Home » Berita Terkini

Maling Disilakan Masuk, Rumah Brigjen Digarong

Nyaru Tukang, Gondol Emas Rp 1 Miliar
Surabaya - Surya-
Di saat polisi mulai meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah segala kemungkinan kejahatan dan serangan teroris, aksi pencurian rumah mewah kembali terjadi di Surabaya. Kali ini yang menjadi sasaran malah rumah seorang jenderal bintang satu.

Pembobolan rumah dengan menyaru sebagai tukang, terjadi di rumah Brigjen Pol Wahyu Indra Pramugari di Jl Gayungsari Barat II, Rabu (29/9). Akibat pembobolan itu penjahat diperkirakan menggondol harta korban berupa uang tunai Rp 5 juta dan perhiasan yang diperkirakan mencapai Rp 1 miliar.

Pembobolan rumah mantan Kapolresta Surabaya Selatan itu diduga dilakukan oleh empat kawanan penjahat dengan mengendarai dua motor. Saat kejadian ada dua pelaku yang masuk dan beraksi di dalam rumah, sedangkan dua pelaku lain berjaga-jaga di luar rumah korban. Sedangkan di dalam rumah hanya ada tiga orang yakni dua pembantu Dikri dan Aan serta Dira, anak Brigjen Wahyu. Brigjen Wahyu Indra Pramugari sendiri kini bertugas sebagai Irwil VI Itwasum Mabes Polri.

Penjahat masuk ke dalam rumah tak ubahnya seorang tamu yang dipersilakan masuk. Mereka berlagak seperti tukang yang akan mengukur kamar untuk mengganti pintu. Pelaku juga meninggalkan rumah dengan sepengetahuan dua pembantu. Penghuni rumah baru tahu bahwa mereka jadi korban kejahatan beberapa jam setelah para pelaku meninggalkan rumah berlantai tiga itu.

Dikri, 16, salah satu pembantu di rumah korban menyatakan, kejadian berlangsung sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu ia melihat ada dua orang mengendarai motor Yamaha Jupiter warna biru yang mengetuk-ngetuk pintu pagar. ”Mereka mengaku disuruh ibu (istri Brigjen Wahyu) untuk mengukur kamar, lalu yang membukakan pintu Aan, mereka masuk lewat pintu yang pagar kecil itu,” ujar Dikri dengan menunjuk pintu pagar di sisi barat pintu pagar utama.

Setelah masuk ke dalam rumah, dua pelaku yang diketahui masing-masing berperawakan pendek dan satunya tinggi lalu diantarkan ke lantai dua. Mereka kemudian mengeluarkan alat meteran dan mengukur beberapa bagian kamar sambil dibantu kedua pembantu. Sementara Dira masih tidur di dalam kamarnya. Kedua pembantu sempat curiga ketika melihat pelaku mencongkel pintu kamar utama, tapi mereka justru mengabaikan kejadian itu dan tidak berpikir macam-macam.

Beberapa saat kemudian kedua pelaku berpamitan pulang dan diantar pembantu hingga ke luar pagar. Dikri mengetahui ada dua pelaku lain yang menunggu di luar rumah dengan mengendarai motor Honda Supra Fit. “Mereka keluar tidak terlihat membawa apa-apa, tapi kelihatannya ada yang disembunyikan di balik baju karena di bagian dadanya agak menggelembung,” tambah Dikri.

Keterangan Dikri tidak jauh berbeda dari keterangan saksi lain, Sahri yang merupakan pekerja bangunan yang bekerja di depan rumah korban. “Tadi memang ada tamu, saya tidak tahu kalau mereka akan berbuat jahat, mereka masuk juga mengucapkan Assalamualaikum,” ujar Sahri. Ia menyebut saat itu dua orang tamu masuk setelah dibukakan pintu oleh pembantu korban. Menurut Sahri, sepuluh menit kemudian ada dua orang lagi yang datang mengendarai motor Yamaha Vega (bukan Honda Supra Fit seperti kata Dikri) menunggu di depan rumah.

Keluarga korban baru melapor ke polisi ketika dua pembantu memberitahu kedatangan dua orang tamu pada Dira. Dira yang kemudian memeriksa ruang utama mendapati beberapa tempat penyimpanan barang berharga telah rusak lalu melapor pada orangtuanya dan polisi.

Mendapat laporan pembobolan rumah polisi, petugas Polsekta Gayungan, Polrestabes Surabaya dan Polda Jatim segera mendatangi lokasi kejadian dan melakukan pemeriksaan. Petugas identifikasi dari Polrestabes Surabaya dan unit K9 (anjing pelacak) juga nampak melakukan pemeriksaan di rumah korban. “Yang hilang uang tunai Rp 5 juta dan perhiasan warisan dari orangtua, nilainya saya tidak tahu,” ujar seorang polisi di lokasi. Informasi yang beredar di lingkungan wartawan berdasarkan sumber-sumber tidak resmi, emas yang dicuri senilai sekitar Rp 1 miliar.

Sementara itu, Ketua RW 1 Pagesangan Triwianto menyatakan, dirinya baru mengetahui ada perampokan di wilayahnya Rabu ((29/9) siang. “Saya tidak tahu apa saja kerugiannya, itu saya serahkan polisi, tapi kondisi jalan ini memang setiap hari tidak ada satpam, jadi cukup rawan,” ungkap Tri saat ditemui di lokasi.

Pembobolan rumah dengan modus pelaku menyaru sebagai tukang itu persis sama dengan modus kejahatan yang terjadi pada 13 Juli 2010. Saat itu kawanan penjahat meng-obok-obok tiga rumah di kawasan Surabaya Selatan yang salah satunya adalah rumah Kabid Dokkes Polda Kalsel AKBP Setyo Purwanto di Jl Jambangan IA. Pada bulan Juli itu di hari yang sama penjahat juga beraksi di rumah lain yakni di rumah Hidayat Nugroho di Wisma Pagesangan Blok VII dan di rumah M Taufik, 67, seorang pengusaha garmen di Jl Gayungsari Barat X.

Sama dengan pola perampokan tiga rumah sekaligus pada bulan Juli lalu, pada Rabu (29/9) kemarin beberapa informasi menyebutkan ada kejadian serupa yang terjadi hampir bersamaan di Jl Ketintang Madya. Tapi belum ada keterangan terkait kejadian yang satu ini. Hingga Rabu (29/9) malam belum ada keterangan resmi dari polisi terkait pembobolan dua rumah itu.

Kompol Sudamiran, Wakasatreskrim Polrestabes Surabaya menolak memberikan keterangan kepada wartawan. Dia mempersilakan awak media menghubungi Kasatreskrim, namun saat dihubungi, AKBP Anom Wibowo tidak merespons panggilan.nrey

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "