Home » Jawa

Ribuan Orang Antar ‘Profesor’ Merapi

Ribuan pelayat dari berbagai lapisan masyarakat mengantarkan almarhum juru kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan di Pemakaman Umum Dusun Srunen, Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Jogjakarta, Kamis (28/10).

Kalangan masyarakat sejak pukul 09.00 WIB telah memenuhi area makam yang terletak sekitar empat kilometer arah timur dari rumah Mbah Maridjan di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan. Selama prosesi pemakaman, isak tangis keluarga dan pekik takbir dari para pelayat terus mengalir.

Selain adik kandung Mbah Maridjan, Suwignyo, dan warga sekitar Dusun Srunen dan Desa Glagaharjo, tampak turut melayat pula utusan Keraton Jogjakarta, Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Prabukusumo, dan Gusti Kanjeng Ratu Pembayun yang merupakan adik dan putri Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Tampak hadir pula Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie, bersama anggota DPR dari Partai Golkar, Gandung Pardiman, artis ibu kota Doni Kusuma, Bupati Sleman Sri Purnomo, pengusaha jamu tradisional Irwan Hidayat, dan putri almarhum Gus Dur, Alisa Wahid.

Tak hanya jadi perhatian media dalam negeri. Pemakaman Mbah Maridjan juga diliput sejumlah media asing seperti CNN dan Reuters — bukti bahwa nama Mbah Maridjan mendunia.

Setelah disemayamkan di Aula Universitas Islam Indonesia di Jalan Kaliurang, Sleman, jenazah Mbah Maridjan langsung dibawa dengan ambulans menuju ke TPU Dusun Srunen, Glagaharjo bersama dengan empat jenazah lainnya yang dimakamkan di tempat tersebut.

Acara pemakaman sempat terlambat dua jam dari yang sudah dijadwalkan karena menunggu perwakilan dari pihak Keraton Jogjakarta. Baru pada pukul 12.00 WIB, prosesi dimulai.

Saat jenazah hendak dimasukkan ke lubang kubur, kiai menanyakan pada para pelayat, pendapat mereka tentang Mbah Maridjan semasa hidup. “Mbah Maridjan sae nopo awon para rawuh.” (Mbah Maridjan, baik apa tidak). Dijawab keras-keras oleh ribuan pelayat, “Sae! (baik) “. Kemudian, jenazah dimasukkan ke liang, seluruh pelayat mengumandangkan La illahaillallah berulang kali.

Ketika jenazah mulai dimasukkan ke liang lahat, suasana seketika jadi sangat penuh haru. Suwignyo, adik Mbah Maridjan, menangis sedemikian hebat hingga tidak mampu berdiri. Dia pun lalu dipapah warga untuk didudukkan di samping makam.

Usai upacara pemakaman, Asih, anak ketiga Mbah Maridjan, menegaskan ayahnya bukannya menolak imbauan pemerintah agar meninggalkan lereng Gunung Merapi. Sikap ngotot Mbah Maridjan untuk bertahan di sana adalah bentuk pelaksanaan tanggung jawabnya selaku juru kunci Gunung Merapi.

Sempat terjadi kericuhan kecil saat liang lahat akan ditutupi tanah. Para pelayat berebut untuk memasukkan tanah ke dalam lubang makam Mbah Maridjan. Untungnya, tak ada insiden berarti dalam kejadian ini. “Saya yakin Mbah (Maridjan) khusnul khotimah (mengakhiri hidup secara baik),” ucap salah seorang pelayat.

Sementara itu sebanyak 21 jenazah korban awan panas Gunung Merapi lainnya dimakamkan secara massal di pemakaman umum Dusun Sidorejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Kamis (28/10) siang.

Hingga semalam tercatat 34 korban tewas akibat letusan Merapi, dan puluhan lain luka bakar terkena awan panas (wedhus gembel).

Setara Profesor

Mbah Maridjan adalah juru kunci Merapi sejak tahun 1983. Nama Mbah Maridjan naik daun saat Merapi meletus pada 2006 lalu dan ia selamat. Saat itu, ia menolak untuk mengungsi meski dibujuk langsung oleh Sultan Hamengku Buwono X.

Sikap Mbah Maridjan menuai kecaman sekaligus pujian. Karena keberaniannya dan setia pada tugasnya merawat Merapi. Namun dalam letusan Merapi, Selasa (28/10) jadi tugas terakhir bagi sang kuncen. Dia ikut tewas ketika kampung asrinya, Kinahrejo diterjang wedhus gembel bersuhu lebih 600 derajat Celsius..

Pada Rabu pagi (27/10) pukul 06.05 WIB, jenazahnya ditemukan tewas di kamar rumahnya dalam posisi bersujud di atas sajadah menghadap kiblat. Sejumlah keterangan menyebut ia tewas saat sedang salat Magrib.

Merapi dan sosok Mbah Maridjan tidak bisa dipisahkan. Mbah Maridjan hampir sepertiga hidupnya dihabiskan untuk ‘membaca’ Merapi. Meski tidak bersekolah tinggi, kemampuannya melihat gejala alam Merapi tak kalah dengan guru besar atau profesor.

“Walau tidak berpendidikan, pengamalan empirik lebih dari profesor. Dia bisa memformulasikan dengan melihat gejala alam, mulai dari angin, gerak hewan dan lainnya,” kata Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta Prof Dr Edy Suandi Hamid MEc dilansir detikcom, Kamis (28/10).nant/tribunnews

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "