Home » Berita Terkini

Pemprov Serius Jual Pesona Bromo

Gunung Bromo tetap menarik wisatawan meski dalam status Awas. Foto : Surya/dok

SURABAYA | SURYA Online - Pemprov Jatim  tampaknya makin serius akan menjual pesona Gunung Bromo pasca letusan kali ini. Ini terlihat dari banyaknya wisatawan mancanegara yang tetap ingin melihat
dari dekat, sekalipun saat ini tengah berstatus Awas.

Adalah  Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Jawa Timur yang kini tengah melakukan riset untuk mengkaji kemungkinan dijadikannya Gunung Bromo sebagai objek pariwisata berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam dan pemberdayaan sosial budaya serta ekonomi masyarakat sekitarnya (ekowisata).

“Kami melihat pengelolaan objek wisata Bromo masih belum terintegrasi sehingga perlu pengkajian yang mengarah pada program ekowisata,” kata Kepala Balitbang Jatim, Asyhar, di Surabaya, Senin (29/11/2010).

Ia mengakui bahwa objek wisata Gunung Bromo masih menjadi daya tarik wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Bahkan, meningkatnya aktivitas vulkanik yang terjadi sejak Selasa (23/11) sore itu tidak menyurutkan minat wisatawan untuk mendatangi gunung api di wilayah perbatasan Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Malang itu.

“Agar wisatawan itu betah lebih lama tinggal di Bromo, perlu upaya pengembangan menjadikan ekowisata berbasis masyarakat Suku Tengger,” katanya.

Upaya itu, menurut Asyhar, sebagai salah satu wujud aplikatif riset atas kebijakan pengelolaan objek wisata Gunung Bromo yang dianggapnya masih belum maksimal.  “Dengan adanya riset ini, diharapkan dapat diperoleh formulasi strategi pengembangan ekowisata di Gunung Bromo,” katanya.

Balitbang menargetkan program tersebut dapat menghasilkan rekomendasi strategis untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Gunung Bromo. Dalam pengembangannya, jelas dia, ekowisata tidak hanya mengamati kondisi flora dan fauna, melainkan juga konsep pelestarian lingkungan dan penduduk lokal dengan menggunakan strategi konservasi.
Kepala Bidang Ekonomi dan Keuangan Balitbang Jatim, Abdul Hamid, menambahkan, selama ini pengelolaan dan pengembangan objek wisata Bromo hanya sebatas koordinasi sehingga riset ini juga ditujukan untuk lebih mengintegrasikan berbagai elemen dari Pemkab Probolinggo, Pemprov Jatim, dan Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) selaku pemangku wilayah.

Dengan mengintegrasikan berbagai elemen, dapat dirumuskan pengembangan potensi Bromo sehingga tidak hanya kuda, matahari terbit, dan panorama alam yang menjadi andalan Bromo. Namun, juga bisa dikembangkan pada budaya lokal Suku Tengger, pendidikan konservasi alam, penguatan kelembagaan, peningkatan SDM masyarakat, dan industri rumahan pendukung wisata. Semua itu dapat dilakukan dengan melibatkan masyarakat Tengger.

Penulis : Ant

Editor : Taufiq Zuhdi

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "