Treesa Hidayanti
Mahasiswi di Southern Federal University Rusia
treesa.hidayantee@gmail.com
Akhirnya kesampaian juga saya jalan-jalan ke laut beku untuk tahun terakhirku selama lima tahun studi di Rusia ini, meskipun tahun 2008 kemarin saya juga sempat bertandang ke sana, namun rasanya kurang afdhal jika tidak mengunjungi kotanya, Cekhov, untuk terakhir kali, [maybe] in my last year!
Saya dan rombongan berjumlah 10 orang. Ada Ucup, Hani, Goji, Dinda, Bung Tete, Pipit, udel, Ucok, Boni, dan Salim, memutuskan untuk naik elektriceski atau semacam kereta listrik, menuju Kota Taganrog yang berjarak kurang lebih 60 sampai 90 menit. Selain itu harga tiket tergolong murah, hanya 72 Rouble atau setara dengan Rp 25.200 dan lebih murah lagi jika kita bisa menunjukan studenceski bilet atau student card, maka tiket diberi potongan hingga 50 persen. Kereta ekonomi ini sangat sederhana, di belantara gagahnya negara Rusia saya masih bisa naik kereta yang tempat duduknya masih terbuat dari kayu dan lengkap dengan pemanas atau heater yang menempel persis di bawah kursi penumpang dan hanya menyala pada saat winter saja. Inilah Russia yang saya kenal, selalu apik dalam pemeliharaan benda-benda bersejarah, termasuk museum, monumen bersejarah, transportasi umum, dan sebagainya. Jadi jangan kaget jika nanti Anda menginjakkan kaki di Rusia, Anda masih akan disuguhi alat transportasi kuno.
Rusia sangat menghargai sejarah karena mereka sadar bahwa sejarah adalah fondasi penting sebuah pembentukan awal, di mana seluruh cikal bakal Rusia sekarang ada di sejarah, oleh karena itu pula mereka bisa terus tumbuh dan kuat dalam kondisi apapun.
Miris juga kalau mengingat veteran di Indonesia yang kurang diperhatikan oleh pemerintah padahal di Rusia ini para veteran diberi penghargaan khusus, mereka selalu teringat bahwa tanpa adanya para pahlawan-pahlawan itu Rusia tidak akan bisa sekuat seperti saat ini. Nah!
Perjalanan 90 menit dengan kereta telah kami lewati, kami telah sampai di Vtaroi Vokzal [stasiun ke 2] kota Taganrog, di mana ada laut Azov. Dari Vtaroi vokzal sebetulnya kami bisa menggunakan marshut -sejenis angkot yang langsung menuju laut, tetapi karena suhu udara tidak terlalu dingin (minus 11 derajat) kami memutuskan untuk berjalan kaki. Perjalanan dengan jalan kaki bisa ditempuh hanya dengan 20 menit. Kota Taganrog juga relatif kecil, sehingga kami bisa sekalius menikmati keindahan kota tua ini.
Sesampainya di laut yang sudah membeku ini, kami langsung berhamburan berjalan menuju laut untuk mengambil foto, karena laut Azov relatif dangkal (kurang lebih sampai dua kilometer dari garis pantai dan kedalaman laut hanya sebatas leher orang dewasa) menjadikan laut ini mudah beku. Pemandangannya yang sangat indah dan benar-benar tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, karena di atas laut sejauh mata memandang kami hanya melihat hamparan laut putih yang membeku dan dilapisi salju tipis, kira-kira 5 cm.
Menyenangkan, rasa dinginnya angin yang lumayan kencang pun tak kami gubris karena kami semua terpukau dengan keajaiban ini. Teman-teman langsung berhamburan untuk bermain, ada yang berkejar-kejaran, foto session tanpa khawatir lapisan es retak, meskipun begitu adapula yang masih merasa takut kalau kalau lapisan es nya pecah dan kami semua tercebur ke laut yang membeku ini. Hal itu wajar karena di Tanah Air kami tidak bisa menikmati ini.
Sayangnya ketika musim panas, laut Azov ini tidak boleh dibuat berenang karena sudah terkena pencemaran limbah, meski begitu tidak sedikit pula yang melanggar dan merelakan tubuhnya gatal-gatal karena limbah. Nah, sekian perjalanan kami kali ini ke laut beku di Kota Taganrog selatan Rusia. Semoga bisa menghibur.
Editor : tri