Dicat dengan Warna Cerah
SURABAYA - SURYA- Pemkot Surabaya akan memberi insentif pajak bumi dan bangunan (PBB) bagi pemilik gedung cagar budaya. Syaratnya, mereka bisa memelihara gedung dan mengecat dengan warna yang bisa menarik wisatawan.
Namun, pemberian insentif tersebut apakah berupa penggratisan atau beban pembayaran PBB dikurangi, masih menunggu rancangan peraturan daerah (raperda) yang sedang dibahas di DPRD Kota Surabaya. Sebaliknya, bagi mereka yang menelantarkan cagar budaya akan dikenai disentif.
”Karena kebetulan tahun 2011 hanya ada dua kota yang boleh kelola PBB sendiri. Surabaya dan Sinjai (Sulawesi Selatan),” papar Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya, di acara launching gedung-gedung cagar budaya di rumah dinasnya, Jl Sedap Malam, Kamis (28/10).
Menurutnya, pemberian insentif itu untuk menarik pemilik gedung cagar budaya agar mereka turut terlibat dalam perbaikan Kota Surabaya.
”Kalau mendatangkan ekonomi, mereka tidak akan menolak. Kalau tidak ada, mereka tentu tidak mau,” paparnya.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surabaya sendiri sudah diinstruksikan mendata semua bangunan cagar budaya di Kota Pahlawan dan klasifikasinya. “Pendataan berdasarkan undang-undang perlindungan cagar budaya,” ujarnya.
Tahun depan, pemkot akan memulai dari gedung-gedung miliknya dengan mengecat berbagai warna. Antara lain, pada 10 Nopember, gedung balai kota akan di cat dua warna. Untuk empat pilar dicat dengan warna batu kali. Ini memberi tanda, bahwa pemkot sekuat batu.
“Surabaya punya bangunan yang layak jadi tetenger dan itu sedang dirawat ulang,” terang Risma.
Ada juga gedung Atal Sport yang berada di seberang gedung Tunjungan Plasa. Gedung ini akan dicat putih dan merah. Perpaduan warna ini membuat gedung cagar budaya itu tampak cerah dan megah. Lalu Gedung Bioskop Indra dan Balai Pemuda yang saling berhadapan.
“Kalau Kota Surabaya ingin menjadi baik harus bersih, indah dan menarik. Untuk warna cat yang dipakai nanti tidak meninggalkan kesan herritage, kemegahan dan keformalan gedung. Beberapa gedung nanti bisa dibuat cafe life time. Kalau biasanya buka sampai jam lima sore, nanti bisa buka sampai jam lima pagi,” kata Risma.
Ketua Surabaya Heritage Freddy H Istanto mengatakan, insentif itu sangat membantu pelestarian. Selama ini PBB yang tinggi menjadi penyebab pemilik melepaskan bangunan cagar budaya ke pihak lain. Karena terletak di daerah strategis, sebagian bangunan cagar budaya akhirnya dihancurkan dan diganti bangunan baru dengan orientasi bisnis.
Saat ini pemerintah sedang mengecat Balai Kota, Balai Pemuda, bekas Bioskop Indra, dan toko alat olahraga Atal Sport di Jl Tunjungan. Pengecatan bekerja sama dengan Mataram Paint dan Universitas Ciputra.
“Kami menawarkan konsep warna yang pas dan tidak menghilangkan kesan keaslian gedungnya,” kata Freddy Pangkey, Direktur Pelaksana Mataram Paint.iks
Editor : jps