
KOSONG - Rumah keluarga Ny Siami di Jl Gadel Sari Barat, Tandes, sepi setelah ditinggal penghuninya, Jumat (10/6). Foto: surya/faiq nuraini
SURABAYA | SURYA - Ny Siami (38) yang diusir ratusan warga setelah melaporkan guru SDN Gadel II yang memaksa anaknya, Al, memberikan contekan kepada teman-temannya saat Unas, 10-12 Mei 2011 lalu, akhirnya menuruti kemauan warga.
Siami telah meninggalkan rumahnya di Jl Gadel Sari Barat lantaran tak tahan dengan tekanan dan gelombang demo warga. Mereka kini mengungsi di Solo. Perempuan yang dikenal pekerja keras itu mengajak suami dan dua anaknya. Solo adalah kota kelahiran suami Siami, Widodo.
“Adik saya tadi malam langsung menghubungi. Dia tidak tahan dengan kondisi yang menimpa keluarganya. Sampai-sampai dia tidak mau makan. Adik saya ingin hidup tenang,” ucap Satim Heri Santoso, kakak kandung Siami, Jumat (10/6). “Setahu saya, Al dan adiknya juga diajak naik bus ke Solo,” tambah Satim.
Dia menuturkan, pascakericuhan saat pertemuan dengan warga di Balai RW 02, Kelurahan Gadel, Siami dan suaminya Widodo tak berani pulang. Siami dan keluarganya diamankan di Mapolsek usai kericuhan. Selama lebih dari dua jam, orang tua Al ini tinggal di kantor polisi. Mereka diminta menunggu kondisi kampungnya aman. Namun hingga pukul 14.00 WIB tetap belum kondusif, sehingga keluarga Al memilih ke Gresik lalu ke Solo. Gresik adalah daerah kelahiran Siami.
Pantauan Surya, rumah Siami bercat krem dengan pagar yang masih baru itu tampak terkunci. Di dalam rumah ini juga tidak tampak kehidupan sama sekali. Menurut Warisah, tetangga yang rumahnya berhadapan dengan Siami, rumah itu tak berpenghuni sejak, Kamis.
Hingga Jumat siang, masih banyak warga yang membicarakan kisah Siami dan Al. Rata-rata mereka tetap menyalahkan keluarga Siami. Menurut warga, menyontek adalah hal biasa untuk anak kecil.
Warisah mengakui, warga sebelumnya sangat simpatik dengan keluarga Siami. Dia dikenal sebagai pekerja keras menjadi penjahit gorden. Sementara suaminya, Widodo, bekerja di kompleks perindustrian Margomulyo.
Keluarga ini baru enam tahun tinggal di Gadel Sari Barat. Mereka membeli sebidang tanah milik warga dan mendirikan rumah berukuran sekitar 8 x 15 meter. Rumah itu tampak mentereng belum genap setahun terakhir. “Keluarga Bu Siami sebenarnya bagus sosialisasinya. Bahkan Pak Widodo dipilih sebagai wakil Ketua RT 04,” kata Warisah kembali.
Camat Tandes, Suharto, menyatakan, pihaknya sudah berusaha meredam emosi warga dengan mengadakan mediasi. Pihak muspika juga sudah melakukan pendekatan personal kepada warga Gadel. Sementara itu, mediasi lanjutan yang rencananya digelar Kamis malam gagal. Warga yang mengusir keluarga Siami rencananya kembali akan menggelar mediasi bersama anggota DPRD Kota Surabaya dan muspika dalam waktu dekat.
Sementara itu, Siami mulai banyak mendapatkan dukungan. Di antaranya, justru datang dari rekan-rekan guru yang tergabung dalam Ikatan Guru Indonesia (IGI), sebuah organisasi profesi guru yang beranggotakan para guru seluruh Indonesia.
Ketua IGI, Satria Dharma menyerukan perlawanan terhadap aksi pengusiran terhadap keluarga Ny Siami dan anaknya Al. “Kita harus melawan kemungkaran dan menegakkan kejujuran. Jangan sampai para wishtle blower (pengungkap skandal) justru menjadi korban amuk massa. Kami mengajak seluruh warga Surabaya membela Al dan keluarganya. Ayo semua warga Surabaya membantu bagi masa depan pendidikan Al,” tegas Satria Dharma dalam rilis kepada Surya, Jumat (10/6).
Sekjen IGI Mohammad Ihsan menambahkan, masyarakat tidak boleh menghakimi Al dan keluarganya. “Mereka ini pahlawan kejujuran. Mereka harus dibela dan bukan diusir,” kata Ihsan.
Ihsan menuturkan, kecurangan Unas terjadi di sejumlah daerah. “Guru dan siswa kita harus berani membuka semua kecurangan. Jadilah pahlawan seperti mereka. Jangan simpan kecurangan Unas,” tegas Ihsan.
Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur Priono Adi Nugroho mengatakan, pihaknya siap mendampingi Al, putra Siami yang dipaksa memberikan contekan. “Kami sudah minta empat staf saya untuk mendampingi Al,” katanya dilansir Antara.
Menurut Priono, umur Al yang masih anak-anak tersebut tidak semestinya menerima kenyataan tersebut, karena jika dibiarkan berlarut-larut akan mengganggu psikologisnya.
Kasat Binmas Polrestabes Surabaya AKBP Sri Setyo Rahayu menyatakan, polisi akan bertindak jika warga masih tetap mengusir keluarga Siami. Menurutnya, tindakan oknum warga itu bisa dikategorikan sebagai perbuatan tidak menyenangkan. “Ini kan negara hukum, jadi jangan bertindak seenaknya hingga mengganggu keamanan dan ketertiban. Polisi bisa bertindak tegas jika dibutuhkan,” ujarnya.
Sosiolog dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Bagong Suyanto menilai, warga dan pelapor kasus contekan massal di SDN Gadel II, Kecamatan Tandes, Kota Surabaya, sama-sama menjadi korban atas Unas. “Kalau saya lihat, kedua pihak itu menjadi korban fenomena tentang dunia pendidikan yang terjadi belakangan ini, karena keduanya sama-sama mengalami ketakutan yang berlebihan terhadap ujian nasional,” katanya, Jumat (10/6).
Namun, menurutnya, reaksi masyarakat Gadel dalam menyikapi kasus contekan massal SDN Gadel II itu cukup berlebihan karena bisa mengarah pada persoalan kriminal.
Bagong juga mengatakan, kasus ini dapat menjadikan pengalaman traumatik yang akan membekas pada diri Al. “Kasihan itu keluarga pelapor. Pemerintah harus memberikan jaminan keamanan, serta jaminan bersekolah dengan nyaman, kalau tidak itu akan menjadi trauma tersendiri bagi korban,” katanya.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, keluarga Siami dan putranya Al adalah keluarga jujur, tapi masyarakat yang belum siap. Soal pemberian sanksi pemecatan terhadap kepala sekolah dan dua guru kelas VI SDN Gadel 2, memang sudah ada aturannya. “Karena yang bersangkutan melanggar saat ujian nasional, maka ada sanksinya sehingga semua pihak harus menerimanya,” katanya. Disinggung jika masyarakat tidak puas dan mengajukan tuntutan, Risma mempersilakan, sebab keputusan yang diambil tersebut sudah sesuai dengan aturan.
Penulis : fai/k2
Editor : Sugeng Wibowo