Home » Berita Terkini » HotNews » Surabaya Metro

Pria Malaysia Ingin Cicipi ABG Surabaya Malah Ditangkap

PEDULI TRAFFICKING - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (kiri) mewawancarai germo dan salah satu korban trafficking di Mapolsek Dukuh Pakis, Senin (30/5). Foto: surya/dyan rekohadi

SURABAYA | SURYA - Reputasi prostitusi di Surabaya yang melibatkan remaja di bawah umur rupanya menarik perhatian seorang warga Malaysia untuk mencicipi. Melalui rekannya yang warga Indonesia, pria Negeri Jiran itu pun bertransaksi dengan dua remaja.

Namun niat itu gagal karena sepasukan polisi keburu menangkap mereka, berikut seorang perempuan muda yang diduga menjadi mucikari. Pasukan Reskrim Polsek Dukuh Pakis menemukan dua remaja putri pelajar kelas IX SMP ditemukan di dua kamar berbeda di sebuah hotel di kawasan Pakis Argosari, Minggu (29/5) sore. Mereka, Fi (14) yang tercatat tinggal di Jl Indrapura dan De (15) warga Jl Bangunrejo berada di kamar hotel untuk melayani dua laki-laki dewasa yang membooking mereka.

Saat itu De dan Fi sudah telanjang bulat dan mengaku baru masuk kamar hotel, belum sempat berhubungan badan. Polisi selanjutnya langsung menggiring dua remaja perempuan itu berikut dua pria pasangan mereka ke Mapolsek Dukuh Pakis.

Dua pria yang menjadi pasangan kencan kedua ayam SMP itu diketahui bernama Chee Ngeok Him (55) seorang WNA berkewarganegaraan Malaysia dan Yantoni Krisna (59) warga Jl Kedungdoro. Selain keempat orang itu, polisi juga menahan Ic (18) warga Dupak Bangunsari VII yang dituding sebagai mucikari di sebuah mal di pusat kota Surabaya.

Dari pemeriksaan, Fi duduk di bangku kelas IX sebuah SMP swasta di kawasan Tanjung Perak dan De di sekolah swasta di kawasan Demak. Kepada polisi, mereka mengaku ditawari dan dirayu Ic untuk melayani kedua pria yang lebih pantas menjadi kakek mereka itu.

“Dia telepon saya dan mengatakan ada ‘acara’ dan minta kami datang, kami awalnya menolak tapi saat diajak ke mal (menyebut nama sebuah mal di pusat kota) akhirnya kami datang,” ujar Fi. Acara yang dimaksud adalah kencan berbayar.

Di mal itu, mereka bertemu Ic yang datang bersama Chee Ngeok Him karyawan sebuah perusahaan di Kalimantan. Tapi setelah berjalan-jalan sebentar, dua remaja putri itu langsung diajak Chee pergi menuju hotel.

Saat tiba di hotel, Chee mengajak keduanya masuk ke kamar 111 yang sudah dipesan. Tidak berhenti sampai di situ, Chee lalu menghubungi rekan bisnisnya Yantoni untuk datang ke hotel dan dipesankan satu kamar lagi yakni kamar 113.

Kanit Reskrim Polsek Dukuh Pakis AKP Mardjoko mengatakan, Fi dan De mendapat tawaran melayani dua laki-laki itu dengan harga berbeda. Fi dijanjikan mendapat imbalan Rp 1 juta sedangkan Dede dihargai Rp 1,5 juta. “Dede lebih mahal karena dia mengaku masih perawan,” ujar Mardjoko.

Pengakuan itu dibantah Ic. Perempuan yang sedang mengandung lima bulan ini ngotot mengatakan bukan mucikari bagi kedua ABG itu. “Mereka itu sering curhat, dan nangis-nangis ke saya minta dicarikan om-om,” ujar Ic saat ditemui di Mapolsek Dukuh Pakis, Senin (30/5) siang.

Perempuan berperawakan kecil itu memaparkan, dirinya dan Fi sudah saling kenal sejak enam bulan terakhir. Sedangkan De adalah teman lama karena mereka tinggal di kawasan yang sama di Bangunsari . “Mereka bilang butuh uang untuk bayar kos dan biaya ke dokter karena sakit. Saya hanya mempertemukan mereka dengan laki-laki itu, selanjutnya urusan mereka,” tambah Ic.

Namun polisi menyakini Fi dan Ic bukan orang baru di dunia prostitusi remaja. Bahkan Fi mengaku sudah dua kali melayani Chee. Sedangkan Ic juga mengaku pernah menjual diri setelah ditawarkan rekannya pada om-om.

Kapolrestabes Surabaya Kombes Polisi Coki Manurung yang datang langsung ke Mapolsek Dukuh Pakis, Minggu (29/5) malam, menyatakan, penggerebekan dilakukan anggota Polsek Dukuh Pakis bermula dari informasi masyarakat yang mencurigai keberadaan dua gadis remaja bersama pria asing.

“Anggota bergerak cepat menanggapi laporan itu dan bisa menangkap basah mereka di dalam kamar,” ujar Coki.

Sementara itu Kapolsek Dukuh Pakis Kompol Rakidi menyatakan, kedua pelajar SMP yang ditetapkan sebagai korban penjualan manusia masih diperiksa dan diantarkan untuk menjalani terapi dan visum di RS Bhayangkara Polda Jatim. Ic ditetapkan sebagai tersangka pelaku penjualan manusia.

Sedangkan dua pria yang menggunakan jasa seks kedua perempuan di bawah umur itu kini statusnya masih sebagai terperiksa. “Mereka masih diperiksa, satu orang yang warga Surabaya itu masih sulit diperiksa karena stres, kami masih punya waktu 24 jam untuk memeriksa mereka,” ujar Rakidi.

Penulis : rey

Editor : Sugeng Wibowo

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "