Home » Berita Terkini
Menelusuri Raibnya Tiga Komodo KBS (2)

Sempat Ada yang Menginap

Raibnya tiga anak komodo di Kebun Binatang Surabaya (KBS) awal Maret lalu terjadi untuk pertama kalinya. Kejadian ini pun dinilai janggal oleh banyak pihak. Bahkan penjaga (keeper) komodo pun menduga kuat, pencuri telah mengambilnya.

IKSAN f/miftah f

SURABAYA

Pengelola KBS mempercayakan kepada Suradji untuk menjaga lima kandang komodo dalam satu komplek. Kandang-kandang itu hanya terpisah didasarkan dengan umur komodo. Yakni, umur 1 tahun, 3 tahun, 8 tahun, dan komodo induk.

Pada hari nahas itu, konsentrasi Suradji terpecah, antara mengawasi peragaan anak komodo di kandang alami dengan mengawasi percampuran komodo berumur tiga tahun (menetas 2007) dengan komodo berumur delapan tahun yang menetas pada tahun 2003.

Tenaga terbatas, Suradji pun memilih lebih sering berkonsentrasi mengawasi percampuran komodo daripada megawasi peragaan anak-anak komodo.

Penjaga yang sudah 10 tahun mengawasi komodo ini tidak menduga, bahwa hari itu, 1 Maret 2011, satu anak komodo hilang. Ia pun degdegan. Tapi, tak melapor ke pengelola. Suradji menduga, adanya pohon cemara tinggi dan bercabang, serta pohon lamtoro penyebab hilangnya anak komodo.

Tapi, ia lagi-lagi kaget. Pada tanggal 5 Maret, dua anak komodo kembali hilang. Dugaan anak komodo memanjat pohon pun pupus. Padahal, sejak anak-anak komodo itu diperagakan pada Desember 2010 lalu, tiba-tiba hilang langsung tiga dalam waktu berdekatan.

“Hilangnya anak komodo kedua kali ini membuat saya curiga. Saya tidak yakin lagi kalau anak komodo itu memanjat pohon. Sebab, sebelum dua anak komodo hilang, saya sudah memotongi dahan dan ranting pohon cemara. Begitu juga pohon lamtoro. Saya lalu berfikir, ini pasti dicuri orang atau dimakan musang,” terang Suradji ketika ditemui di KBS, Selasa (29/3).

Pegawai yang sudah bekerja di KBS sejak 1985 ini merasa aneh ketika mengetahui hilangnya tiga anak komodo itu sebelum pukul 05.00 WIB. Padahal, binatang hampir punah ini tidak akan bergerak ketika hari sudah petang. Sedangkan pukul 05.00 WIB, sinar matahari belum begitu tampak. Kecurigaan ini memperkuat analisisnya kalau binatang reptil itu dicuri.

Sumber Surya di KBS mengatakan, pada malam hari (pas hari H) hilangnya anak-anak komodo itu, ada salah satu staf KBS bermalam di situ. Hal itu tidak seperti biasanya. Kecurigaan itu semakin memperkuat adanya pencurian. “Kok aneh, dia tiba-tiba tidur di sini (KBS). Saya merasa yakin kalau dia orang suruhan untuk mengambil anak-anak komodo,” ujar sumber itu.

Ia menjelaskan, pencuri binatang di sini tidak mungkin bisa mengetahui tempatnya kalau tidak biasa di sini. Sedangkan, untuk ukuran anak komodo sendiri tidak begitu besar.

“Tinggal ditangkap lalu dimasukkan ke kantong saja sudah cukup,” duganya.

Sementara itu sumber Surya di kepolisian menyebutkan, jalur perdagangan satwa langka di Indonesia sudah mencapai Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Bali. Memang ada beberapa daerah di Jawa yang memiliki kebun binatang dan pusat konservasi satwa langka. Namun, cukup berisiko kalau satwa asal KBS dilempar ke sana.

“Kalau mau jual, ya harus yang jauh sekalian. Seperti di Kalimantan atau Bali. Di kawasan itu kan ada kebun binatang yang ingin menambah koleksinya,” ujar sumber yang enggan namanya dikorankan itu.

Menurutnya, hampir semua satwa langka yang diperdagangkan di pasar gelap, dikumpulkan di kota-kota besar seperti Jakarta. Dari sanalah pengepul satwa langka ini menanti order yang tidak menutup kemungkinan juga merambah luar negeri.

Seperti komodo milik KBS yang diduga dicuri, dia mensinyalir satwa itu dipesan penghobi berduit dan berpengaruh. Namun, bisa juga kadal raksasa itu dilempar ke kebun binatang lainnya.

“Tentu saja keberadaan komodo itu tidak sesuai dengan prosedur,” tegasnya.

Baginya, tidak mudah untuk membongkar jaringan penjual satwa langka di Indonesia. Namun, kalau pelaku pencurian di KBS ini berhasil diungkap, jalan membongkar jalur perdagangan satwa langka bisa terbuka lebar. “Pemain wataknya (otaknya) itu-itu saja kok,” pungkasnya.

Penulis : IKSAN f/miftah f

Editor : Heru Pramono

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "