Diiming-imingi Dibelikan Buku Gambar
SURABAYA - SURYA- Meskipun baru-baru ini di sejumlah daerah di Jatim dilanda isu penculikan yang berujung pada amuk massa salah sasaran, namun masyarakat harus tetap mewaspadai aksi penculikan. Kalau tidak, apa yang dialami tiga siswa Sekolah Dasar (SD) di Surabaya ini bisa menimpa anak Anda.
Peristiwa penculikan itu terjadi di SDN Dukuh Kupang VIII Surabaya, Senin (30/8) pagi. Pelakunya, Suyanto, 25, warga Dukuh Kupang Barat. Sedangkan korbannya adalah tiga siswa sekolah tersebut, yakni siswi kelas I Cindy Marcella, 7; siswa kelas II Imron Sadewo, 8; dan siswa kelas II Arif Bachtiar Febrianto, 7.
Aksi Suyanto nyaris berjalan lancar jika saja tidak ada wali murid yang membuntuti dengan sepeda motor kemudian menghentikan angkutan kota (angkot) yang ia tumpangi bersama tiga bocah korbannya. Pemuda berambut ikal itu sudah berhasil membujuk ketiga korban yang masih lugu untuk keluar dari sekolah dan menggiring mereka naik angkot.
Kapolsekta Dukuh Pakis AKP Lukito mengatakan, aksi penculikan tersebut digagalkan setelah salah seorang wali murid mencurigai gerak-gerik pelaku. Begitu mengetahui pelaku berhasil merayu dan membawa ketiga korban naik angkot, wali murid bernama Hariono itu langsung mengejar laju angkot dan meminta sopir menghentikan laju angkotnya.
“Wali murid itu lalu meminta sopir angkot menanyakan ke mana bocah-bocah itu dibawa. Ternyata tersangka tidak berkutik saat ditanya. Tahu dia sengaja menculik, pelaku langsung dihajar ramai-ramai. Beruntung ada anggota polisi berada dekat tempat kejadian yang langsung menangkapnya,” ujar Lukito di Mapolsekta Dukuh Pakis, Senin (30/8) siang.
Pelaku kemudian diperiksa dan ditahan di Mapolsekta Dukuh Pakis, sedangkan ketiga siswa dikembalikan kepada keluarganya setelah polisi memanggil keluarga dan kepala sekolah.
Beruntung ketiga korban tidak sampai mengalami shock, ketika ditanya di Mapolsekta. Cindy Marcella dan Arif tercatat sebagai warga Dukuh Pakis VI B, sedangkan Imron tinggal bersama keluarganya di Dukuh Pakis VIC.
Penculikan tiga siswa SDN Dukuh Kupang VIII itu bermula ketika pelaku, Suyanto masuk ke dalam sekolah dan membujuk beberapa siswa, Senin (30/8) sekitar pukul 07.00 WIB. Aksi itu dibenarkan Cindy yang mengaku mengikuti pelaku karena diajak membeli buku.
Pada saat kejadian, Cindy berada di ruang kelas kakaknya, Erika Andriani, 9, yang duduk di bangku kelas II. “Saya diajak membeli buku dan akan dikasih uang, jadi saya ikut saja,” ujar bocah berambut lurus itu.
Anak bungsu dari sembilan bersaudara itu tanpa ragu mengikuti arahan pelaku karena ada dua teman kakaknya, yakni Imron dan Arif, yang juga mengikuti pelaku.
Keterangan lain menyebutkan, beberapa orangtua atau wali murid sempat melihat tersangka mondar-mandir di sekitar sekolah sejak pagi hari. Kakak Cindy, Erika menyebutkan, pagi kemarin tersangka masuk ke dalam kelasnya sebelum pelajaran dimulai. “Dia bawa helm ke dalam ruang kelas dan mengajak membeli buku,” ujar Erika. Saat itu Erika sedang bermain dengan adiknya, Cindy, yang juga berada di dalam kelas IIB.
Sesaat kemudian Erika melihat adiknya (Cindy) dan dua teman kelasnya (Imron dan Arif) berjalan keluar mengikuti tersangka. ”Saya bilang kalau Cindy itu adikku, tapi orang itu (tersangka) bilang kalau dia teman dari kakak mereka,” tambah bocah yang wajahnya mirip Cindy itu. Erika tidak bisa berbuat banyak ketika tersangka terus menggiring ketiga bocah menyusuri jalan ke pintu belakang sekolah.
