Home » Berita Terkini

Kenalkan Ludruk ke Teman-temannya di Jerman

Ludruk. Siapa yang di jaman serba gadget dan internet masih doyan dengan kesenian tradisional ini? Hampir di setiap pertunjukan ludruk bisa dipastikan penontonnya hanya puluhan atau belasan orang saja.

Achmad Pramudito

Surabaya

Tapi di antara yang belasan orang itu, rupanya ada seorang dara belia yang rajin setiap Jumat-Minggu nongkrong di panggung ludruk di THR Mall. Tak ada saudara atau teman sekolah yang menemani.

“Biasanya saya pulang sekolah izin orangtua ke THR. Saya penasaran dengan seni ludruk dan tak pernah bosan menyaksikannya,” tutur Isabella Angelita Jaya, Kamis (26/5).

Malam itu, gadis yang baru lulus dari SMAK Petra 1 Surabaya ini gabung bersama kelompok Ludruk Sempalan mementaskan cerita Ande-Ande Lumut di D’Kampoeng, sebuah restoran di Surabaya Town Square. Ini jadi pentas pertama bagi sulung dari dua bersaudara itu dan berhadapan langsung dengan penonton yang tentu lebih beragam ketimbang pengunjung pentas ludruk di THR Mall.

Sama sekali tak ada kesan demam panggung dalam gerak tubuh Bella, demikian dia biasa disapa. Aksi Bella yang memerankan Kleting Kuning sangat lepas dalam pertunjukan bertajuk Stamboel Soerabaia yang digelar dalam rangka HUT ke-718 Kota Surabaya itu.

Ludruk, menurutnya, bukan seni tradisional pertama yang diminati. Sebelumnya, putri pasangan Suryanto (almarhum)-Hj Endang Siti M ini sempat melirik seni tari. “Saya sangat berminat terhadap hal-hal yang terkait dengan kebudayaan. Saya pernah coba tari, tapi rupanya tak ada bakat disitu,” katanya.

Beruntung, ada Agus dan Ririn dari Ludruk Sempalan yang membuka tangan atas kehadiran Bella. Dan, hanya dalam dua bulan, gadis kelahiran Surabaya, 15 Februari 1993 ini jadi makin akrab dengan celetukan-celetukan khas pemain ludruk.

“Begitu saya masuk, saya jadi sadar ternyata dialog bernada humor itu tak mudah. Apalagi diucapkan dalam bahasa Suroboyoan, wah susah banget lo!” papar Bella yang bulan depan akan terbang ke Jerman untuk melanjutkan pendidikannya di Hannover.

Di Jerman itu, ia akan mengenalkan budaya Indonesia, khususnya Surabaya ke dunia luar. “Paling tidak, saat di Jerman nanti akan aku kenalkan ludruk ini ke teman-temanku di sana,” begitu harapnya.

Penulis : Achmad Pramudito

Editor : Heru Pramono

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "