Home » Berita Terkini
Kawanan Copet Bemo Digulung

Tidak Segan Lukai Penumpang

SURABAYA l SURYA Online- Untuk kesekian kalinya Sarman berurusan dengan polisi dalam kasus pencopetan di atas bemo. Warga Jl Jepara itu ditangkap Unit Jatanum Sat Reskrim Polrestabes Surabaya bersama empat kawanannya.

Empat rekan Sarman, antara lain, Edi Setiawan (40), warga Jl Kedondong Kidul,  Munasrip (54), asal Jl Tambakasri serta Mat Sali (50) dan Priyono (43), keduanya warga Jl Krembangan Bhakti. Polisi menyita dua ponsel hasil curian dari tersangka.

“Mereka ini komplotan pencopet yang selalu beraksi di atas bemo jurusan Surabaya-Gresik. Sasaran yang mereka incar bukan hanya perempuan, lelaki dewasa pun tak luput dari pantauan,” tegas Kasat Reskrim AKBP Anom Wibowo melalui Kanit Jatanum Iptu Yunus Saputra, Senin (30/5).

Terakhir, komplotan ini mengincar korban Muhammad Mahfudin (34). Kebetulan, warga Jl Gading Madya itu duduk sendiri di atas bemo. Komplotan ini naik satu per satu dengan jarak yang tidak terlalu dekat. “Mereka beraksi di kawasan Margomulyo,” ungkap Yunus.

Komplotan ini beraksi layaknya pencopet profesional. Priyono sengaja duduk di sebelah korban. Berpura-pura gerah, Priyono berusaha membuka jandela bemo yang ada di belakang korban. Otomatis korban membungkukkan tubuhnya.

Begitu tubuh korban maju, Edi yang ada di depan korban langsung merogoh kantong baju korban. Dalam hitungan detik, ponsel korban pun berpindah tangan. “Begitu ponsel sudah saya ambil, saya imbalkan ke Sarman,” terang Edi.

Aksi Edi dan Priyono berjalan mulus karena Mat Sali dan Munasrip mengalihkan perhatian penumpang lain agar tidak melihat aksi dua rekannya tadi. Seketika ponsel korban dimatikan agar tidak berbunyi.

Namun, menurut Sarman, aksi itu tergantung posisi korban. Kalau korban berada di pojok, maka orang yang terdekatlah yang menarik perhatian korban. “Yang penting korban bawa ponsel, kami bisa saja mengambilnya meskipun dia duduk di mana saja,” ujarnya.

Lucunya, saat dilakukan reka ulang kemarin, para tersangka terlibat adu mulut. Ini setelah Edi yang tampak malu-malu disorot kamera wartawan. Tersangka lain menganggap sikap kuli bangunan itu menghambat reka ulang.

Wes ta awak dewe iki kadung mlebu. Wes ben anak bojo karo putu ngerti kabeh. Wes ayo ndang mari, ndang wes (Kita sudah telanjur masuk. Biarkan anak, istri dan cucu tahu semua. Biar cepat selesai semuanya, Red),” gerutu Munsarip.

Berdasarkan catatan polisi, komplotan ini sudah beraksi lebih dari 20 lokasi. Dalam seminggu, biasanya mereka beraksi sebanyak dua kali. Setiap beraksi, minimal empat sampai lima ponsel mereka dapatkan. k2

Penulis : k2

Editor : Heru Pramono

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "