Ahan Syahrul
Pegiat di Rumah Baca Cerdas Malang
syahrulahan@yahoo.co.id
Salah satu khazanah suporter di Indonesia yang memiliki fanatisme dan kecintaan tak terukur terhadap klub kesayangannya adalah aremania. Selain beberapa suporter yang cinta mati pada klubnya, seperti bonekmania, jakmania, LA mania. Mengamati aremania sebagai kajian sosial dan telaah keilmuaan akan sangat menarik. Terlebih bila, aremania dipotret dari sudut pandang posmodernisme.
Sebagai penggembira yang mendukung Arema untuk selalu memenangi pertandingan, aremania mengilustrasikan bentuk dukungannya lewat atraksi, bernyanyi, menari dan berjingkrak sepanjang pertandingan. Dicermati dari dekat dengan menonton di stadion, ada hal unik dari ‘orkestra’ bernama aremania yang belum tentu bisa ditemui di stadion manapun. Mereka terbagi dalam kelompok-kelompok sendiri. Pendukung di timur lapangan yang lebih banyak biasanya benyanyi terus menerus tanpa kenal lelah dalam satu komando dirijen. Ada sekolompok suporter di selatan gawang melakukan hal yang sama, dengan dirijen berbeda. Lagu berbeda dinyanyikan, terdengar lebih lirih (karena lebih sedikit) deengan arus utama suporter di timur lapangan. Namun jangan tanya soal militansi dan kecintaan. Bukan soal perpecahan dalam tubuh suporter, melainkan warna khas aremania di mana mereka memang tak bisa disatukan dalam satu tempayan besar yang hegemonik. Sejatinya mereka semua lebur dalam satu jiwa. Barangkali ini yang disebut Lyotard sebagai narasi-narasi kecil, dianggap liyan oleh Gunawan Mohammad. Di sini sebenarnya letak keindahan di mana perbedaan bisa tetap tumbuh subur dengan berbagai kreativitas dan inovasinya.
Potret hidupnya narasi-narasi kecil dalam supoter aremania tercermin dari model kebersatuan mereka tanpa pemimpin tunggal. Wadah suporter ini bukan menjadi milik salah satu orang. Dalam praksisnya dikenal istilah korwil untuk setiap wadah aremania. Beda daerah, beda karakteristik, cara dukung, nama, tapi semangat identitas mereka tetap satu, aremania. Khazanah pluralisme dan kearifan lokal yang tak hanya secara teoritik melainkan dipraktikkan dalam alam nyata. Belajar dari aremania, kita diajak memahami bagaimana setiap perbedaan bisa tumbuh subur dengan sikap toleran. Pelajaran kesadaran tentang hal-hal lain yang mungkin tersisihkan (baik itu benda, suku, bangsa, orang, budaya) yang sebetulnya membantu manusia untuk mengurai jatidiri yang hakiki.
Dengan kesadaran liyan kita diharap mampu memetik hikmah tentang berbagai keragaman hidup, sehingga bisa saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Dalam konteks membandingkan aremania dan posmodernisme, di mana posmodernisme secara sadar mendukung faham relativisme dan pluralisme, yaitu bahwa kebenaran itu relatif dan beragam. Meminjam istilah Wittgenstein, setiap kelompok (habitus dalam istilah Bordieu) memiliki language games-nya masing-masing, dalam tubuh aremania realitas tersebut tumbuh secara niscaya.
Maka, posmodernisme aremania meniscayakan penerimaan dan pengakuan atas keragaman dan pluralisme dalam tubuh suporter arema sendiri. Dalam perkembangan yang paling dahsyat mengarah pada inklusivisme di mana setiap korwil tak lagi bisa menganggap klaim sebagai suporter sejati arema satu-satunya sebab di luar dirinya ada kebenaran yang lain (the others) yang juga harus diakui. Barangkali aremania adalah simbolisasi nyata tentang perbedaan adalah rahmat yang patut ditiru tak hanya oleh suporter bola di Tanah Air, tapi juga oleh semua komponen bangsa. Untuk bisa memahami berbagai perbedaan, pluralitas dan kemajemukan yang menjadi takdir universal.
Editor : tri