Home » Berita Terkini

‘Gudang Uyah’ Luput Perhatian

PENINGGALAN BELANDA - Sumo Wagiran dengan bata sisa bangunan yang diduga peninggalan zaman Belanda. Sayangnya tidak ada studi terhadap reruntuhan ini. Foto: surya/sudarmawan

PONOROGO | SURYA - Tumpukan bata menyerupai kaki-kaki bangunan candi, bukan pemandangan aneh bagi warga RT 03/RW 02, Dusun Tular, Desa Sukosari, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo.

Jumlahnya ada 99 buah yang tersebar di antara pekarangan milik Sumo Wagiran (65) dan Katiyem (60). Kendati bangunan ini diyakini peninggalan masa lalu, namun tidak ada warga setempat yang mengetahui, bekas bangunan apa gerangan.

Sumo Wagiran mengatakan, gundukan itu, sudah ada sejak zaman nenek moyangnya. Namun tak ada yang menceritakan secara detil, sejarah bangunan tersebut. Dia mengaku terganggu dengan adanya tumpukan bata tersebut, karena kesulitan untuk menggarap tanah pekarangannya.

Ada juga yang menyebutnya dengan ‘gudang uyah’ (gudang garam). Karena letak tanah pekarangan ini berada persis di tepi Bengawan Solo yang melintasi Desa Danyang. Diperkirakan, bata itu bekas bangunan gudang pada zaman Belanda. Garam dari luar daerah dibawa ke wilayah Ponorogo melalui perahu menyisir sungai dan lokasi itu dijadikan gudang utamanya.

Salah seorang pemerhati budaya, Antok Kartiko menjelaskan, dilihat dari unsur pembentuknya, batu yang digunakan memang mirip candi. Bedanya, sudah mengenal perekat bata. Dia mengira bata itu sisa pondasi bangunan zaman Belanda. “Untuk memastikannya, kami bakal berkoordinasi dengan BP3 Trowulan,” katanya.

Penulis : wan

Editor : Sugeng Wibowo

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "