
MENGINAP - Puluhan orangtua calon murid SDN Manukan Kulon menginap di halaman sekolah untuk menunggu pendaftaran, Kamis (30/6) ini. Foto: surya/ahmad zaimul haq
SURABAYA | SURYA - Demi sekolah anak, orangtua tak keberatan melakukan apa saja. Di Surabaya, hanya agar bisa mendapatkan formulir pendaftaran di SD negeri, para orangtua nekat menginap di luar pagar sekolah.
Tahun ini, pendaftaran SD negeri dilakukan serempak selama tiga hari mulai hari ini, Kamis (30/6), pukul 07.00 WIB. Meski dibuka tiga hari, para orangtua sudah bersiap menyerbu sekolah-sekolah tertentu untuk mendapatkan antrean pendaftaran terdepan. Kalau pun harus menginap, tidak ada masalah.
“Ini orang tua di sekitar SDN Manukan Kulon sudah siap-siap menginap seperti tahun lalu. Saya juga ikut menginap waktu mendaftarkan anak saya. Takut kehabisan formulir, karena biasanya hari pertama sudah habis. Daripada anak saya sekolah jauh dari rumah,” ungkap Ny Suhartini, salah satu orangtua murid kepada Surya, Rabu (29/6).
Para orangtua di sekitar SDN Manukan Kulon (SD Kawasan hasil penggabungan tiga sekolah) sudah menyadari bahwa orangtua calon murid menginap di balik pagar sekolah sudah menjadi agenda tahunan. Setiap malam menjelang pembukaan hari pertama pendaftaran murid baru selalu sudah diramaikan orangtua yang mruput.
Seperti yang terlihat kemarin malam. Selepas salat isya, mereka berduyun-duyun menuju SD Manukan. Hingga pukul 21.30 WIB sudah berkumpul 39 orangtua calon murid yang mengantre. Di antara mereka ada yang melengkapi diri dengan kursi plastik agar tidak terlalu capai.
Mereka berangkat tengah malam untuk mendapat antrean terdepan. “Kalau tidak begitu, paginya antrean sudah sangat banyak. Bisa-bisa kalau tidak dapat formulir tidak bisa sekolah di sini,” tambah wali murid yang sekarang anaknya duduk di kelas dua SDN Manukan Kulon itu.
Kalau pun lelah antre, anggota keluarga lain dikerahkan untuk menggantikan antrean agar tidak direbut orang lain.
Menurut pengakuan warga setempat, seorang satpam yang biasa menjaga sekolah juga dipaksa bertugas ekstra. Suhartini menceritakan bahwa satpam itu mengaku harus berseragam sepanjang malam. Dia menambahkan, tadi malam terop khusus dibuat untuk menampung para wali murid yang mau menginap itu.
Sesuai aturan Dinas Pendidikan Kota Surabaya, setiap SD negeri diberi waktu tiga hari secara manual menerima siswa baru. Meski waktu yang ditetapkan adalah tiga hari, namun formulir yang disediakan selalu ludes pada hari pertama.
Setiap sekolah yang sudah membentuk panitia penerimaan siswa baru harus mengacu pada aturan yang sudah ditetapkan. Tidak ada tes apa pun untuk bisa masuk di SD negeri. Mereka diterima berdasarkan jarak rumah ke sekolah. Selama masih berada di lingkungan sekolah akan diterima. Selain itu, faktor usia juga menjadi pertimbangan, yaitu tujuh tahun. “Syaratnya hanya usia dan domisili. Tak ada tes,” tandas Kabid Pendidikan Dasar Dindik Surabaya, Eko Setyaningsih.
Namun, jika nanti jumlah pendaftar itu semua memenuhi kualifikasi, panitia akan menambah penilaian dengan melihat waktu mendaftar. Semakin awal atau lebih dulu mendaftarkan diri semakin menjaga peluang ini. “Sekolah di negeri itu selain tidak membayar juga dekat rumah. Warga juga sudah lama sekolah di sini,” kata warga lain di Manukan Kulon.
Hal yang sama juga akan terjadi di beberapa sekolah yang selama ini difavoritkan warga. Dari yang difavoritkan warga tersebut beberapa di antaranya adalah SDN Kertajaya, SDN Menanggal, SDN Ketabang, dan SDN Kaliasin.
Di sekolah-sekolah tersebut, ratusan wali murid juga rela mengantre demi mendapatkan formulir penerimaan siswa baru. Meski tidak sampai menginap, namun mereka rela antre selepas subuh.
