TULUNGAGUNG | SURYA-Ombak laut selatan kembali mengganas memaksa sebuah kapal tunda yang membawa tongkang pengangkut batubara serta puluhan kapal nelayan asal Muara Baru, Jakarta menyelamatkan diri di Pantai Popoh.
Tongkang pengangkut batu bara dari Kaltim dengan tujuan Cilacap itu merapat di Pantai Popoh sejak, Minggu (26/12) malam. Nahkoda kapal terpaksa memilih menepi ke pantai karena tinggi gelombang mencapai lima meter. “Cuaca saat ini memang sangat buruk sehingga berbahaya jika nekat berlayar. Akibatnya, banyak kapal yang menyelamatkan diri di Popoh,” kata Ibrahim, nelayan Pantai Popoh kepada Surya, Tinggi ombak dan gelombang tersebut juga membuat nelayan tradisional tidak berani mencari ikan sampai ke tengah laut.
Minimnya tangkapan nelayan tradisional itu terlihat saat kapal-kapal mereka merapat ke pantai hanya menurunkan hasil tangkapan rata-rata kurang dari satu kuintal. Akibatnya, ikan mereka menjadi rebutan para pedagang ikan yang menunggu di daratan.
Sementara puluhan kapal nelayan asal Muara Baru yang terpaksa merapat di pantai berdatangan mulai Senin (27/12) serta Selasa (28/12). Total saat ini tercatat sekitar 22 kapal nelayan yang buang sauh di Pantai Popoh.
Menurut Arman, salah satu anak buah kapal (ABK) nelayan Muara Baru menyebutkan, kapalnya terpaksa menepi ke Pantai Popoh karena tinggi gelombang laut selatan mencapai lima meter. Arman menyebutkan, informasi yang diterima dari Badan Metrologi dan Geofisika (BMG) gelombang tinggi di laut selatan diprediksi masih bakal berlangsung sampai tanggal 3 Januari 2011. “Terpaksa kami merayakan tahun baru di Pantai Popoh,” ungkapnya.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama ‘terdampar’ di Pantai Popoh, puluhan ABK nelayan Muara Baru itu melakukan barter ikan tuna hasil tangkapannya dengan pedagang ikan setempat. Para nelayan itu biasa mencari ikan tuna, cakalang serta tengiri dengan daya jelajah hingga radius 100 mil laut.dim
Editor : jps