SURABAYA | SURYA Online - 29 peristiwa kebakaran terjadi di Surabaya selama 20 hari pada masa Ramadhan 1431 Hijriah, kata Kasi Pencegahan dan Pengendalian Dinas Pemadam Kebakaran (PMK) Kota Surabaya Ari Bekti Iswanto di Surabaya, Senin (31/8/2010).
“Kebakaran itu terdiri dari delapan bangunan atau industri, 13 lahan kosong dan sisanya kebakaran mobil, SPBU, dan benda lainnya. Dari jumlah itu, satu kebakaran terjadi di wilayah Sidoarjo dan satu lagi di wilayah Gresik,” ujarnya.
Untuk kebakaran yang terjadi sejak Januari 2010 hingga kini tercatat 118 peristiwa di Surabaya dengan kebakatan terakhir yang meludeskan tiga toko di Jalan Baliwerti, Surabaya, pada Minggu (30/8/2010).
“Saat Sahur dan setelah Buka Puasa menjadi waktu yang paling rawan terjadinya kebakaran, karena pada waktu itu, orang cenderung menyalakan kompor untuk sekedar menghangatkan makanan,” kata Ari.
Namun, pemanasan belum tuntas, kompor ditinggal pergi Shalat Tarawih atau tertidur, padahal kompor masih menyala, karena itu masyarakat diimbau untuk menunggui kompor hingga benar-benar mati bila menghangatkan makanan.
Demikian pula rumah yang ditinggal dalam kondisi kosong, akan berpotensi terjadi hubungan arus pendek, karena itu jangan pernah meninggalkan “steker” atau “charger handphone” terpasang pada terminal listrik, meski ponsel sudah tercabut.
“Masalahnya, dalam kondisi semacam itu, maka aliran listrik masih menyala. Jika listrik semakin lama makin panas akan memuai dan memicu ledakan. Saat ditinggal, listrik terkadang ‘overload’ dan menambah daya atau tekanannya sendiri. Akibatnya, terjadi lonjakan tegangan yang bisa menimbulkan kebakaran,” jelas Ari.
Dia mengungkapkan, selama Ramadhan ini, mayoritas kebakaran disebabkan oleh korsleting instalansi arus listrik.
“Sekitar 90 persen disebabkan oleh listrik. Jadi, kita harus waspada dengan listrik di rumah,” tutur Ari.
Oleh karena itulah, dia mengimbau kepada masyarakat agar tidak meninggalkan aliran listrik dalam keadaan menyala.
“Jika tidak digunakan atau ditinggal melaksanakan ibadah ke masjid, sebaiknya dimatikan,” himbaunya.
Sumber : ant
Editor : Sugeng Wibowo