“Kalau mau antre pukul 05.00 saja. Nanti tak kebagian formulir wong sehari sudah habis. Dulu banyak yang kecele karena sehari sudah ludes,” ucap wali murid SDN Kertajaya yang anaknya naik kelas dua.
Salah satu tukang parkir di lingkungan sekolah itu juga mengakui bahwa formulir akan habis dalam sehari. Biasanya sekolah hanya akan mencetak formulir sesuai pagu. Namun, karena membeludak, formulir diperbanyak saat itu juga.
Sekolah-sekolah tersebut menjadi favorit sudah bertahun-tahun. Ini tampak dalam setiap masuk dan pulang sekolah selalu dipenuhi mobil pengantar. Tidak jelas apakah bisa dipastikan bahwa mereka yang bermobil itu adalah warga sekitar SD. Beberapa ada yang menyebut ada yang dari luar lingkungan sekolah.
Namun, hal ini ditolak Kepala SDN Kertajaya, Muhammad Na’im. Kasek di sekolah favorit ini menegaskan bahwa semua penerimaan siswa baru di sekolahnya sesuai aturan. “Tidak ada titip-titipan dari siapa pun. Mereka yang kami terima sesuai domisili. Selain itu biasanya kami juga lakukan pengecekan kesehatan,” kata Na’im.
SDN Kertajaya ini menyediakan pagu sebanyak 160 kursi. Namun, dari pagu ini setiap tahun selalu diserbu sampai 240 pendaftar. Kondisi ini mengakibatkan wali murid khawatir anaknya tak masuk ranking pagu yang dimaksud. Pendaftaran di SDN Kertajaya, Pucang ini, akan dibuka mulai pukul 07.00 sampai pukul 12.00.
Eko Setyaningsih selaku Kabid Pendidikan Dasar melarang keras apabila sekolah-sekolah itu memanfaatkan kesempatan. Jika sekolah tersebut kedapatan melakukan praktik pesan bangku hingga inden, akan disanksi tegas. “Sepengetahuan saya, sejauh ini belum ada yang begitu,” kata Eko.
Sementara itu, Pendaftaran SDN yang dibuka dan langsung diserbu orangtua yang berbondong-bondong mendaftar ke SDN favorit menunjukkan bila mereka terkena mitos lama berupa sekolah favorit. Padahal seluruh SDN sudah memiliki metode pembelajaran yang sama. Tidak ada yang beda.
”Jadi sudah ada metode dan aturan yang sama di SDN. Sudah tidak ada alasan orangtua untuk mengikuti mitos-mitos SDN favorit dalam menyekolahkan anak-anaknya,” kata Daniel Rosyid, pembina dari Dewan Pendidikan Jatim, ketika dihubungi pada Rabu (29/6) malam.
Sikap masyarakat yang sibuk berebut mendaftar di SDN favorit adalah perilaku yang tidak sehat. Menurut Daniel, seharusnya tokoh masyarakat di sekitar dan pemerintah untuk memberi pengertian guna mematahkan mitos tersebut. Karena bila diteruskan akan menunjukkan bila mutu dari SDN yang ada di kota Surabaya ini jomplang.
”Padahal, semua sama. Jadi jangan sampai pemerintah dalam hal ini sekolah dan Dinas Pendidikan baik kota maupun cabang untuk tidak mengikuti kepentingan orangtua yang ngawur dengan mengikuti mitos ini, memaksakan anaknya harus di sekolah favorit,” ungkap Daniel.
Lebih lanjut, Daniel menegaskan, SDN dalam pendaftarannya juga tidak boleh melakukan seleksi apa pun. Mereka harus mengutamakan anak yang bertempat tinggal di dekat dengan sekolah tersebut. Selanjutnya bila berlebih, pemerintah-lah yang mencari anak tersebut dan mencarikan SDN lain yang terdekat.
Anak dan Kalung Sekolah Bareng
Kalau ingin tahu seberapa besar perhatian orangtua terhadap pendidikan anaknya, datanglah ke pegadaian pada waktu-waktu seperti ini. Pasti banyak orang yang menyekolahkan barangnya demi kelancaran sekolah anak.
Perum Pegadaian Cabang Jombang menyediakan contoh nyata dari fenomena perhiasan dan anak sekolah bareng tapi beda tempat. Di kantor ini, kucuran kredit melonjak hingga 30 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kalau Mei kredit yang dikucurkan ‘hanya’ Rp 15 miliar, hingga menjelang akhir Juni sudah tembus Rp 19 miliar.
Kepala Cabang Pegadaian Jombang Haryadi memperkirakan sebagian permintaan kredit itu, sekitar Rp 5 miliar, digunakan untuk biaya pendidikan. “Sisanya untuk pengembangan usaha. Ini merupakan tren setiap tahun dan rata-rata yang digadaikan adalah perhiasan,” kata Haryadi, Selasa (28/6).
Ditambahkan, peningkatan omzet itu secara otomatis diikuti oleh meningkatnya jumlah nasabah. Jika pada Mei jumlah nasabah sekitar 1.600 orang, pada bulan Juni ini sudah menyentuh angka 2.000 orang.
Haryadi memprediksi, peningkatan akan terus berlangsung hingga Juli dan Agustus. “Jika mengacu tahun sebelumnya, peningkatan kredit bisa mencapai di atas 50 persen. Ini wajar, karena Juli hingga Agustus, musim orangtua membiayai anak masuk perguruan tinggi,” dalih Haryadi.
Suprapti (40), warga Desa Menturo, Kecamatan Sumobito, salah satu nasabah mengaku datang ke pegadaian untuk meminjam uang. Untuk itu ia menyerahkan seuntai kalung emas sebagai jaminan.
Semua itu demi anak pertamanya yang hendak memasuki bangku SMA. Lembaran rupiah hasil menyekolahkan perhiasan di pegadaian itu akan digunakan untuk biaya anaknya masuk sekolah.
“Sekolah gratis hanya ada di iklan. Buktinya, anak saya yang masuk SMA harus membayar sekitar Rp 4 juta. Karena tidak punya uang, terpaksa saya menggadaikan perhiasan. Yang penting anak saya bisa sekolah,” kata Suprapti ketika antre di depan juru taksir Kantor Pegadaian Cabang Jombang.
Meski tidak setinggi Jombang, peningkatan juga terjadi di Perum Pegadaian Kantor Wilayah Utama Surabaya yang dipimpin Puryoto. Ia mengungkapkan, sejak awal Juni permintaan kredit di meningkat sekitar 20 persen dibanding bulan-bulan sebelumnya, sesuai siklus tahunan yang bersamaan dengan tahun ajaran baru. Banyak orangtua menyekolahkan barangnya untuk membayar biaya pendidikan anaknya.
“Kenaikan ini ditopang tujuan kredit untuk biaya sekolah. Namun, bedanya tahun ini peningkatan permintaan ini agak panjang, mengingat waktunya yang nyambung dengan Ramadan dan Lebaran,” kata Puryoto, Rabu (29/6).
Disebutkannya, rata-rata barang yang digadaikan nasabah adalah emas perhiasan dengan nilai kredit yang diajukan di kisaran Rp 1,5-2 juta per nasabah. Angka sebesar itu, diakuinya cukup bagi nasabah untuk menopang kebutuhan mereka, seperti untuk biaya anaknya sekolah.
“Jenis barang yang digadaikan sekitar 98 persen emas perhiasan, dengan jangka waktu kredit atau pelunasan empat bulan. Meski sebetulnya kami tak hanya menerima emas perhiasan saja, namun juga bisa barang elektronik, juga kendaraan bermotor,” jelas Puryoto.
Ia memahami dominasi emas perhiasan maupun logam mulia lainnya yang dijadikan agunan oleh nasabah. Selain karena gencarnya sosialisasi yang dilakukan perusahaan umum tersebut terhadap masyarakat luas, emas masih dianggap sebagai alat investasi yang aman dan minim risiko kerugian bagi pemiliknya.
Ia memprediksi, peningkatan permintaan nasabah tersebut masih akan berlangsung hingga akhir Agustus atau mendekati Lebaran. Seperti yang terjadi selama ini, mendekati momen Ramadan atau Lebaran, banyak kebutuhan masyarakat yang meningkat, seperti membeli barang-barang kebutuhan Lebaran atau bahkan pengusaha yang akan memberikan tunjangan hari raya (THR) bagi karyawannya. “Saya memprediksi tiga bulan ini permintaan gadai akan meningkat,” tandasnya.
Ditambahkan Puryoto, selama ini nilai kredit yang dikucurkan Perum Pegadaian di wilayah Jatim cukup besar, dengan rata-rata di kisaran Rp 600-700 miliar per bulan. “Jumlah ini cukup besar. Karena potensialnya pasar di Jatim ini pula, kami kami akan menambah jumlah outlet di Jatim tahun ini sekitar 66 outlet dari total 451 outlet pada tahun lalu. Ini untuk mendekatkan diri ke konsumen,” pungkasnya.
Penulis : fai/rie/uto/dio
Editor : Sugeng Wibowo