Kediri - Surya- Tim ahli Puslitbang Kimpraswil Departemen Pekerjaan Umum (PU) bersama tim penyidik Tipikor Polda Jatim dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) semakin intensif meneliti dugaan penyimpangan pembangunan Monumen Simpang Lima Gumul (SLG).
Beton penyangga di setiap bagian seluruhnya telah diambil sampelnya untuk dilakukan tes penelitian di laboratorium Puslitbang Kimpraswil di Bandung. Menurut dugaan penyidik dari bagian beton itulah yang paling banyak terjadi penyimpangan. Penelitian sekaligus untuk mengetahui jumlah kerugian negara.
Hal itu membuat tim penyidik kasus dugaan korupsi kini lebih fokus meneliti ukuran dan campuran beton yang dipakai membangun Monumen SLG. Seluruh ruangan mulai dari lantai dasar hingga lantai enam telah diambil sampelnya melalui tes cordrill, scanner test serta hammer test.
Pantauan Surya, Senin (30/8) kemarin tim ahli bangunan itu sedang menyelesaikan penelitian cordrill test dan scanner test di lantai 6 Monumen SLG. Ada belasan titik yang telah dibor dengan alat khusus untuk diambil sampel betonnya.
Petugas juga memakai peralatan scanner khusus untuk mengetahui posisi besi berikut ukurannya. Sehingga penelitian yang dilakukan tim ahli itu hasilnya bakal lebih presisi, jika ditemukan penyimpangan dipastikan pelakunya bakal sulit berkelit.
Sumber Surya menyebutkan, tim ahli bangunan dari Puslitbang itu telah menemukan indikasi penyimpangan dari campuran beton yang dipakai pemborong. Selain itu ditemukan juga besi beton yang bengkok serta tidak tepat posisinya saat dilakukan pengecoran.
Namun sejauh mana dugaan penyimpangan itu masih harus dikroscek terlebih dahulu dengan hasil tes di laboratorium. “Dari sampel beton yang kami ambil di setiap ruangan bakal diketahui kekuatan berikut campurannya,” ungkap seorang petugas.
Namun petugas Tipikor Polda Jatim, Kompol Suminto saat ditemui wartawan belum bersedia memberikan penjelasan setelah empat hari melakukan penelitian bersama tim dari KPK dan Puslitbang Kimpraswil. “Tidak ada komentar,” ujarnya.
Dikonfirmasi terpisah Kepala Dinas PU Kabupaten Kediri Dwi Hari Winarno menjelaskan, penelitian yang dilakukan tim ahli dari Puslitbang Kimpraswil masih akan diteliti lagi di lab. Terkait temuan besi bengkok di salah satu beton yang diteliti juga diakui, tapi bukan sebagai penyimpangan. “Saat pengecoran besinya menonjol,” ujarnya.
Dijelaskan, penelitian fisik bangunan itu untuk menuntaskan dugaan penyimpangan pembangunan Monumen SLG. Karena dari hasil audit BPK sebelumnya tidak ditemukan adanya penyimpangan.
Seperti diberitakan sebelumnya, setelah sempat terkatung-katung dua tahun, tim penyidik Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polda Jatim kembali menyeriusi penyelidikan kasus dugaan korupsi pembangunan Monumen Simpang Lima Gumul (SLG). Tim penyidik Tipikor Polda Jatim datang bersama petugas dari KPK serta tim ahli peneliti bangunan dari Puslitbang Departemen PU.
Penelitian menyeluruh terhadap bangunan Monumen SLG itu diperkirakan membutuhkan waktu 2 - 3 hari. Direktur PT Triple S, Soni Sandra, sebagai rekanan pembangun SLG, menyambut baik pemeriksaan itu. Dengan adanya pemeriksaan, bakal ada kepastian hukum terkait pembangunan SLG. Pembangunan Monumen SLG menghabiskan sekitar Rp 17 miliar, dan total biaya pembangunan SLG sekitar Rp 300 miliar.ndim
Editor : jps