Besar dari keluarga tak mampu, Tatik Kustiani harus berusaha keras untuk bisa kuliah di IKIP Surabaya (Unesa). Kini, ia dipercaya menjadi kepala SMKN 10 Surabaya. Yang istimewa, perempuan ini ditetapkan sebagai 50 tokoh naisional .
FAIQ NURAINI
Surabaya
Oleh Pusat Prestasi Indonesia (PPI) yang berkedudukan di Jakarta, perempuan berusia 49 tahun ini disejajarkan dengan beberapa rektor di Indonesia. Tatik dinilai telah memiliki andil besar dalam memajukan pendidikan di tempatnya.
“Saya sebenarnya juga kaget saat dihubungi panitia dari Jakarta bahwa saya menjadi tokoh nasional. Setelah minta penjelasan, saya dinilai menjadi tokoh di bidang pendidikan. Dari mana penilaiannya, saya tak tahu,” ucapnya, ketika ditemui, Jumat (25/2).
Kepala SMKN 10 ini mendapat penghargaan Bakti Utama Pendidik. Selain pendidik, tokoh yang berhak menyandang tokoh nasional itu adalah tokoh pengusaha dan profesional di bidang tertentu. Sebelum dinobatkan tokoh nasional itu, ia lebih dulu diwawancarai.
Kiprah suami Bambang Djunaedi ini memang relatif cemerlang. Baru-baru ini, ia kembali mengharumkan namanya di tingkat nasional. Bersama tokoh perempuan yang lain, termasuk pesinetron Ardinia Rasti, ibu dua anak ini dinobatkan sebagai Tokoh Berkepribadian 2011.
Ini tidak lepas dari perjuangan kerasnya dalam membuat terobosan saat dipercaya menjadi kepala SMKN 7 Surabaya. Meski tergolong kasek muda, perempuan ini kembali membuat terobosan yang sangat berani.
“Saya ingin sekolah kami bersih dan nyaman. Terpaksa kami meminta banyak PKL di pagar-pagar sekolah kami singkirkan. Alhamdulillah, berhasil. Dan karena STM, saya ingin image tawuran sirna. Saya berani buka jurusan komputer jaringan agar siswi bisa masuk,” kata mantan guru teladan nasional ini.
Sejak kecil, ia mengimpikan menjadi pembaca berita Dunia Dalam Berita TVRI. Namun dalam perkembangannnya, lolos Sipenmaru (SNMPTN) IKIP Surabaya, ia ingin menjadi guru sebagai pekerjaan mulia. Tatik pun mengikuti seleksi CPNS guru dan diterima.
Kepala sekolah yang kerap mendapat penghargaan dan dikirim kursus internasional ini pula yang mengantarkan SMKN 10 jadi rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI). Berkat pikirannya yang cemerlang pula, SMK yang semula 30 ruang kelas menjadi 47 kelas.
Tatik Kustiani
TTL
: Surabaya, 16 Mei 1962
Jabatan
: Kepala SMKN 10 Surabaya
Suami
: Bambang Djunaedi
Anak
: Chitra Junaidi Kustiawan 


(Alumnus ITS)

Bambang V Abdillah Akbar (Farmasi Unair)
Pendidikan : SD Muhammadiyah

SMPN 3 Surabaya

SMKN 4 Surabaya (dulu SMEAN 2)

S1 (IKIP Surabaya)

S2 (Universitas Narotama)
SMKN 10 saat ini terus mengembangkan bisnis travel. Travel SMEGA (singkatan dari SMEA Tiga) ini sekarang sudah beromzet lebih dari Rp 2 miliar. Satu tahun kemarin, pemasukan Rp 2,09 miliar. Tahun ini, pendapatan sudah menembus Rp 551,4 juta. “Ini berkat teman-teman SMKN 10 semua,” katanya.
Perempuan berjilbab ini tidak pernah mengira bahwa alur hidupnya bisa menjadi kepala sekolah dengan berbagai prestasi.
Awalnya, ia mengaku prihatin budaya siswa yang meninggalkan kesantunan. Ia pun terobsesi mencetak siswa-siswi yang cerdas, kompetitif, dan berbudaya.
Penulis : FAIQ NURAINI
Editor : Heru Pramono