Tersangka menggiring ketiga bocah melewati kantin dan kamar mandi sekolah dan keluar lewat pintu belakang sekolah yang tidak terjaga. Dari pintu belakang, mereka berempat lalu menyusuri gang perkampungan kecil hingga tembus ke Jl Mayjen Sungkono. Sesampainya di tepi jalan raya, tersangka mengajak ketiga siswa naik angkot lin TV.
Namun aksi tersangka itu diam-diam diawasi seorang wali murid bernama Hariono yang akhirnya membongkar aksi penculikan tersebut.
Suyanto leluasa menjalankan aksinya karena sudah mengetahui kondisi sekolah itu. Beberapa orang di sekolah itu menyebut jika pemuda itu adalah alumni salah satu SDN di lokasi itu. Informasi lain menyebutkan jika pelaku juga memiliki saudara yang kini bersekolah di SDN Dukuh Kupang VIII. ”Dia (pelaku) sering datang ke sekolah, saya tahu dia, dia itu kakaknya teman saya,” ujar seorang siswa kelas VI SDN Dukuh Kupang VIII.
Kumpulkan Kepala Sekolah
Kepala SDN Dukuh Kupang VIII Siti Maisaroh mengaku, tak tahu pasti kronologi terjadinya penculikan itu. “Saat tiba di sekolah, saya tiba-tiba diberitahu satpam kalau saya diminta datang ke Polsek,” ujar Siti saat ditemui di sekolah, Senin (30/8).
Lebih lanjut kepala sekolah berjilbab itu menyatakan, pada saat kejadian pelajaran sekolah belum dimulai. Sekolah yang berada dalam satu kompleks dengan SDN Dukuh Kupang I dan TK Panca Bhakti itu baru memulai jam pelajaran pada pukul 08.00 WIB.
Saat ditanya tentang pintu belakang sekolah yang tidak ditutup, Siti menyatakan, jika pintu belakang itu menjadi jalan alternatif bagi siswa yang rumahnya di perkampungan belakang sekolah. “Pintu itu memang terbuka selama jam pelajaran sekolah, karena banyak siswa yang melalui jalan itu,” terang Siti yang memimpin SD itu sejak 2007.
Siti mengatakan, dirinya dalam waktu dekat akan mengumpulkan kepala sekolah di kompleks sekolahnya untuk mengambil langkah-langkah guna mengantisipasi peristiwa itu tak terjadi lagi.
Kakak Cindy, Upik Desiana M, 18, mengaku tidak menyangka jika adik bungsunya itu akan menjadi korban penculikan. Seperti rutinitas setiap hari, Senin (30/8) pagi, Upik mengantar empat adiknya ke sekolah secara bersamaan. Ia menurunkan tiga adiknya (Cindy Marcella, Erika Andriani, dan Novia Andriani) di depan SDN Dukuh Kupang VIII.
”Ada pak satpam yang menyeberangkan dan mengantakan tiga adik saya itu masuk sekolah, setelah itu saya mengantarkan adik saya yang beda sekolah. Saya tidak mengira ada penculik di dalam sekolah,” ujar Upik saat ditemui di Mapolsekta Dukuh Pakis.
Polisi kini masih terus melakukan pemeriksaan pada pelaku untuk mengetahui kemungkinan adanya jaringan di belakang aksi penculikan itu. Saat diperiksa, pelaku mengaku jika ia nekat membawa kabur tiga siswa SD itu karena mendapat tawaran dari seseorang yang mau memberi uang jika dirinya menyerahkan anak kecil.
”Ada orang yang menawarkan memberi Rp 200 ribu jika saya menyerahkan satu anak,” ujar Suyanto di Mapolsekta Dukuh Pakis.
Kapolsekta Dukuh Pakis AKP Lukito menambahkan, pelaku sudah menyebut satu nama lain yang ia sebut sebagai rekan kerjanya. Tapi ia meragukan keterangan yang disampaikan pelaku, mengingat nama orang yang disebutkan itu ternyata adalah warga yang tidak tahu menahu dengan kelakuan pelaku.
”Satu pelaku lain yang disebutkan itu masih meragukan, tapi kami akan terus melakukan pengembangan,” ujar Lukito.nrey
Editor : jps