SURABAYA | SURYA- Harga cabe rawit makin menggila. Jika akhir November masih Rp 18.000 per kg dan terus merangkak naik, kini tembus Rp 75.000 per kg. Harga itu tidak berbeda jauh dengan bahan pokok dan bumbu-bumbuan lainnya.
Pedagang di Pasar Larangan Sidoarjo, Nur Fatimah, mengatakan, cabe rawit kini menjadi komoditas langka akibat berkurangnya pasokan dari daerah.
“Sebulan ini harga cabe melejit, yang awalnya kisaran Rp 20.000 per kg, mendekati pergantian tahun melonjak Rp 70.000-75.000 per kg,” kata Nur, Kamis (30/12).
Diakui, mahalnya harga cabe membuatnya mengurangi stok dagangan hingga 50 persen. Saat ini, rata-rata hanya berani menyetok maksimal 5 kg. Selain mahal, pengurangan itu dilakukan karena pembeli juga mengurangi pembelian cabe.
“Yang biasa beli cabe rawit satu ons, kini hanya setengah ons. Itu pun mereka campur dengan cabe merah yang harganya Rp 35.000-40.000 per kg,” ucap Nur.
Hal serupa diungkapkan pedagang sayur di Pasar Wonokromo Surabaya, Achmad Hasan. Menurutnya, harga cabe rawit saat ini bahkan mengalahkan sayur dan kebutuhan pokok lain, seperti daging ayam hingga daging sapi.
Curah hujan tinggi yang mengakibatkan kegagalan panen cabe di tingkat petani, diakuinya, menjadi penyebabnya.
“Bagaimana lagi memang pasokannya drop. Biasanya ketika Natal dan Tahun Baru cenderung naik, tapi tahun ini lonjakannya cukup drastis,” papar Achmad.
Kelompok petani cabe rawit di Batu, misalnya, menyatakan banyak bibit tanamannya yang rusak diserang jamur karena terkena hujan secara langsung.
Akibat kerusakan itu, produksi cabe merosot drastis, yang biasanya 1 hektare lahan menghasilkan 1 ton cabe, kini hanya separonya.
Tak hanya cabe, harga beberapa komoditas sayur dan bumbu lain juga melejit, bahkan masih bertahan tinggi. Seperti bawang putih semula Rp 11.000-12.000 naik jadi Rp 23.000 per kg, bawang merah Rp 8.000-9.000 menjadi Rp 13.000 per kg. Sedang gula putih bertahan Rp 10.500 per kg.
Pedagang grosir produk pertanian di Jatim Rochim Hasan mengakui, masih tingginya sejumlah komoditas sayur dan bahan pokok sebulan ini. Alasannya, beberapa daerah penghasil utama terkena abu gunung Bromo, seperti Probolinggo, Lumajang, dan Pasuruan.
“Daerah itu selama ini salah satu pemasok terbesar cabe dan beberapa sayuran, sehingga kegagalan panen akibat terkena abu Bromo, membuat pasokan ke sejumlah pasar tersendat,” ungkap Rochim.
Ia memperkirakan, sekitar pertengahan Januari 2011, secara berangsur harga sejumlah komoditas pertanian mulai turun. “Kemungkinan bulan itu curah hujan juga mulai mereda,” tutur Rochim. dio
Editor : jps