Home » Citizen Reporter

Patrol dan Kebersamaan

Leo Reza Irawan

Mahasiswa FISIP Universitas Airlangga

email penulis

Salah satu hal yang selalu saya nantikan saat Ramadan tiba adalah suara musik patrol yang membangunkan saya untuk sahur setiap dini hari. Patrol adalah musik yang dihasilkan dari bunyi-bunyian berbagai instrumen yang dimainkan sekelompok orang dengan tujuan membangunkan sahur di bulan Ramadan yang dilakukan dengan berkeliling.

Alat musik yang digunakan bukanlah alat musik formal yang umum melainkan lebih memanfaatkan peralatan-peralatan rumah tangga seadanya untuk menghasilkan efek bising. Instrumen musik yang kerap dipakai seperti kentongan, panci, dan alat-alat dapur lainnya. Patrol menjadi salah satu budaya saat Ramadan yang berkembang dan dapat ditemukan pada masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Di kawasan Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo budaya patrol masih berkembang dan masih dapat ditemukan.

Keberadaan budaya patrol setiap Ramadan di kota besar seperti Surabaya cukup unik. Hal ini tidak lain karena secara sosiologis masyarakat perkotaan kerap diidentifikasikan dengan karakteristik yang cenderung individualis, rasional, materialistis, dan karakteristik lain yang menonjolkan kurangnya kepedulian masyarakat terhadap individu lain di komunitasnya. Patrol merupakan budaya komunal yang menunjukkan kuatnya komunalitas dan kebersamaan masyarakat.

Berkembangnya budaya patrol di tengah masyarakat urban seperti Surabaya dapat menjadi indikator bahwa di tengah-tengah masyarakat urban seperti Surabaya dan sekitarnya masih tumbuh spirit kebersamaan, komunalitas, dan kepedulian terhadap sesama.

Bagaimana dengan fenomena patrol kontemporer? Patrol sebagai sebuah budaya yang muncul setiap Ramadan mengalami perkembangan yang cukup bertolak belakang. Di satu sisi, budaya patrol berawal dan berkembang di kampung-kampung. Hal ini menunjukkan patrol tumbuh di tengah-tengah masyarakat sebagai bentuk semangat kebersamaan dan kepedulian dalam menjalankan ibadah puasa dan menyambut Ramadan. Di sisi lain, patrol sebagai sebuah budaya saat ini telah “naik kelas”. Mal-mal kerap menyelenggarakan lomba patrol sebagai salah satu acara untuk memeriahkan dan menyambut Ramadan.

Kelompok patrol yang dahulu berkeliling kampung sekarang tampil di mal dan televisi. Alat musik yang digunakan lebih memadai dan musik yang dimainkan rapi dan enak didengarkan. Semoga hal ini berarti semangat kebersamaan yang mendasari muncul dan berkembangnya budaya patrol menular atau diangkat ke tingkat yang lebih tinggi dan bukan sekadar bentuk komodifikasi patrol sebagai salah satu komoditas di tengah pusaran kapitalisme saja.n

Editor : jps

" Jika Anda ingin mempublikasikan kembali tulisan ini di website atau blog Anda, mohon cantumkan link aktif menuju artikel yang bersangkutan termasuk semua link yang ada di dalam artikel tersebut, terima kasih. "