Home » Berita Terkini
Pilih-Pilih Bahan Bangunan Alternatif untuk Rumah

Kian Dilirik meski Harga Naik

Membaiknya pasar properti tampaknya berdampak pada berkembangnya komponen pendukung, salah satunya bahan bangunan. Bukan hanya jenisnya beragam, namun bahan bangunan alternatif dan berteknologi yang kian mendapat tempat di masyarakat.

Sepuluh tahun lalu masyarakat seakan masih awam dengan rangka atap galvalum untuk bangunan rumah. Lima tahun lalu mungkin juga masih memandang sebelah mata dengan bata ringan. Bisa jadi, masyarakat masih meragukan kekuatan atau kenyamanan menggunakan bahan bangunan yang nonkonvensional itu.

Namun kini, hampir setiap hari ditemui aktivitas pembangunan yang fisik bangunannya menggunakan komponen alternatif ini.

Head of Department Sales and Marketing PT Viccon Modern Industry, produsen bata ringan Citicon, Lutfi Widyanto mengatakan, saat ini pangsa pasar bata ringan masih kecil dibanding batu bata konvensional. Tetapi, dalam perkembangannya cukup menggembirakan.

Itu terlihat dari rata-rata kenaikan permintaan hingga dua kali lipat setiap tahunnya. “Kami tak mengira lonjakan permintaan ini. Sehingga, memaksa kami menaikkan kapasitas produksi hingga 100 persen di bulan depan,” kata Lutfi, di Surabaya, Rabu (30/3).

Menurutnya, besarnya respons konsumen tak lepas dari kesadaran masyarakat yang berupaya menjaga nilai properti dan investasinya, bahkan menaikkan harga jual properti. Sebagai produk baru dan mengusung teknologi dengan value added, rata-rata bahan bangunan alternatif memiliki harga jual lebih mahal sedikit dibanding bahan konvensional.

Dengan kualitas lebih, selisih harga sekitar 10-20 persen lebih mahal, bahan alternatif ini tetap saja dilirik. “Bata ringan ini lebih tahan terhadap kebakaran dan gempa, namun memberi kenyamanan, secara keseluruhan nilai investasi kembali yang didapat jauh lebih besar,” ujar Lutfi.

Dirut PT Debindo Mitra Tama Dadan M Kushendarman mengakui, dalam perkembangannya bahan bangunan tak lepas dari inovasi dan teknologi maju, lebih berkualitas, sehingga nilai properti lebih bagus.

“Tren itu banyak diaplikasikan ke proyek properti sekarang ini,” ujar Dadan, yang menggelar Pameran Building Technology Expo di Convex Hall Grand City Surabaya, mulai Rabu (30/3).

Ia mengatakan, pasar properti Jatim tumbuh signifikan dalam setahun terakhir ini. Kondisi itu pula yang mendasari sejumlah produsen, seperti dinding, genteng, plafon, keramik, pintu, yang rata-rata menampilkan bahan bangunan alternatif, aktif melakukan penetrasi pasar.

“Target kami, pameran selama 5 hari yang diikuti 55 peserta dengan 100 merek bahan bangunan ini bisa meraup transaksi Rp 120 miliar,” katanya.

Sementara itu, Direktur PT Viccon Modern Industry Fenny Hartanto menambahkan, bahan baku bata ringan adalah pasir silika yang hanya didapat dari Tuban. Karena hujan terus-menerus, belakangan pasokan bahan baku tersendat, sementara permintaan melonjak.

Kondisi itu membuat harga bata ringan naik hingga 4 kali dalam dua bulan terakhir. Saat ini harganya Rp 900.000 per meter kubik.

“Namun, kenaikan harga juga dilakukan produsen bata merah konvensional karena kesulitan pengeringan dan pasokan bahan baku juga,” ungkap Fenny.

Selain bata ringan, pihaknya juga memproduksi panel lantai sebagai alternatif cor beton. Untuk ini, ia mengklaim harganya relatif lebih murah dibanding biaya mengecor beton sendiri. Harga yang ditawarkan sekitar Rp 1,6 juta per kubik atau setara dengan 8 meter.

“Satu hari bisa selesai. Bandingkan dengan mengecor sendiri. Selain butuh bahan baku mahal, pekerja banyak, juga cuaca yang panas dan proses lama,” tuturnya. dio

Penulis : dio

Editor : Heru Pramono

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "