orang luar, karena pakaiannya beda langsung terdeteksi,” jelas Meidy.

Selain itu, selama ini seringkali kebiasaan di pemprov, jika ada tamu yang jumlahnya banyak, misalnya lebih dari lima orang, yang disuruh melapor hanya satu orang sebagai perwakilan saja. Nah, celah ini juga diduga dimanfaatkan pelaku, untuk mengelabui petugas agar kedatangannya tidak diketahui. Ditanya demikian, Meidy berujar, ”Itu sangat mungkin, kalau pelaku masuk dengan ikut rombongan tamu lainnya,” imbuhnya.

Longgarnya pengamanan itu diperparah dengan tidak adanya kamera CCTV. Padahal, di kantor sebesar Kantor Gubernur yang menjadi tujuan ratusan warga setiap harinya, fakta ini sangat memprihatinkan dan tidak mengantisipasi kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Kepala Biro Kesra Setdaprov Jatim Bawon Adi Yitoni mengaku sudah mendapat laporan terkait penipuan bermodus gendam yang terjadi tepat di depan ruangan kantornya. ”Pelaku yang mengaku bekerja di sini itu menggunakan nama Indra Maulana,” ujarnya.

Namun, setelah dicek, tidak ada satu pun dari pegawainya di Biro Kesra yang bernama Indra Maulana. ”Kalaupun ada, namanya Indra Istianto. Beliau Kabag Sosial di sini. Dan namanya kan juga beda,” jelasnya.

Namun, kemarin selama seharian penuh Indra Istianto, kata Bawon, tidak berada di kantor. Dia bertugas mendampingi Wakil Gubernur Saifullah Yusuf yang sedang menggelar bakti sosial di Sidoarjo.

Untuk itu, Bawon mengaku siap mempertemukan Indra Istianto dengan korban gendam yang menggegerkan semua pegawai di Kantor Gubernur Jalan Pahlawan itu. Hal itu dinilai penting guna memastikan, apakah Indra yang dimaksud benar-benar pegawai Biro Kesra atau tidak. ”Selain itu, saya juga siap setiap saat jika dimintai keterangan oleh pihak kepolisian terkait itu,” katanya.

Kasus gendam ini terjadi 10 hari setelah Gedung Negara Grahadi di Jl Gubernur Suryo, tempat gubernur menerima tamu-tamu penting, disatroni maling necis, Selasa (19/7). Saat itu, sepeda motor wartawan Harian Seputar Indonesia, Lutfi Yuhandi, yang diparkir di tempat parkir depan pressroom (ruang wartawan) Grahadi, digondol pencuri, sekitar pukul 12.41 WIB.

Saat dikonfirmasi mengenai kasus gendam, Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Indarto menegaskan, pihaknya akan menyelidiki kasus ini. “Sementara ini kami masih memeriksa korban secara intensif,” ujarnya.

Penulis : uji/k2

Editor : Sugeng Wibowo

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "