Ketua Dewan Pendidikan Jatim Zainudin Maliki menilai, pemberian beasiswa bagi guru RSBI adalah kebijakan elitis. “Artinya, yang sudah maju dimajukan lagi karena guru RSBI ini kan sudah pinter-pinter, lha dengan beasiswa ini berarti yang sudah pinter itu dipinterkan lagi,” kata Zainudin saat dihubungi, Jumat (25/2).
Ia lebih sepakat jika anggaran untuk beasiswa itu dialokasikan untuk memajukan sekolah-sekolah biasa yang selama ini padat murid, namun minim fasilitas. “Justru sekolah biasa ini lebih membutuhkan anggaran, agar mereka bisa mengelola sekolahnya lebih baik,” sebutnya.
Apalagi, lanjutnya, masih banyak guru yang saat ini masih belum berijazah S1. Zainudin menilai, lebih baik beasiswa diberikan pada mereka agar bisa meningkatkan kemampuannya sehingga nantinya bisa mengakomodasi pembelajaran banyak siswa karena umumnya jumlah murid sekolah biasa jauh lebih banyak dibanding RSBI.
RSBI dinilainya sebuah pilot project yang elitis, karena lebih banyak menyerap anggaran pemerintah tapi hanya dikhususkan segelintir siswa.
Padahal, sebenarnya RSBI ini hanya bisa meningkatkan kecerdasan kognitif. “RSBI ini ingin menjadikan anak-anak bisa mengerjakan soal yang dibuat standar internasional. Bukan menjadikan anak multi intelegensia yang mampu secara afentif, psikomotorik dan kognitif,” jelasnya.
RSBI yang dibuat pemerintah ini harusnya mengacu pada sekolah di Australia Selatan yang menerapkan model pembelajaran multi intelegensia dan multi sensirik.
“Jangan proyek yang mengejar kecerdasan kognitif, itu sama artinya dengan pinter tapi tidak kreatif, “ sindirnya. uus
Penulis : uus
Editor : Heru Pramono