Home » Berita Terkini » HotNews » Jawa

Warga Sekitar Merapi Nekad Ambil Pakaian

Warga kembali dari pengungsian menuju kampung masing-masing di Sidorejo, Kemalang, Klaten, Jateng, Kamis (28/10/2010). FOTO : ANTARA/Andika Betha

YOGYAKARTA | SURYA Online - Beberapa warga Kaliurang yang sempat naik lereng Gunung Merapi untuk memeriksa rumah, Jumat (29/10/2010), berhamburan turun karena gunung teraktif di Indonesia itu pada pukul 06.10 WIB dan pukul 09.00 WIB kembali menyemburkan awan panas.  Padahal warga yang jumlahnya belasan itu akan memeriksa rumah sambil mengambil pakaian sebagai ganti di tempat pengungsian.

Mereka langsung tergesa-gesa turun sambil membawa pakaian dan perbekalan seadanya saat mendengar ada semburan awan panas Gunung Merapi. Mereka nekat mengambil pakaian ke rumahnya di lereng Gunung Merapi karena pakaian yang dikenakan selama di tempat pengungsian hingga kini belum ganti. Warga korban letusan Gunung Merapi yang berada di tempat pengungsian hanya membawa pakaian dan perbekalan seadanya.

Gunung Merapi masih terus mengeluarkan awan panas pascaerupsi pada Selasa (26/10) dan setidaknya sudah ada dua kali luncuran awan panas pada Jumat sejak pukul 06.00 WIB hingga pukul 09.00 WIB.  “Awan panas masih terus menerus keluar sehingga kami pun masih akan menetapkan Merapi dalam status awas,” kata Kepala Badan Geologi, R Sukhyar, di Yogyakarta, Jumat.

Berdasarkan data pengamatan di Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, terjadi dua kali awan panas yaitu pada pukul 06.10 WIB terjadi semburan awan panas sekitar tiga menit, dan luncuran awan panas pada pukul 08.41 WIB selama sekitar sembilan menit.  Namun demikian, pihak BPPTK belum dapat memastikan arah dan jarak luncuran karena kondisi cuaca di sekitar puncak Merapi berkabut.

Selain luncuran awan panas, juga terjadi 87 kali guguran, 53 kali gempa multiphase dan 16 kali gempa vulkanik.  Menurut dia, selain awan panas juga telah terlihat titik api diam di puncak Gunung Merapi yang biasanya akan diikuti dengan pembentukan kubah lava baru.

“Kemungkinan terjadi letusan sudah cukup kecil, namun yang perlu diwaspadai adalah posisi kubah lava tersebut sehingga bisa dilakukan antisipasi dini karena dikhawatirkan akan terjadi guguran awan panas apabila posisinya tidak terlalu stabil,” kata Sukhyar.

Selain awan panas guguran, Gunung Merapi juga masih memiliki ancaman lain yaitu banjir lahar apalagi saat hujan terjadi.  “Saat ada hujan, letusan sekunder di badan sungai masih mungkin terjadi karena ada material vulkanik bersuhu cukup tinggi di sungai tersebut,” katanya.

Sukhyar memperkirakan, material vulkanik yang dimuntahkan Gunung Merapi pada Selasa (26/10) mencapai sekitar 8 juta meter kubik, dan enam juta meter kubik di antaranya berada di Kali Gendol. Lereng Merapi di sisi selatan yang terbentuk dari tumpukan material vulkanik hasil erupsi 1911, lanjut dia, juga harus tetap diwaspadai karena merupakan batuan tua.

Penulis : Antara

Editor : Junianto Setyadi

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "