
Kepala Unit Pelaksana Teknis Pendidikan Pelatihan dan Promosi Ekspor (UPTP3E) Disperindag Jatim (pengelola EJCC) Anik Mulyandari. Foto: Surya/Bib.
Produksi berlimpah tetapi bingung kemana memasarkan barang? East Java Craft Center (EJCC) bisa jadi alternatifnya. Jika Anda pelaku UKM yang memroduksi barang secara kontinyu, tetapi terkendala ekspansi pasar, carilah ruang-ruang pamer yang disediakan secara cuma-cuma oleh pemerintah daerah setempat.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Pendidikan Pelatihan dan Promosi Ekspor (UPTP3E) Disperindag Jatim (pengelola EJCC) Anik Mulyandari mengatakan, semua produk UKM bisa dipajang di EJCC, namun dengan kriteria dan persyaratan tertentu.
“Tidak dipungut biaya sama sekali, baik untuk operasional maupun administrasi karena sudah ditanggung APBD Jatim. Tetapi lama pajangannya hanya sampai enam bulan karena bergantian dengan produk UKM dari daerah lain,” kata Anik. Jumlah UKM yang pernah berpartisipasi dalam EJCC tercatat, 220 pelaku UKM sejak didirikan 2–3 tahun silam
UKM yang bisa memajang produknya yakni, UKM yang telah berproduksi, bukan UKM pemula yang coba-coba. Minimal ia telah memiliki pasar domestik dan produk yang dipajang bisa apa saja, dan pernah mengikuti pelatihan ekspor impor yang diselenggarakan UP3E ini.
“Pelatihannya gratis, tinggal antri daftar saja. Kalau dari kota/kabupaten lain di luar Surabaya bisa direkomendasi Disperindag kota/kabupaten setempat (pembiayaan pemberangkatan bisa oleh Disperindag setempat atau pribadi). Pelatihannya bisa 2–3 kali dalam sebulan dengan mentor para praktisi berpengalaman di bidang ekspor impor,” yakinnya.
Pelaku UKM akan mendapatkan beragam materi seperti, bagaimana mengemas produk agar menarik, mencari kontak dagang, bagaimana memulai ekspor, pendalaman tata niaga ekspor sampai telekonferensi dengan UKM berpengalaman yang ada di luar negeri.
“Setelah ikut pelatihan, UKM diberi kesempatan memperbaiki produknya, baru kemudian dipajang di EJCC. Jangan lupa, produknya juga harus siap jika sewaktu-waktu dibawa pameran ke luar kota maupun luar negeri. Artinya, stok produk harus mencukupi. Intinya produk itu harus kreatif dan menarik. Bisa kerajinan tangan, aksesoris, tas, sepatu, furnitur, home decoration, makanan, sampai fashion,” pungkas Anik. ame
Penulis : ame
Editor : Heru Pramono