Home » Opini

Merealisasi Jalan Gus Dur

Mustofa Liem PhD

Dewan Penasihat Jaringan Tionghoa untuk Kesetaraan

SATU tahun KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur meninggalkan kita. Gus Dur wafat pada Rabu (30/12/2009). Berbagai pondok pesantren mengelar haul, namun pihak keluarga di Ciganjur tetap menggelar haul, Kamis (30/12) esok.

Meski tahun ini Gus Dur belum diberi gelar pahlawan nasional oleh pemerintah, seperti disuarakan banyak kalangan, tapi agaknya ada satu usulan yang perlu ditengok kembali, yakni agar nama KH Abdurrahman Wahid dipakai sebagai nama jalan.Usulan ini dilontarkan masyarakat Tionghoa di Medan untuk kota Medan. Seingat penulis, Wagub Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul) juga pernah menjanjikan nama jalan Abdurrahman Wahid akan segera menjadi kenyataan di wilayah propinsi Jatim. Namun hingga setahun wafat Gus Dur, nama Gus Dur masih belum dipakai sebagai nama jalan.

Memang ada baiknya, kota-kota di negeri ini, khususnya di Jatim, segera merealisasi Jalan KH Abdurrahman Wahid. Tidak perlu menunggu pemerintah pusat menetapkan gelar pahlawan nasional untuk Gus Dur, baru nama Gus Dur dipakai sebagai nama jalan. Pemanfaatan nama Gus Dur untuk nama jalan, dalam hemat penulis, dijamin akan banyak manfaatnya daripada mudharatnya.Paling tidak kita tidak akan melupakan begitu saja kontribusi Gus Dur bagi bangsa, negara dan kemanusiaan. Apalagi Presiden SBY ketika memimpin upacara pemakaman Gus Dur di Jombang pada akhir tahun lalu sudah menyebut sosok kelahiran Jombang 4 Agustus 1940 itu sebagai Bapak Pluralisme Indonesia.Jadi mempertimbangkan hal tersebut, nama jalan bagi Gus Dur jelas mengandung makna strategis bagi kepentingan publik.

Kalau jalan Abdurrahman Wahid kelak menjadi kenyataan, kita berharap jalan itu bukan sekadar tempat kita untuk lewat, tetapi lebih dari itu, nama Gus Dur yang dipakai untuk jalan itu akan mendekatkan kita pada pemikiran Gus Dur bagi bangsa, agama dan kemanusiaan. Bila biasanya jalan menjadi tempat sumpah serapah, saling kebut dan melanggar aturan dan tata tertib, bahkan jalan menjadi kuburan karena seringnya terjadi kecelakaan, semoga dengan keberadaan jalan Gus Dur, hal-hal tak terpuji itu tidak akan dilakukan.

Jalan Hidup
Maka kalau kelak di Surabaya atau kota-kota lain di Jatim ada nama jalan untuk Gus Dur, kita berharap jalan itu akan memberi pencerahan pada kita setiap kita lewat atau memikirkan jalan itu. Tetapi yang terpenting, entah kelak jalan Gus Dur itu ada atau tidak ada, tetap tak keliru bila kita menjadikan pemikiran Gus Dur, khususnya terkait pluralisme dan multikukturalisme sebagai jalan hidup (way of life).

Kita ingat semasa masih hidup, Gus Dur sering menyebarkan nilai-nilai tentang pluralisme dan multikulturalisme.Penulis masih ingat bagaimana dengan kondisi fisik yang terbatas, nilai-nilai itu diajarkan Gus Dur ketika mengunjungi para korban lumpur, mengunjungi gereja, vihara dan masjid, termasuk masjid Al Akbar yang konon namanya diberikan langsung oleh Gus Dur.Dalam kunjungan itu, Gus Dur selalu mengajak kita semua untuk berani saling menghargai dan tidak menonjolkan perbedaan sebagai kendala untuk membina tali silaturahmi. Tidak heran ketika Gus Dur wafat, banyak kalangan, termasuk masyarakat Tionghoa berdoa tulus bagi Gus Dur.

Sayangnya dalam menyikapi pluarisme, kadang sebagian dari kita masih salah dalam memahami.Pluralisme sering dimaknai sebagai upaya menyamakan semua keyakinan atau sinkritisme.Padahal seperti diungkap Gus Dur dalam banyak kesempatan, pluralisme adalah proses pergumulan yang bertujuan menciptakan masyarakat bersama yang dibangun atas dasar pluralitas atau fakta bahwa kita tinggal di dunia yang heterogen bukan homogen.

Bersinergi
Pandangan Gus Dur itu tentu benar. Semisal ketika ada masalah radikalisme, terorisme, bencana, kerusakan lingkungan, kemiskinan atau masalah lainnya,kita bisa bergandeng tangan memecahkan permasalahan itu sesuai ajaran agama kita.Jika masalah-masalah kemanusiaan di sekitar kita dihadapi dengan cara ini kita tidak akan pernah terjebak dalam pemikiran sempit bahwa orang yang berbeda agama atau etnis adalah musuh kita.Karena musuh kita sesungguhnya adalah hal-hal yang mendorong terjadinya radikalisme, terorisme atau kemiskinan, yakni ketidakadilan, baik ketidakadilan di level global atau lokal.Dengan pola pikir seperti ini, jelas akan bisa tercipta sinergi positif dari bergagai kalangan, yang bisa membuktikan bahwa pluralisme atau perbedaan adalah rahmat.Karena meski berbeda, kita masih bisa tetap melakukan hal-hal bermanfaat .

Gus Dur sudah membuktikan lewat perilaku dan teladan hidup bahwa sesungguhnya meski kita berbeda, kita jangan terkotak-kotak atau mau diadu domba.Apalagi pada dasarnya kita masih sangat mungkin untuk bersinergi bergandengan tangan memajukan peradaban, kemanusiaan dan negri ini.
Jadi memang tak ada ruginya bila nama Gus Dur dipakai sebagai jalan baik sebagai jalan dalam arti fisik maupun dalam makna yang lebih dalam, yakni sebagai jalan kehidupan untuk menjaga keutuhan dan memajukan bangsa.

Editor : tri

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "