SURABAYA | SURYA Online - Kementerian Lingkungan Hidup menilai, kajian solusi penanganan Lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo, Jatim, kurang mendalam karena penelitian yang dilakukan hanya menyentuh permukaan saja.
“Selama empat tahun ini, kami mengevaluasi kajian yang dilakukan sejumlah ahli Lumpur Sidoarjo sulit mendeteksi bagian terdalam kandungan lumpur itu,” kata MR Karliansyah, Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran Kementerian Lingkungan Hidup, dalam Seminar Empat Tahun Lumpur Lapindo “Pengelolaan LuSi dalam Perspektif Teknik dan Ilmu Kebumian”, di Gedung Rektorat ITS Surabaya, Selasa (30/11/2010).
Menurut dia, pengelolaan Lumpur Lapindo yang kini jumlah gelembungnya kian meningkat menjadi sekitar 180 gelembung, belum dapat meneliti sampai ke dasar lumpur tersebut.
“Apalagi, semburan baik berukuran besar maupun kecil itu mengandung di antaranya lumpur, air, dan gas yang membahayakan lingkungan permukiman,” ujarnya.
Kini, jelas dia, daerah yang terkena luapan lumpur semakin meluas dan diatasi dengan membangun tanggul penahan luapan lumpur. “Sampai sekarang, ketinggian tanggul sudah mencapai 12 meter,” katanya.
Banyaknya upaya seperti pembangunan tanggul penahan lumpur, pelaksanaan kajian sosial, ekonomi, dan kelembagaan juga kurang mengantisipasinya. “Oleh karena itu perlu kajian mendalam yang bisa menggali kandungan apa saja di lumpur tersebut untuk mengatasinya,” tegasnya.
Penulis : Ant
Editor : Taufiq Zuhdi