Home » Jatim Raya
Sempat Ngungsi, Lalu Balik

Bromo Membuat Warga Ketakutan

PROBOLINGGO | SURYA- Meski status Gunung Bromo turun menjadi siaga, namun aktivitas Bromo belum menurun, hingga Kamis (30/12). Bahkan, sedikitnya 50 warga di Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura merasa ketakutan lantaran ada suara bergemuruh.
Warga dengan sukarela meminta diungsikan ke pos penanggulangan bencana kantor Kecamatan Sukapura. Suara bergemuruh itu, terjadi sejak Rabu (29/12) sekitar pukul 18.04 WIB, dan baru mereda pada Kamis (30/12) sekitar pukul 01.00 WIB. “Kami takut kayak Gunung Merapi,” ujar Poniman kepada Surya di posko Kantor Kecamatan Sukapura.

Ketakutan warga cukup realistis, karena usai mengeluarkan bunyi bergemuruh, dari dasar kawah memuntahkan lava pijar. Ketua Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Gede Suwantika meminta warga tetap tenang, karena kekuatan lontaran lava pijar masih seperti sebelumnya, dengan kekuatan lontaran setinggi 50 meter.

Namun, warga yang sudah mengungsi akhirnya meminta kembali ke rumahnya masing-masing, setelah mengetahui aktivitas Bromo kembali seperti sediakala. “Itu atas inisiatif warga. Mereka datang sendiri dan sekarang sudah kembali ke rumahnya masing-masing secara bergiliran sejak pukul 11.00 WIB, tadi siang,” ujar Camat Sukapura Hudan.

Sementara itu, akibat guyuran pasir dan abu vulkanik yang masih terjadi terus menerus dengan ketinggian yang sudah mencapai 1.500 meter, beberapa fasilitas umum mulai rusak. Kerusakan terjadi akibat atap bangunan tidak mampu menahan beban pasir bercampur abu vulkanik dengan ketebalan mencapai 20 sentimeter.

Satu unit bangunan sekolah satu atap, yang ditempati SDN Ngadirejo sekaligus SMP 2 Sukapura itu, atapnya ambruk. Tidak ada korban jiwa maupun luka, karena siswa tengah liburan sekolah. Untuk sementara waktu, menjelang jadwal masuk sekolah, Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo akan memanfaatkan rumah warga, untuk dijadikan kegiatan belajar sementara. “Tidak mungkin akan kita perbaiki sekarang. Untuk sementara, pelajar akan direlokasi kerumah warga,” ujar Kepala Diknas Supanut.

Beberapa fasilitas umum lainnya, seperti kantor Desa Ngadirejo, atapnya nyaris ambruk. Sedangkan aula balai desa atapnya sudah ambruk, akibat tidak kuat menahan beban guyuran pasir dan abu vulkanik.

Bangunan aula yang ambruk berukuran 7 meter x 6 meter dan rencananya, untuk tahun 2011, memang akan diusulkan mendapat bantuan dari pemerintah, karena kondisinya memang layak diperbaiki. “Nilai kerugiannya berkisar Rp 30 juta,” ujar Hudan.

Pemprov Jatim menganggarkan dana Rp 2,7 miliar untuk penanganan abu vulkanik Gunung Bromo. “Saya sudah dapat laporan, kalau abu vulkanik mulai dibersihkan dari jalan-jalan dan rumah warga dengan disemprot pakai udara. Pemkab Probolinggo sudah kami kucuri dana Rp 1 miliar dan minta lagi sebesar Rp 1,7 miliar. Namun dana Rp 1,7 miliar itu masih kami pelajari dulu untuk apa,” kata Gubernur Soekarwo saat berada di Banyuwangi dalam rangka peresmian bandara Blimbingsari-Banyuwangi, Rabu (29/12).

Selain itu, dana yang dikucurkan dari APBD provinsi juga digunakan untuk memperbaiki rumah warga yang rusak. Soekarwo menganggap warga belum perlu diungsikan, karena kondisinya masih aman.ntiq/uni

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "