
Pia Remo Aneka Rasa Dalam Kemasan. foto: Surya.bib
Ceruk pasar jajanan mungil bernama pia masih terbuka lebar meskipun banyak pelaku usaha yang bikin jajanan serupa. Soal rasa, harga, serta pemasaran, sangat mentukan laris tidaknya produk jajan itu di pasar. Pia Remo mencoba merangsek di pasar jajanan tradisional dengan beragam rasa yang ciamik. Isinya, ada buah-buahan mulai salak, apel, nanas, mangga atau durian. Selain rasa yang sudah ada pada umumnya seperti, cokelat, kacang kenari, keju, dan kurma.
DWI PRAMESTI YS
SURABAYA
Jajanan Pia Remo ini belum lama beredar di pasar. Baru mulai diproduksi sekitar tujuh bulan silam. Tetapi kini, setidaknya setiap harinya bisa terjual hingga 1.000 pieces.
“Awal usaha ini cuma coba-coba. Kami bertiga patungan modal Rp 1 jutaan buat beli bahan. Cara penjualannya pun dengan dititip-titipkan teman dan ikut pameran, tidak lewat ritel moderen atau buka outlet sendiri karena modalnya pasti harus lebih besar,” kata RA Puntorini yang akrab dipanggil Rini (52), Rabu (20/4).
Bersama dua rekannya yang lain, Dian Komarawati, 54 (bagian keuangan) dan Pangeran Chandra, 42 (bagian pemasaran), Pia Remo terus dikembangkan. Ordernya cukup bagus, terutama setelah ikut pameran di Jakarta Convention Center (JCC) atas undangan Bank Mandiri.
“Kami hingga saat ini sudah tiga tahun menjadi UKM binaan Bank Mandiri. Kala itu, saya dan Dian, mengelola usaha franchise burger,” kata Panca, panggilan akrab Pangeran Chandra, ditemui di tempat produksinya di kawasan Prapen Indah.
Keunikan rasa dari Pia Remo ini pada isi dan kemasannya. Isinya dibikin utuh, kemasan dibikin per pieces agar terlihat lebih higienis. “Kalau pia pada umumnya isinya dicampur, kalau pia ini jika isinya durian ya langsung diisi potongan buah durian utuh, kalau isi cokelat ya diisi cokelat batangan utuh,” jelas Rini.
Ia menuturkan, untuk membuat adonan pia lebih lekat, tidak digunakan minyak babi, sebagai penggantinya cuma mentega. “Sekali produksi, kita bikin isinya dulu, lalu disimpan di freezer agar jika sewaktu-waktu butuh langsung ambil,” jelasnya.
Pia Remo punya 11 rasa, mulai rasa kacang ijo dengan harga Rp 15.000 isi 10. Kemudian, rasa cokelat, kurma, keju, salak, apel, harga Rp 20.000 isi 10. Khusus rasa kacang kenari dan rasa durian harganya Rp 30.000 isi 10. “Kalau rasa mangga kan sifatnya musiman, jadi kami bikin hanya saat tertentu juga,” ujar Rini.
Produk ini, lanjutnya, masa berlakunya cuma seminggu, itupun harus disimpan dalam lemari es karena tidak menggunakan bahan pengawet. Oleh karena itu, kalau dipasarkan di ritel moderen seperti, Carrefour, Hypermart, Alfamart, masa berlakunya harus lebih panjang dan jumlah produksinya besar.
Panca menerima pesan antar minimal lima dos. Untuk wilayah Surabaya gratis biaya antar. “Kebanyakan yang pesan justru dari luar kota, karena kita promosi juga di facebook dan twitter. Banyak yang bilang harganya mahal karena packaging-nya memang kelewat mewah. Tetapi setelah tahu produknya, mereka malah beli lagi,” imbuh juragan elpiji ini.
Untuk pilihan bahan baku, diakuinya, dipilih yang berkualitas. Misalnya cokelat batangan diimpor dari Singapura, per hari bisa habis 10 kg, kacang kenari Ambon 2-5 kg per hari, kacang ijo 10 kg, Apel Malang 200 biji, durian potong dari supermarket buah Hoky.
“Produk ini memang premium, karena segmen yang murah sudah terlalu banyak pemainnya. Kami membidik wisatawan juga, tamu-tamu hotel, serta perkantoran. Turis-turis asing selama ini sangat menyukai produk Pia Remo ini,” ujarnya.
Rini menambahkan, jika pasar jajanan pia di Indonesia masih sangat terbuka, tergantung bagaimana mengemas keunikan rasa dan packaging-nya. “Kalau Jogja punya Pia Pathok, Bali punya Pia Legong, Surabaya punya Pia Remo. Kami berencana mau gandeng Dinas Pariwisata untuk perluasan pemasarannya,” yakinnya.
Menjelang Bulan Ramadhan ini, ia berencana membuat pia kemasan takjil yang dibikin dua pieces sebungkus. Promosinya direncanakan ke pengajian ibu-ibu, masjid, hingga panti asuhan.
Penulis : DWI PRAMESTI YS
Editor : Heru Pramono