
RONGSOKAN - Lapak rongsokan besi tua menjadi ciri khas Kampung Sidotopo, seperti terlihat di Jl Sidotopo, Surabaya. Foto: surya/ahmad zaimul haq
Di belahan Utara Surabaya ada salah satu kampung lama yang penduduknya sebagian besar mengais rezeki dari jual beli besi tua dan rongsokan. Warga Surabaya mengenal kampung ini dengan sebutan Kampung Sidotopo.
Wiwit Purwanto
Surabaya
Bahkan banyaknya warga yang melakukan aktivitas jual beli besi tua ini mencakup lebih dari separuh wilayah RW.
Dari 12 lingkungan RW yang ada, tujuh RW sebagian besar warga Sidotopo melakukan aktifitas sebagai pedagang jual beli besi tua dan rongsokan.
Sebagai kampung yang sudah lama bercokol, wilayah Sidotopo ini sudah sangat padat penduduknya.
Jalan jalan kecil yang masuk ke gang gang atau yang berada di pinggir jalan raya semuanya sudah dipenuhi dengan rumah penduduk. Kampung Sidotopo ini dari hari ke hari terus bergeliat, perkembangan semakin pesat ketika Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura dibuka.
“Salah satu akses jalan menuju ke Jembatan Suramadu ini lewat Jalan Raya Sidotopo, jadi semakin kampung ini tambah ramai,” kata Hanafi, Sekretaris Kelurahan Sidotopo.
Kendaraan besar yang mengangkut barang barang hingga bus antar kota jika hendak ke Suramadu setelah melalui Tanjung Perak akan lewat Jalan Sidotopo.
Kampung Sidotopo sendiri sebenarnya sangat luas.
Wilayahnya bahkan mencakup hingga kawasan Simokerto, Simolawang, Sidodadi, sebagian Tambakrejo, Sidotopo Wetan dan Ampel. Karena perkembangan jumlah penduduk yang sangat cepat, lingkungan Sidotopo akhirnya di pecah menjadi beberapa kelurahan. Termasuk wilayah Sidotopo Wetan yang juga menjadi kelurahan sendiri.
Secara geografis Kampung Sidotopo berbatasan dengan Kampung Pegirian di bagian Utara, dengan Kampung Simolawang di sisi Selatan, disebelah Timur dengan Kampung Simokerto dan disisi Barat dengan Kampung Ampel.
Karena itulah saat ini makam leluhur dari Kampung Sidotopo yakni Mbah Topo ada di kawasan Kampung Simolawang, tepatnya di Makam Sentono. Menurut Hasan Makam Mbah Topo ini berada di Kampung Simolawang itu sudah dari dulu,
“Sebelum dulu ada Kelurahan Simolawang kawasan itu masuk lingkungan Sidotopo, setelah ada pemekaran jadilah makam itu dikawasan Kampung Simolawang,” jelasnya.
Meski berada di Kampung Simolawang setiap tahunnya warga Sidotopo tetap melakukan takziah ke makam leluhurnya itu.
Selain Jalan Sidotopo sendiri, di kawasan ini juga terdapat sejumlah jalan yang sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda dulu, seperti Jalan Kunti, Jalan Pragoto, Jalan Sidorame dan lainnya.
Warga Sidotopo yang mayoritas keturunan Madura, menjadikan kampung ini sebagai kampung yang bernuansa Islam sangat kental. Buktinya di wilayah ini terdapat sedikitnya empat pondok pesantren.
Bahkan sebuah perguruan tinggi Islam Abu Tholib juga ada di kampung ini.
Bukan hanya kekhasan warga yang jual beli besi tua dan rongsokan saja yang menjadikan Kampung Sidotopo menjadi dikenal.
Tapi juga keberadaan Dipo PJKA yang ada di kawasan ini Sidotopo lebih dikenal namanya. Stasiun Kereta Api (KA) yang tidak digunakan untuk penumpang melainkan untuk perawatan dan perbaikan KA ini berada di Jalan Sidotopo Dipo.
“Sidotopo Dipo ini merupakan bengkel perawatan kereta api paling luas se jawa,” kata Hasan.
Menurutnya lahan PJKA di kawasan Sidotopo ini cukup mendominasi. Hampir separuh kawasan yang ada adalah lahan milik PJKA, seperti kantor kelurahan yang saat ini ditempati merupakan lahan PJKA. Begitu pula sejumlah perumahan warga yang ada di Sidotopo adalah perumahan PJKA.
Editor : Sugeng Wibowo