SURABAYA | SURYA. Online - Tiga peserta tuna netra atau buta mengikuti ujian seleksi masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) di Surabaya, Selasa (31/5/2011).
Mereka tetap berjuang meski tak bisa melihat soal demi berebut kursi PTN bersama 36.436 peserta normal lainnya.
Ketiga peserta buta dalam ujian tersebut adalah Karnadi dan Fitria Citraningrum, asal Lamongan, dan Siti Nurjanah asal Surabaya.
Ketiganya ikut berjuang memalui ujian tulis untuk memilih progam studi yang mereka impikan.
“Saya mau masuk pendidikan luar biasa ke Unesa. Saya ingin memberikan ilmu dan membantu meraih pendidikan bagi anak-anak tuna netra,” ucap Fitria saat ditemui usai mengerjakan tes potensi akademik di kampus
Universitas PGRI Adibuana.
Fitria harus mengerjakan dengan didampingi secara khusus. Karena panitia SNMPTN tak menyediakan soal braile, mereka mengerjakan dengan didiktekan. Pendamping ini pula yang mengarsir jawaban di lembar jawaban komputer.
“Matematikanya yang sulit. Saya menjawabnya dengan feeling. Saya juga tak bisa orek-orek soal karena dibacakan. Tapi yang Bahasa Indonesia mudah,” ucap Fitria yang hanya bisa menyelesaikan 55 soal dari 75 soal tes potensi akademik hari peretama.
Endang Puji Astutik, pendamping yang diambilkan dari dosen Unesa mengakui bahwa peserta buta cukup kesusahan. “Selain tak ada waktu tambahan, waktu tersita dengan cara dibacakan begini,” kata Endang.
Secara umum, pelaksanaan SNMPTN di Panlok 50 Surabaya berjalan relatif lancar. Puluhan ribu peserta SNMPTN itu sudah memadati setiap tempat ujian di kampus-kampus dan sekolah di seluruh Surabaya. Ada banyak peserta yang telat. Ujian sendiri dimulai pukul 08.00 WIB.
Editor : Adi Sasono