JAKARTA | SURYA - Ketua Umum Partai Demokrat (PD) Anas Urbaningrum tak habis pikir dengan kawan koalisinya yang terus mengambil jalan sendiri-sendiri. Mantan ketua PB HMI ini pun menumpahkan unek-uneknya di Twitter.
“Politik sudah rumit dan kadang tidak sederhana. Jangan ditambah main teka-teki silang. Rakyat sudah bosan dengan keruwetan yang tanpa juntrungan.” tulis Anas di status akun Twitter miliknya, Minggu (28/2)
Pada jejaring sosial itu, Anas merindukan adanya sikap tegas dan kesatria dari para politisi sesuai dengan jalan yang dipilihnya. Apakah tetap bergabung dalam Sekretariat Gabungan (Sekgab) koalisi pendukung pemerintah ataukah meninggalkan barisan pendukung pemerintahan SBY-Boediono tersebut.
“Politik memang kadangkala keras. Selalu hadirkan kepentingan. Tetapi sikap kesatria tetap penting : jelas di dalam atau di luar. Simpel saja.” katanya.
Namun, jika Golkar memilih untuk berada dalam koalisi, Anas mengajak Golkar untuk mewujudkan tujuan bersama dan tidak sekadar pernyataan. “Saya hargai statemen Golkar yang akan mengamankan pemerintah sampai 2014, sebagaimana komitmen awal. Mari kita wujudkan bersama dengan sungguh-sungguh dan nyata,” katanya.
Sementara itu, sikap Partai Demokrat (PD) dan Partai Golkar tampaknya akan terus bertabrakan. Ini terlihat dari wacana pembentukan Undang-undang (UU) Koalisi yang dilemparkan politisi PD Marzuki Alie setelah ribut usulan penggunaan hak angket mafia pajak berakhir.
Wacana PD buru-buru ditolak politisi Golkar, Bambang Soesatyo. “Daripada merumuskan UU Koalisi, Partai Golkar mengusulkan pembuatan UU Pengendalian Harga Pangan untuk menjamin harga Sembako,” jelas Bambang Soesatyo, Minggu (27/2).
Menurut Bambang, koalisi tak perlu diatur dalam UU. Yang dibutuhkan dalam koalisi saat ini adalah kepemimpinan yang tegas dan jujur. “Semua unsur koalisi harus jujur bekerjasama untuk kepentingan bangsa, negara dan pro rakyat. Tetapi kalau ada yang memaksakan kehendak pasti akan dilawan,” ujarnya.
Sumber : ic
Editor : Sugeng Wibowo