Keanekaragaman Satwa KBS Terancam
SURABAYA - SURYA- Selain kematian akibat penyakit dan fasilitas kurang memadai, kelangsungan keanekaragaman satwa Kebon Binatang Surabaya (KBS) juga terancam oleh status “perkawinan” para satwa. Ya, sejumlah satwa terancam hilang dari peredaran di KBS karena berstatus tanpa pasangan alias jomblo.
Anda yang kerap berkunjung ke KBS pasti tak akan melewatkan keunikan Jerapah (Giraffa camelopardalis reticulata) yang jangkung maupun kegarangan macan tutul (panthera pardus melas). Mungkin Anda juga yang sedikit menyukai tantangan pernah menyaksikan tatapan tajam ular king cobra (ophiophagus hannah).
Namun tahukah bahwa keberadaan jenis satwa ini terancam tinggal sejarah di KBS karena mereka masih hidup menyendiri. Jerapah berjenis kelamin jantan sedangkan Macan Tutul betina.
Kondisi serupa di alami jenis mamalia lain yaitu si mamalia betina kanguru pohon (dendrolagus ursinus). Dalam beberapa kesempatan, pengelola KBS menyebutkan kesendirian ini juga menjadi salah satu pendorong tingginya tingkat stres satwa yang diwajibkan menghibur manusia pengunjung KBS. Jerapah adalah salah satunya yang paling rawan karena telah 4 tahun hidup menyendiri di usia yang menginjak 20 tahun. Jerapah bisa hidup hingga umur 25 tahun. Sedangkan Macan Tutul telah berusia 12 tahun.
“Jerapah ini masih sehat tetapi umurnya sudah di atas 20 tahun dan dia butuh teman karena hidup sendiri,” kata Anthan Warsito Kepala Rekam Data Konservasi KBS dalam diskusi memperingati 94 tahun pekan lalu. KBS didirikan di masa kolonial Belanda pada 31 Agustus 1916.
Pada satwa kelompok mamalia terdapat 20 yang berstatus tanpa pasangan dari 13 spesies, sementara pada kelompok Aves terdapat 63 satwa dari 40 spesies yang hidup menyendiri tanpa pasangan. Pada kelompok reptilia terdapat 14 satwa dari 8 spesies, sedangkan di kelompok ikan laut terdapat 58 jenis spesies dan ikan tawar 39 spesies. Untuk kelompok ikan sangat sulit memantau jumlah pastinya karena teknis penghitungan yang rumit.
Kekuatiran akan punahnya sejumlah jenis satwa cukup beralasan. Sebab, setiap tahun puluhan bahkan ratusan satwa KBS ditemukan mati. Jika ini Keanekaragaman satwa KBS.
Pada tahun 2008 lalu sebanyak 71 satwa dari kelompok mamalia mati. Di tahun yang sama ada pula kematian pada 113 jenis aves (burung dan ayam), 38 reptilia, dan 140 jenis ikan. Pada 2009 kondisinya tak juga membaik kematian terjadi pada 82 satwa mamalia, 80 aves, 75 reptilia 27 diantaranya komodo dan 90 ekor ikan. Pada 2010 hingga pertengahan tahun tak kurang 160 satwa dari berbagai jenis mati.
Masalah lain adalah kebiasaan warga yang menjadikan KBS sebagai tempat penitipan akhir satwa yang mereka pelihara. Pecinta satwa kerap menghibahkan satwa yang mereka pelihara saat usia sudah menginjak dewasa. “Orang utan misalnya saat masih bayi disayang-sayang saat sudah dewasa yang punya bingung karena tidak ada tempat yang cukup. Lalu satwa diserahkan ke KBS saat dewasa,” kata Tony.
Kondisi ini juga berat bagi si orang utan. Karena seekor orang utan yang terbiasa hidup di rumah sebagai hewan peliharaan tak biasa berkelompok dengan satwa sejenisnya. “Orang utan ini bisa stres karena ditolak kelompoknya di KBS dan tidak bisa kawin karena sudah lebih mencintai manusia daripada sesama orang utan,” kata Tony Sumampow Ketua Tim Pengelola KBS.
Sejumlah masalah serius yang melilit KBS sudah mulai tampak di permukaan. Tinggal bagaimana mengambil langkah konkrit untuk mengatasinya. Beberapa persoalan yang sudah dideteksi Tim Pengelola KBS antara lain kondisi kandang yang tidak mencukupi, overpopulasi pada sejumlah sejenis satwa hingga soal satwa yang menginjak tua dan mengalami gangguan fisik.
“Pada umumnya sesama kebon binatang maupun lembaga konservasi baik dalam maupun di luar negeri bersedia membantu mengatasi masalah satwa yang tak punya pasangan ini. Namun, itu bisa dilakukan jika kondisi KBS mulai membaik di pandangan dunia internasional,” jelas Tony.
Ahmad Saerozi Kepala Operasional dan Pengamanan Tim Pengelola KBS yang mewakili unsur Balai besar Konservasi Sumber daya Alam (BKSDA) meminta warga Surabaya percaya pada langkah-langkah yang ditempuh dan tidak selalu memandang curiga pada para pihak yang kini ditunjuk pemerintah sebagai pengelola KBS. “Tolong dihilangkan kesan negara ingin membunuh satwanya sendiri. Tidak mungkin itu dilakukan, tetapi kami tidak mungkin pertahankan kondisi satwa KBS yang overpopulasi,” kata Saerozi.Yudie Thirzano
Editor : jps