Home » Malang Raya

Murid ‘Misuhi’ Guru Sudah Lumrah di Kelas Ini

Kelas Layanan Khusus, Sekolah Istimewa Milik Si Papa
Malang - SURYA-
Nur Musliha tak pernah bermimpi bisa menyekolahkan anaknya. Bagi janda buruh rumah tangga ini, pendidikan anak terlalu mewah. Namun, kelas ‘istimewa’ di SDN Kota Lama V mengubah segalanya.

Kelas itu dikenal dengan nama Kelas Layanan Khusus (KLK). KLK merupakan program Kementerian Pendidikan Nasional yang dirintis sejak 2003 untuk mengentas anak putus sekolah.

Berkat kelas ini pula, anak Musliha, Adi Mustofa, 7, dan ratusan anak tak beruntung lainnya, bisa bersekolah tanpa dipungut beaya sepersen pun.

Meski sudah tujuh tahun, baru ada 70 KLK di Indonesia.Bandingkan dengan SD yang mencapai puluhan ribu, atau kalau mau lebih ekstrem, dengan jumlah anak putus sekolah.

Di Kota Malang, baru ada dua SD yang menyelenggarakan KLK. Kedua SD harapan kaum papa dalam mencicipi pendidikan itu adalah SDN Kota Lama V dan SDN Ciptomulyo I.

Namun, saya lebih tertarik mengunjungi SDN Kota Lama V, karena untuk urusan KLK, SD ini kabarnya paling berpengalaman. SD yang terletak di daerah miskin Muharto ini, sudah eksis sejak program KLK ini diwujudkan 2003 lalu.

KLK memang penuh cerita mengharu biru. Kelas ini lebih mirip keluarga pengasuh, daripada sebuah ekosistem formal pendidikan. Sosok guru yang saat kecil saya kenal sebagai pendidik, lebih mirip bapak di kelas ini.

Itu tak mengherankan, karena mental dan sikap para siswa di kelas ini, rata-rata terbentuk dari lingkungan ‘keras’. Kepala SDN Kota Lama V, Sujono, mengatakan, hampir selalu ada anak-anak yang luar biasa nakal tiap tahun penyelenggaraan KLK. “Murid misuhi (mengumpat) guru itu hal biasa, mas. Dikasih pe-er sepuluh soal, kadang-kadang murid malah nawar jadi lima soal,” cerita Sujono.

Bahkan, hal ‘biasa’ yang tentu saja terdengar ‘luar biasa’ di telinga saya, adalah soal kelakukan sejumlah siswanya. Kata Sujono, para guru tak kaget lagi kalau ada siswa yang maju ke depan, dan tiba-tiba merogoh saku celana safari mereka, untuk minta uang.

Kondisi itulah yang menurut Sujono, membuat kekerasan tak mungkin diterapkan di sekolah ini. Sedikit saja guru membentak, sudah jaminan para siswa bakal malas kembali ke sekolah. “Makanya, guru yang pintarnya setinggi langit belum tentu bisa bertahan di sini. Guru harus punya kesabaran yang luar biasa buat ngemong mereka,” kata Sujono. aji bramastra

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "