SURABAYA - Surya- Ketika masyarakat masih menunggu tindakan pemerintah terkait maraknya ledakan tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram (kg), PT Pertamina (persero) justru meluncurkan dua produk elpiji nonsubsidi baru, ukuran 9 dan 14 kg. Dibanding produk elpiji bersubsidi, kedua produk ‘premium’ ini memiliki harga lebih mahal, namun dengan jaminan pelayanan dan pengamanan lebih optimal.
Vice President Corporate Communication Pertamina Mochamad Harun mengatakan, kedua produk elpiji itu sudah diluncurkan sejak Juli lalu. Untuk tahap awal, wilayah penjualannya masih di kawasan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), menyusul kemudian wilayah lain di Indonesia.
“Saat ini tahap penjajakan pasar, namun dari evaluasi sementara, animo konsumen cukup bagus. Dari data yang kami terima, sampai akhir Juli lalu penjualan tabung 9 kg sebanyak 1.200 tabung, sedang ukuran 14 kg mencapai 4.275 tabung,” kata Harun ketika dihubungi Surya, Senin (30/8).
Berbeda dengan elpiji bersubsidi yang selama ini beredar, lanjut Harun, elpiji premium ini memiliki keunggulan. Didesain premium dengan warna emas/gold dan dari sisi harga, tentu saja jauh lebih mahal karena disesuaikan dengan harga pasar dan tidak disubsidi.
Untuk ukuran 9 kg, harga yang dipatok Pertamina Rp 70.000 per tabung. Sedang ukuran 14 kg seharga Rp 110.000 per tabung. Bandingkan dengan harga elpiji bersubsidi, ukuran 3 kg dipatok Rp 12.750 per tabung atau Rp 4.250 per kg, sedang ukuran 12 kg Rp 70.000 per tabung, atau Rp 5.835 per kg.
Meski lebih mahal, pihaknya memberikan layanan khusus kepada konsumen pengguna kedua tabung itu. Melalui jaringan produksi dan penjualan anak perusahaan Pertamina, PT Patra Trading, perusahaan ini telah menyiapkan beragam fasilitas antarjemput untuk pemesanan maupun pengisian tabung.
“Kedua tabung elpiji baru itu juga didesain khusus untuk menjamin keamanan bagi pemiliknya, yakni setiap tabung memiliki dua katup (valve) pengaman di bagian atas dan bawah,” ujar Harun.
Khusus bagi konsumen tabung 12 kg tak perlu khawatir. Mereka tidak perlu lagi membeli tabung baru karena bisa menukarkan tabung 12 kg yang dimilikinya dengan tabung-tabung baru. “Jadi, konsumen hanya membayar isinya,” papar Harun.
Terkait jaminan keamanan terhadap produk elpiji premium, pihaknya berupaya memberikan kenyamanan bagi konsumen. Soal desain baru, memang masih diterapkan pada tabung 9 dan 14 kg, dan belum bisa diterapkan pada tabung elpiji bersubsidi ukuran 3 maupun 12 kg.
“Butuh tabung ukuran agak besar untuk bisa memasangkan dua katup. Selain itu, dibutuhkan cost lebih dan untuk ini investasinya juga tak sedikit,” ungkapnya.
Ia menampik jika munculnya kedua produk baru itu memberi peluang bagi usaha pengoplosan elpiji bersubsidi ke jenis premium. Pasalnya, baik stasiun pengisian bulk elpiji (SPBE) maupun distribusi hingga ke konsumen ditangani dan diawasi langsung oleh PT Patra Trading. “Makanya kita serahkan ke anak perusahaan, agar tak bercampur dengan agen atau pengecer elpiji subsidi. Ini kita awasi bener,” tegas Harun.
Kapan elpiji premium mulai masuk Jawa Timur? Harun menyerahkan sepenuhnya pada konsumen. Pihaknya menjadwalkan awal 2011 elpiji premium masuk pasar Jatim, namun jika permintaan ternyata melebihi proyeksinya, bukan tidak mungkin rencana itu dipercepat. “Tidak menutup kemungkinan akhir tahun ini masuk Jatim,” imbuh Harun. ndio
Editor : jps