Yusak Anshori
Dosen Pascasarjana STIE Perbanas Surabaya
Gubernur Jawa Timur pada pidato memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia mengatakan bahwa kemiskinan di Jawa Timur tahun 2010 berjumlah 5.529.300 orang. Itu lebih besar jika dibandingkan tahun 2009.
Setahun lalu jumlah orang miskin di wilayah ini 6.022.590 orang atau terjadi penurunan sebesar 1,42 persen (Surya 18/8). Meskipun demikian masih dengan data yang sama berarti jumlah kemiskinan di Jawa Timur sebesar 15,3 persen dari jumlah penduduk Jawa Timur. Ini merupakan jumlah yang cukup signifikan.
Pembangunan Provinsi Jawa Timur beberapa tahun terakhir ini menunjukkan hasil yang cukup bagus khususnya kota Surabaya dan kota-kota satelit di sekitarnya, mulai dari pedesterian, penghijauan, taman kota, dan infrastruktur lainnya. Akan tetapi, semua itu masih dalam konteks pembangunan fisik padahal masih ada satu aset provinsi yang dapat dapat dibangunkembangkan dan memiliki peranan yang sangat penting serta mampu menyelesaikan hampir semua permasalahan kota/kabupaten di Jawa Timur yaitu “manusia” atau orang Jawa Timur.
Modal manusia atau dalam bahasa manajemen lebih dikenal dengan human capital adalah modal yang sangat besar karena jumlahnya di Jawa Timur mencapai hampir 40 juta jiwa. Jika human capital tersebut dikelola dengan baik, tidak menutup kemungkinan semua permasalahan pemerintah provinsi mulai dari pengangguran, kemiskinan, kejahatan dapat teratasi karena Jawa Timur memiliki human capital yang berkualitas. Human capital yang berkualitas tidak hanya dibutuhkan di dalam perusahaan di Jawa Timur saja, tetapi juga dibutuhkan oleh perusahaan di luar negeri.
Beberapa waktu yang lalu ada pengusaha dari Dubai yang bergerak di bidang pengadaan (supplier) kayu untuk pembangunan hotel-hotel di Timur Tengah. Dia kewalahan memenuhi permintaan kayu karena banyaknya hotel baru dibangun di wilayah tersebut. Oleh karena itu mereka datang langsung ke Jawa Timur untuk mengimpor kayu.
Ternyata yang mereka butuhkan tidak hanya kayu tetapi juga tenaga kerja perkayuan (tukang kayu) dalam jumlah yang banyak. Kebutuhan semacam itu akan mudah dipenuhi jika warga provinsi ini sudah mempunyai kesiapan human capital berkualitas dan ber-attitude bagus sehingga menghasilkan tenaga kerja dengan keterampilan tinggi (skilled man power). Pertanyaan yang muncul sekarang adalah bagaimana mengelola human capital yang besar tersebut agar memberikan manfaat bagi pemerintah dan masyarakat Jawa Timur secara keseluruhan?
Jika diperhatikan, permasalahan sosial (kriminal) yang terjadi di Jawa Timur banyak disebabkan oleh kecemburuan sosial yang berpangkal dari kesenjangan ekonomi (kemiskinan). Kesenjangan ekonomi terjadi karena adanya pengangguran dan ketimpangan ekonomi.
Pelatihan Kelompok
Data BPS tahun 2009 menunjukkan bahwa pengangguran di Jawa Timur mencapai 1,033 juta orang. Jumlah tersebut dapat dipetakan berdasarkan kelompok usia, pendidikan, dan kegemaran. Dari kelompok tersebut dikelompokkan lagi berdasarkan wilayah (kabupaten/kota) yang berdekatan, sehingga memudahkan pemerintah provinsi untuk mengkoordinasi dan memonitor kegiatan mereka. Setelah terkelompokkan secara wilayah diadakan pelatihan (training) yang sesuai dengan minat dari kelompok-kelompok yang sudah terbentuk.
Kelompok yang menyenangi elektronika dibuatkan pelatihan yang berkaitan dengan elektronika misalnya reparasi ponsel (karena hampir setiap orang mempunyai paling tidak satu ponsel), radio, televisi, dan sebagainya. Kelompok yang menyukai mekanik diadakan pelatihan yang berkaitan dengan bengkel sepeda motor mengingat jumlah sepeda motor sangat banyak di Jawa Timur dan jumlahnya dari tahun ke tahun makin banyak. Demikian juga kelompok yang menyukai pertukangan (kayu), kesenian, diadakan pelatihan seni lukis, tari, dan sebagainya.
Dari kelompok yang ada sebaiknya difokuskan dulu pada tiga kelompok besar saja supaya dalam pengelolaannya lebih fokus. Jika tiga kelompok ini berkembang dengan baik dan menghasilkan output (keluaran) yang baik, dapat ditambahkan satu atau dua kelompok tambahan lagi. Jika itu sudah memenuhi target maka diadakan untuk kelompok tambahan yang lain lagi, demikian seterusnya. Pada awalnya pasti akan terjadi beberapa kendala memetakan dan merealisasikan kegiatan tersebut.
Program pelatihan harus benar-benar berfokus pada output. Artinya setelah seseorang dinyatakan “lulus” dari pelatihan tersebut akan terserap dengan cepat di lapangan kerja. Sehingga materi pelatihan yang diberikan harus benar-benar yang dibutuhkan oleh dunia usaha. Jika pelatihan tersebut dikelola dengan profesional dan dilatih oleh orang-orang yang mengerti betul kebutuhan dunia kerja, lambat laun akan menemukan bentuk pelatihan yang cocok dengan karakter masyarakat Jawa Timur yang belum bekerja sekaligus mengisi kebutuhan tenaga terampil.
Pemerintah provinsi selanjutnya dapat berkoordinasi dengan pelaku usaha yang ada di Jawa Timur melalui human resource department masing-masing atau melalui Kadin untuk menggunakan tenaga kerja yang dihasilkan. Jika ternyata lulusan dari pelatihan tersebut memiliki kualitas yang bagus, maka selanjutnya para pelaku usaha akan langsung dapat menyerap tenaga kerja yang telah dilatih tanpa harus “diminta”.
Oleh karena itu output pertama menjadi sangat penting karena akan dijadikan acuan untuk output tahun-tahun berikutnya. Dari paparan di muka dapat disimpulkan bahwa kesejahteraan masyarakat Jawa Timur akan tercapai, jika pemerintah provinsi dapat mengelola human capital yang dimiliki menjadi berkualitas unggul. Human capital berkualitas unggul dapat tercapai, jika pemerintah provinsi mampu memetakan kompetensi yang dimiliki oleh masyarakat Jawa Timur dan memperdayakan melalui instrumen pendidikan tersedia.
Tentu saja tidak mudah memulai pekerjaan besar ini. Akan banyak tantangan yang muncul. Akan tetapi, itu bukan sesuatu yang mustahil. Jika hal tersebut terwujud maka Jawa Timur akan menjadi provinsi yang ruarrrr biasa…!n
Editor : jps