Home » Berita Terkini
Tak Ada Tempat Parkir dan Pagar

Sebagian Besar Rawan

ARENA BERMAIN - Sejumlah warga menggandeng anak saat bermain di Taman Kota Jl Sulawesi, Minggu (27/2). Meski asyik untuk arena bermain pengawasan orangtua kepada anak-anak sangat diperlukan. Foto: surya/sugiharto

SURABAYA | SURYA - Belasan fasilitas umum di Surabaya berupa taman, tak lagi menjadi tempat berkumpul yang nyaman. Meski secara tata keindahan sudah tampak cantik dan asri, namun dari segi keamanan dan kenyamanan kini semakin berkurang.

Banyak taman yang berhadapan langsung dengan jalan raya dan tak dilengkapi pagar pengaman. Kondisi ini mengundang bahaya bagi anak kecil yang bermain di fasilitas umum ini. Beberapa taman ini bahkan telah membawa korban.

“Tempat ini cantik, tapi kalau membawa anak kecil bahaya. Tak ada pagarnya,” ucap Bambang Rudianto, warga Ngagel Jaya Selatan, saat ditemui Surya di Taman Lansia, Sabtu (27/2).

Bapak ini kemarin mengajak istri dan satu anaknya yang masih duduk di TK. Di taman yang berlokasi di Jl Biliton ini, seminggu dua kali, Bambang mengajak anaknya bermain di Taman Lansia. Dia bersama istrinya, selalu berjalan menyusuri dan mengitari taman dengan alas kaki terlepas.

Taman ini ada batu-batu kecil yang ditancapkan di atas jalan yang mengelilingi taman. Kami biasa mengelilinginya dengan melepas sandal. Kata orang-orang, ini seperti terapi untuk melancarkan darah. Saya baru tahu kalau taman ini bernama Taman Lansia karena ada terapi ini,” kata Kurniawati, istri Bambang.

Namun, ibu ini cemas saat melihat anaknya yang masih balita asyik bermain sendiri. Kadang berlari hingga melewati taman. Padahal persis di kanan kiri taman banyak kendaraan lalu lalang. Trotoar luar taman dengan jalan raya menempel. Tampak batas taman dengan trotoar hanya dipasang rafia.

Taman Lansia adalah taman yang sebelumnya merupakan stasiun pengisian bahan bakar (SPBU). Luasnya sekitar 20 x 10 meter. Meski tidak terlalu luas, namun taman ini sering menjadi jujukan warga sekitar Gubeng dan sekitarnya. Selain terapi kaki, seperti taman pada umumnya dilengkapi ayunan, plorotan, dan fasilitas yang lain.

Solikin, salah satu petugas taman mengakui bahwa kadang banyak anak kecil bermain berlarian. Tapi di sisi kanan kiri tak ada pagar sehingga membahayakan. “Tapi pada umumnya orang tua berteriak dan melarang anaknya main kejar-kejaran,” ujar Solikin.

Kondisi yang sama juga tampak di Taman Ekspresi di Jl Sulawesi. Persis seperti Taman Lansia, taman ini bekas lahan SPBU. Pemkot waktu itu mengusir seluruh SPBU yang berdiri di lahan yang peruntukannya adalah ruang terbuka hijau (RTH).

Bekas lahan tersebut kemudian dibangun taman. Di Kota Surabaya ada belasan taman. Namun dalam perkembangannya, taman tak lagi berfungsi untuk berkumpul warga secara nyaman.

Kanan kiri Taman Ekspresi juga diapit jalan raya yang padat kendaraan. Taman yang dilengkapi gemercik air dan kali buatan ini tak dilengkapi pengamanan memadai. Tidak ada pagar pembatas dan tak ada tempat parkir.

“Memang bahaya Mas kalau membawa anak kecil,” kata Sulistiyono, warga Pucang Anom, salah satu pengunjung.

Selain tak ada fasilitas yang aman bagi anak-anak, taman yang tersebar di seluruh Surabaya ini tak lagi nyaman jika membawa keluarga dan anak kecil.

Hampir semua taman sekarang menjadi tempat mesum. Banyak pasangan muda-mudi berduaan di tempat terbuka. Mereka kerap berbuat mesum dengan duduk intim. Ini yang disayangkan rata-rata para pengunjung.

“Kami risih melihat mereka seakan mesum di tempat terbuka. Apalagi bawa anak kecil, kasihan. Pernah anak saya bertanya, mereka yang pacaran itu sedang apa. Kasihan masih kecil,” keluh Sulistiyono.

Para petugas taman yang biasa membersihkan taman-taman di Surabaya juga mengakui bahwa rata-rata taman memang tidak ada pagar. Tingkat kerawanan semakin tinggi di taman-taman dekat kali.

“Dimana-mana taman sekarang jadi tempat mesum. Apalagi di Taman Prestasi belakang DPRD. Juga di taman Dolog. Kami sering melihat mereka mojok tanpa berani kami menegur,” kata salah satu petugas taman.

Salah satu taman yang tanpa pengaman juga terlihat di kawasan antara Jl Gunungsari dengan Jl Joyoboyo. Di taman tersebut terdapat delapan lapangan futsal dan dipagari seperti kerangkeng. Taman itu juga dilengkapi sarana mainan anak anak. Ada patung kuda, dan lantai bebatu untuk kesehatan.

Masalahnya, tak ada lokasi parkir. Kanan kiri taman langsung berbatasan dengan jalan. Biasanya, anak-anak setelah bermain futsal, duduk di taman. Bola seringkali lepas ke tengah jalan. Ini membahayakan mereka yang mengambil dan pengendara yang melintas di situ.

Penulis : fai/uus

Editor : Sugeng Wibowo

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "