
MATI PELAN-PELAN - Sapi-sapi Brahman di Bullo River Station akan ditembaki ketimbang mati kehausan. FOTO:DISCOVERAUSTRALIA.COM.AU
CANBERRA | SURYA Online - Larangan ekspor ternak sapi hidup ke Indonesia oleh pemerintah Australia membuat marah seorang peternak raksasa yang akhirnya memutuskan menjual peternakannya.
Bullo River Station di Northern Territory merupakan peternakan besar dan terkenal. Namun pemiliknya memutuskan menjual asetnya itu, Rabu (29/6/2011), karena larangan ekspor itu dianggapnya telah menghancurkan hidupnya.
Keputusan menjual peternakan itu menjadi bukti terkini sulitnya ekonomi menyusul larangan yang berlaku mulai 8 Juni itu, meski hanya berlaku selama enam bulan.
Peternakan seluas 160.000 hektare itu sangat terkenal dan dimilik keluarga Sara Henderson. Henderson sendiri telah menulis otobiografi From Strength to Strength yang terdiri atas enam buku dan diterbitkan pada 1993.
Buku itu menggambarkan perjuangan keluarga itu dalam mengelola peternakan yang di Australia disebut stasiun ternak, setelah suaminya Charlie Henderson wafat pada 1985. Sara Henderson pensiun dari usaha itu sebelum meninggal pada 2005 pada usia 68 tahun.
Putrinya, Marlee Ranacher, yang kini memiliki peternakan itu, menyebut larangan ekspor itu merupakan jerami terakhir bagi dia dan peternak lain seperti di Northern Australia.
“Andai ada cara yang bisa saya lakukan untuk mengubah keputusan itu, akan saya lakukan,” kata Ranacher kepada radio ABC, soal keputuannya untuk menjual Bullo River Station.
“Saya berharap ada mujizat, tetapi ternyata tidak ada. Ini jelas jerami terakhir, karena pemerintah, saya yakin, secara legal dan moral telah abai untuk melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan,” katanya menambahkan.
Australia merupakan negara pengekspor ternak hidup terbesar. Banyak peternak yang bergantung pada ekspor ke Indonesia yang nilainya mencapai 330 juta dolar Australia per tahun, karena tidak ada rumah jagal berskala besar di Australia utara, sedangkan kawasan tenggara Australia tempat sebagian penduduk negeri itu tinggal terlalu jauh.
Ranacher mengatakan, peternakannya tidak menjual seekor pun ternak sejak musim hujan mulai Oktober 2010. Namun, kini musim kering saat perdagangan dimulai lagi, 8.000 ekor sapi Brahman-nya tidak bisa dijual kemana-mana. Padahal sapi-sapi itu khusus diternakkan untuk pasar Indonesia.
Dia mengaku tidak bisa mendapatkan minyak solar untuk menggerakkan mesin diesel untuk menyedot air bawah tanah untuk minum sapi-sapi itu.
“Saya tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan selain mulai menembaki mereka (sapi-sapi itu). Saya tidak tahan melihat mereka mati satu persatu karena haus,” katanya.
Salesman Bullo River Station, Andrew Gray, mengatakan Bullo River merupakan peternakan pertama yang dijual sejak larangan ekspor ke Indonesia itu diberlakukan. Ia berharap tidak ada peternak lain yang mengikuti jejak Bullo.
Sumber : AP
Editor : Adi Sasono