
PEGANG PIPI - Mayangsari memegangi pipi suaminya, Bambang Trihatmodjo, saat meresmikan restoran di Grand City Mall, Rabu (29/6). Foto: surya/ahmad zaimul haq
Berawal dari doyan makan dan menyiapkan masakan buat suami, kini Mayangsari serius menggeluti bisnis kuliner. Setelah membuka restoran di Jakarta pada pertengahan Oktober 2010, disusul di Bali pada 1 Maret 2011, istri Bambang Trihatmodjo itu membuka restoran yang sama bernama MayanG Suki & Pancake di Grandcity Surabaya, Rabu (29/6).
Tak hanya umbar kata, wanita kelahiran Purwokerto, Jateng, itu langsung memeragakan kemampuannya memasak di hadapan wartawan yang hadiri pada prosesi peresmian rumah makannya siang itu.
Yang diolah, tentu menu andalan di rumah makannya itu, suki dan pancake. “Yang membuat beda, di restoran saya kuahnya pake ginseng. Jadi hangat, baik untuk kesehatan,” ujarnya sambil berpromosi.
Dengan terampil, ibu seorang seorang putri bernama Khirani Siti Hartina Trihatmodjo itu memasukkan bahan demi bahan ke air mendidih yang sebelumnya digunakan merebus ginseng. “Sayur giliran paling akhir, biar kandungan vitaminnya tidak hilang kena air panas. Selain itu, sayur yang kelamaan direbus jadi layu dan nggak enak dimakan,” paparnya sambil sesekali dibantu Yuni Shara memasukkan bahan ke kuah panas tersebut.
Acara peresmian restoran yang ketiga itu memang bertabur artis. Selain Yuni Shara, hadir pula pasangan Jeremy Thomas dan Ina Indayanti, Cut Keke, dan model senior Surabaya, Lisa Gunawan.
Demo masak itu juga untuk menegaskan bahwa menu yang disajikan buat pengunjung adalah hasil racikannya. Jenis masakan yang dikuasai betul itulah yang lalu coba ditawarkan di restoran MayanG Suki & Pancake. “Saya memang tak bisa berharap sekali buka langsung booming. Di sini perlu usaha keras dan kegigihan. Yang penting, saya nggak ingin begitu dibuka rame, tapi lalu sepi. Tantangannya adalah mempertahankan bisnis ini agar terjaga kunjungan tamunya,” beber Mayang.
Artis yang melejit lewat lagu Harus Malam Ini dan Tiada Lagi itu mengaku dirinya tak mungkin bisa kembali ke dunia tarik suara seperti yang dilakukan di era 1990-an. Mayang sudah meneguhkan tekadnya meninggalkan dunia menyanyi tanpa harus mengalami post power syndrome. “Dalam dunia nyanyi juga ada post power syndrome, dan saya senang bisa melewati masa (pensiun) itu tanpa harus kena post power syndrome,” ungkapnya.
Apakah Bambang mendukung aktivitas barunya ini, termasuk memilihkan tempat di mana dia harus melakukan usahanya? “Mas Bambang memberi support atas setiap yang saya lakukan. Namun, Mas Bambang tak pernah terlibat sampai jauh,” cetus Mayang yang siang itu memakai busana motif kulit buaya.
Penulis : pra
Editor : Sugeng Wibowo