Kata perencana keuangan Safir Senduk, jika ingin berwirausaha sebaiknya dimulai dari hobi. Urusan memasak yang menjadi bagian dari tugas utama bisa lho menjadi side job yang menghasilkan rupiah.
Betapa laris buku resep masakan. Melihat tingginya minat orang untuk memborong buku, tentunya tidak salah jika ada sebagian yang memang hobi membuktikan resep. Jika memang hobi mencoba resep, sebenarnya itu peluang usaha.
Dalam buku Mencari Penghasilan Tambahan, Safir menyarankan agar memulai dari hobi. Alasannya sederhana, jika diawali dari hobi maka orang akan bersemangat mencoba dan berinovasi terus-menerus. Dengan begitu, apabila usaha yang baru dimulai goyah, orang dengan mudah bangkit kembali karena dasarnya memang hobi.
Angin segar bertiup bagi penyuka eksperimen kue-kue basah. Saat ini lapak yang menjual kue basah banyak dipasang di lokasi strategis. Di pintu masuk perumahan, di pintu masuk pasar, di depan minimarket, di dekat keramaian, atau di dekat perkantoran. Etalasenya sederhana. Meja panjang dengan jajaran kue-kue basah. Tanpa perlu berpromosi, etalase yang menampilkan kue tok, lemper, donat, bikang, dan sebagainya sudah menjadi pemandangan menggiurkan. Apalagi jika penataannya diatur sedemikian rupa agar warnanya meriah.
Yayuk (34) sudah membuka kios kue basah sejak empat tahun lalu di daerah Ketintang, Surabaya. Usaha itu berawal dari donat yang beberapa tahun lalu booming. Ketika popularitas donat mulai menurun, Yayuk coba-coba membuat kue lumpur. Dari situ pembeli menanyakan kue jenis lain. “Saya kebingungan lalu mulai mengajak beberapa ibu di dekat rumah yang bisa memasok kue. Ternyata cara seperti itu lancar. Apalagi kemudian para pemasok kue basah ikut datang dan menitipkan dagangan,” kata Yayuk yang terpaksa menutup lapaknya karena ada dua tetangga yang ikut membuka usaha sejenis.
Agar tidak berebut pelanggan, Yayuk pun memindahkan lapak di lokasi yang lebih strategis tidak jauh dari Ketintang. Sekarang dia sudah mempunyai beberapa pemasok kue basah. “Lemper, arem-arem, kroket, pastel, lumpia, dan risoles disetori satu agen. Beberapa jenis kue lain dikirimi pemasok berbeda. Saya tinggal mencatat dan sore menghitung berapa yang laku,” tambah Yayuk. Dari setiap kue yang laku, Yayuk mengutip hingga 15 persen dari harga jual.
Sistem konsinyasi (barang dikembalikan jika tidak laku) cukup menguntungkan pemilik lapak. Pemilik lapak nyaris tidak menanggung risiko.
Jam Kerja Pendek
Modal awal yang cukup besar untuk menyewa tempat yang strategis. Santi (35) harus mengeluarkan Rp 5 juta untuk menyewa tempat di pintu masuk pasar di perumahan di Sidoarjo. Ketika mulai banyak yang menitipkan kue basah, Santi utang bank untuk menyewa lapak di pasar. Perhitungannya tidak meleset meski awalnya sang suami tidak setuju. “Katanya, jual onde-onde saja utang ke bank,” kata Santi tertawa.
Kini, dua lapak disewa untuk kue-kue basah. Dalam sehari lebih dari 40 jenis kue yang masing-masing berjumlah paling tidak sepuluh biji. Jika dari masing-masing kue Santi mendapat 10 persen dari harga jual yang rata-rata Rp 1.500, maka dalam sehari ia mendapatkan sekitar Rp 50.000. Itu baru dari kue basah. “Saya juga dititipi nasi bungkus, nasi krawu, sayur, gudeg, bandeng presto, pokoknya apa saja yang dititipkan saya terima asal itu bisa dimakan,” ujar Santi.
Setelah dipangkas retribusi pasar Rp 2.000, uang bersih yang diterima Santi cukup besar. Apalagi Sabtu dan Minggu pengunjung pasar dua kali lipat lebih banyak. Kue yang dijual juga lebih banyak. “Jika orang kantoran mendapat gaji Rp 2 juta, saya bisa lebih dari itu. Alhamdulillah,” katanya. Jangan lupa, Santi hanya membuka lapak ketika pasar buka, pukul 06.00—08.30. Sekarang dia juga buka sore hari, pukul 16.00—18.00 di depan ruko perumahan karena pasar tutup. Penghasilan sore memang tidak sebesar pagi, tetapi bukankah jam kerja Santi sangat pendek?
Jika Santi panen Sabtu dan Minggu, sebaliknya dua hari itu menjadi hari sepi bagi Yayuk karena kantor banyak yang tutup. “Pagi sebelum jam kerja adalah saat sibuk. Saya juga berusaha mengenal karyawati di masing-masing kantor di dekat kios. Siapa tahu mereka membutuhkan kue untuk rapat,” katanya.
Penghasilan Yayuk sangat ditentukan oleh jumlah kue yang laku. “Sebulan yah… bersih Rp 3 jutaanlah. Jauh lebih tinggi daripada gaji karyawan di sekitar kios meski saya harus bangun pagi untuk menyiapkan meja dan pulang setelah makan siang,” ujar Yayuk.
end
Penulis : end
Editor : Heru Pramono