Home » Citizen Reporter

Buah Tangan Bocah Pemulung

Sholahuddin Al-Fatih

Mahasiswa Bahasa Jerman, Universitas Negeri Malang
fath_elhaq@yahoo.com

Beli dong. Ini ada tempat pensil, gantungan kunci, stiker, murah-murah. Ini aku buat sendiri loh! Rayuan itu meluncur dari mulut mungil pemulung kecil yang biasa mengais botol bekas di sekitar kampus. Tampaknya, selain menjadi pemulung, ia juga memanfaatkan barang bekas yang ia kumpulkan menjadi kerajinan tangan. Kehidupan pemulung cilik ini menarik ditelusuri. Dari kegiatan mencari barang bekas hingga kejelian memanfaatkan waktu yang ada untuk mengenyam bangku sekolah. Bagi mereka belajar merupakan aktivitas menyenangkan walau kadang tanpa sarana memadai.

Himpitan ekonomi memaksa bocah pemulung ini merelakan sebagian waktunya yang seharusnya untuk bermain dan belajar dengan bekerja. Tak tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai di tambah rendahnya skill memperburuk kondisi orangtua mereka hingga merelakan anak-anak mereka bekerja. Orangtua mana yang rela melihat anak ingusan mereka bekerja mencari uang sendiri? Belum lagi risiko anak-anak mengalami kekerasan, pelecehan hingga kejahatan lain. Banyak yang menganggap mereka sebelah mata sebagai pengganggu saja. Namun, mereka sebenarnya memilki segudang prestasi. Banyak dari mereka yang setiap tahun berhasil menjadi bintang kelas. Sebagian mereka juga memiliki keahlian di berbagai bidang, dari menyanyi hingga seni kriya. Andai saja orang di sekitar mereka lebih peka terhadap kondisi mereka, tentu mereka akan menyediakan ruang bagi bocah pemulung untuk mengembangkan bakat dan kemampuan mereka. Misalnya dengan memberikan pelatihan membuat kerajinan tangan dari bahan bekas, cara mengolah sampah organik menjadi kompos, dan sebagainya.

Kegiatan pelatihan seperti di atas tidak membutuhkan ruang dan waktu yang banyak, hanya membutuhkan kesabaran dan keuletan serta sejauh mana hati nurani kita tergerak untuk memaksimalkan potensi para bocah pemulung tersebut. Banyak cara untuk menjadi cerdas. Keterbatasan bukanlah alasan untuk tidak produktif. Justru itu, keterbatasan seharusnya dimanfaatkan sebagai pelecut meraih kesuksesan. Hanya kemalasan dan kesombongan diri yang mampu menjadi tembok kokoh pemisah untuk berbuat baik kepada sesama. Sudah selayaknya kita mengapresiasi seni kriya buatan para bocah pemulung, karena mereka mampu menciptakan karya seni yang sesungguhnya bisa mengusik hati nurani kita untuk berbuat baik.

Editor : tri

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "