JAKARTA | SURYA Online - Menyusul peristiwa gempa dan tsunami Mentawai pada tanggal 25 Oktober 2010 lalu, Balai Pengkajian Dinamika Pantai BPPT pun mengirim tim survei untuk melakukan pengumpulan data. Tim survei diketuai Dr. Ir. Widjo Kongko dari BPPT, beranggotakan 6 orang lainnya dari Indonesia dan 3 orang dari Jerman.
Penelitian ini bertujuan mengetahui tinggi gelombang tsunami, jauh limpasan, kenaikan dan penurunan permukaan serta data lain yang dibutuhkan untuk pengembangan model tsunami. Hasil penelitian diharapkan berguna untuk mitigasi dan memperbaiki sistem peringatan dini serta upaya pengurangan resiko bencana lainnya.
Dari hasil survei, peneliti mengungkapkan, ketinggian gelombang tsunami bervariasi. “Di beberapa wilayah Pagai misalnya, ketinggian bisa mencapai 12 meter, sementara di wilayah Sipora berkisar antara kurang dari satu meter hingga 3,5 meter,” ungkap Widjo.
Data hasil ini sedikit berbeda dengan hasil riset lain yang mengatakan ketinggian gelombang tsunami mencapai 17 meter. Dikatakan Widjo, perbedaan tersebut mungkin saja terjadi sebab daerah yang diteliti berbeda. “Kami meneliti dengan melihat tsunami trace, seperti bekas air di rumah dan pohon, debris, serta kerusakan lainnya,” jelas Widjo.
Sementara itu, jangkauan tsunami secara horizontal terjauh terdapat di wilayah Malakopa. “Di wilayah tersebut, tsunami masuk ke daratan hingga sejauh 450 meter, memang jarak yang lebih pendek dengan tsunami Aceh yang mencapai ribuan meter, namun jumlah korbannya cukup banyak,” kata Widjo.
Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan berbagai model, kecepatan gelombang tsunami yang menerjang pantai mencapai 20 km/jam. Selain itu, peneliti juga menemukan tsunami deposit di wilayah daratan dengan ketebalan deposit mencapai 1,5 cm.
Penelitian dilakukan lewat kerjasama Indonesia dengan Jerman selama periode 21 - 28 November 2010. Ekspedisi penelitin dimulai dari Padang menuju Sipora hingga Sibaru-baru. “Ada 16 titik yang kita teliti, jadi kurang lebih kita melihat 3 titik per harinya,” kata Widjo.
Dalam penelitian ini, tim belum berhasil mengidentifikasi dengan pasti kenaikan dan penurunan daratan. “Kami belum bisa mengukur dengan pasti sebab sewaktu kita melihat, masih ada jejak-jejak tsunami yang terjadi sebelumnya juga, jadi cukup membingungkan.
Ia melanjutkan, “Data tentang kenaikan dan penurunan hanya didapatkan secara kualitatif saja. Masyarakat setempat ada yang mengatakan wilayah tertentu turun. Hanya sebatas itu. Belum ada rincian pastinya.” Menurutnya, masih perlu penelitian lebih lanjut tentang hal tersebut.
Senada dengan hasil penelitian sebelumnya hasil kerjasama LIPI, Amerika Serikat, dan Singapura beberapa waktu lalu, tim peneliti juga mengungkapkan bahwa sebab tsunami ini adalah slow earthquake atau gempa berayun. Jenis gempa ini juga pernah menjadi penyebab tsunami di Pangandaran pada tahun 2006 lalu.
Penulis : Yunanto Wiji Utomo/kcm
Editor : Sugeng Wibowo