Home » Malang Raya

Belajar Genjot PAD, Dewan Kunker ke Batam

Kepanjen - Surya- Seminggu ini Gedung DPRD Kabupaten Malang terlihat sepi. Kadang, hanya ada satu atau dua anggota dewan yang sempat terlihat. Namun tak lama kemudian, mereka kembali tak terlihat alias pulang. Alasannya, tak ada teman mengobrol karena semuanya tak ada yang ngantor.

Seperti Selasa (28/9) siang, gedung dewan itu terasa kosong melompong. Semua ruangan tertutup rapat karena tak ada satu pun anggota dewan yang ngantor. Agak siang, hanya terlihat Drs Teguh Hariyono, anggota Komisi C.

Selama dua jam di ruangan Komisi Anggaran, Teguh hanya seorang diri. Karena tak ada teman yang datang, akhirnya mantan wartawan radio ini kembali pulang. Ditanya soal ketidakadanya anggota dewan lain, Teguh tak begitu berani menjelaskan.

“Ada acara keluar,” kata Teguh, Selasa (28/9).

Kosongnya gedung dewan dalam beberapa hari ini, ternyata anggotanya sibuk kunjungan kerja ke luar kota.

Untuk Badan Legislatif (Banleg), melakukan kunjungan kerja ke Jakarta. Materinya studi banding soal peningkatan ekonomi daerah, termasuk nasib karyawan outsourching. Padahal, dua tahun lalu dewan juga telah melakukan studi banding masalah serupa.

Sedang Badan Anggaran (Banggar) yang terdiri 21 anggota belum termasuk Sekretaris Dewan (Sekwan), melakukan kunjungan kerja ke Batam, tepatnya DPRD Kota Batam.

Dalihnya, melakukan studi banding terkait tingginya PAD kota itu dibandingkan PDAM Pemkab Malang yang hanya Rp 124 M per tahun. Untuk PAD Kota Batam mencapai Rp 194 per tahun.

Hari Sasongko, Ketua DPRD Kabupaten Malang, membenarkan kalau anggotanya telah melakukan kunjungan kerja ke Jakarta dan Batam.

Untuk yang ke Batam, mereka berangkat dari Malang, Minggu (26/9) dan Selasa (28/9) siang kemarin, sudah dalam perjalanan pulang.

“Nggak benar kalau jalan-jalan. Kami melakukan kunjungan kerja atau studi banding terkait PAD Kota Batam yang tinggi dibandingkan PAD Kabupaten Malang. Kami bisa menyadari kalau PAD Kota Batam tinggi karena kota perdagangan,” tegas Sasongko, Selasa (28/9).

Sasongko menampik kalau acara yang dibiayai APBD itu sekadar nglencer. Katanya, itu acara yang sudah teragendakan, bukan hanya jalan-jalan. “Tapi, kalau sudah acara, mau jalan-jalan, ya nggak apa. Itu hak mereka,” ungkapnya.

Informasinya, biaya yang dihabiskan sekali kunjungan ke luar kota, mencapai sekitar Rp 150 juta. Itu mulai biaya transportasi, uang saku dewan Rp 1,5 juta per anggota, uang saku Sekwan Rp 750.000 per orang.

Yang tak kalah besanya, biaya menginap di hotel selama dua hari. Itu jelas hotel terbagus di kota itu dengan fasilitas lux.

Setiap tahun, anggaran jalan-jalan dewan yang dibalut studi banding mencapai Rp 3 M.nfiq

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "