Home » Berita Terkini

Nisan Tokoh Belanda akan Ditukar dengan Museum

BOJONEGORO | SURYA Online - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur meminta pemerintah Belanda untuk menukar batu nisan kuno makam J Van Der Sluijs yang meninggal di Bojonegoro pada tahun 1844 dengan kompensasi berupa pembangunan museum di wilayah setempat.

“Kami akan melaporkan temuan batu nisan kuno ini ke negara Belanda,” kata Kepala Disbudpar Bojonegoro, Djindan Muhdin, Kamis.

Menurut dia, kalau memang Belanda tertarik untuk membawa batu nisan tersebut ke tempatnya akan diperbolehkan, asalkan ada kompensasi berupa museum di Bojonegoro.

Bojonegoro sendiri, katanya, bisa mendapatkan replika batu nisan kuno itu untuk selanjutnya disimpan di museum. “Kami akan mencoba merintis pertukaran nisan batu kuno dengan museum, sepanjang tidak melanggar ketentuan masalah kepurbakalaan,” jelasnya.

Alasannya, Bojonegoro sangat membutuhkan museum, sebab museum Rajekwesi yang dikelola Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Triwulan, Mojokerto, kurang memadai.

Temuan batu nisan kuno di Desa Bakalan, Kecamatan Kapas itu, memiliki ketebalan 15 cm, panjang 2,5 meter dan lebar 1,3 meter.

Di atas batu nisan yang sekarang dipindahkan ke Kantor Disburpad tersebut bertuliskan, J Van Der Sluijs Geb 15 Sept 1784 GEER Truidenverg Weil 23 April 1844 Le Smanding.

Semula temuan batu nisan kuno itu terpendam di jalanan Desa Bakalan, Kecamatan Kapas, sedalam satu meter. Setelah digali, batu nisan kuno tersebut diangkut dengan derek ke Kantor Disbudpar.

Dari berbagai referensi yang dibaca, kata Djindan, J Van Der Sluijs merupakan seorang tokoh penting di zaman Belanda yang diperkirakan seorang manajer perusahaan tebu di Bojonegoro.

Masih berdasarkan referensi itu, dia bukan pengusaha tembakau, sebab tembakau Virginia Voor Oosgt (VO) di Bojonegoro ditanam setelah tahun 1870, sedangkan J Van Der Sluijs meninggal pada tahun 1844.

Selain itu, dia diperkirakan juga sebagai salah seorang tokoh yang merintis pembangunan rel kereta api (KA) mulai Semarang, Jateng hingga Surabaya, Jatim. “Sementara ini, batu nisan kuno kami simpan di sini, untuk keamanannya,” katanya menegaskan.

Ketika pengangkatan nisan itu dari lokasi dua hari yang lalu itu, kata Djindan sempat ditawar seorang pedagang barang antik yang berani membeli seharga Rp 25 juta.

Sumber : Antara

Editor : Adi Sasono

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "