Imbas Ajakan Saat Lebaran
SURABAYA - SURYA- Gelombang pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) pasca-Lebaran diprediksi terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Kenaikan jumlah TKI ini seiring dengan pergeseran yang terjadi di sektor formal.
Kepala Unit Pelayanan Penempatan dan Perlindungan (UP3) TKI Disnakertransduk Jatim Hariyadi Budihardjo mengatakan, kenaikan itu akan terjadi pasca Lebaran, mengingat pada H-7 sampai H+7 banyak TKI yang pulang ke Tanah Air.
“Di embarkasi Bandara Juanda, kita layani kedatangan 700 TKI per hari. Padahal, belum menginjak H-7. Bisa dipastikan lonjakannya akan lebih dari 1.000 TKI pulang. Rata-rata hari biasa hanya 100-200 TKI,” kata Hariyadi, Minggu (29/8).
Kenaikan arus pengiriman TKI ini bisa jadi karena informasi yang diberikan para TKI saat ia pulang ke kampung halaman. Biasanya, ketika mereka kembali ke negara tempat ia bekerja akan mengajak sekalian kawan atau saudaranya bekerja di sana.
“Tren sekarang tidak lagi didominasi sektor informal atau pembantu rumah tangga (PRT), tapi di sektor formal mulai imbang,” lanjut Hariyadi.
Jatim menargetkan pengiriman TKI 2010 sebesar 60.000 tenaga kerja (naker). Sampai Juli 2010, baru 32.790 naker yang terkirim.
Pada 2009, tercatat 46.418 naker dikirim dengan rincian 14.825 naker ke sektor formal dan 35.728 naker ke sektor informal. Sekitar 70 persen pada tahun lalu masih terserap di sektor informal.
“Tahun ini sudah 50:50. Sektor formal yang banyak diminati, antara lain, industri elektronik, konstruksi dan perkebunan,” jelas Hariyadi.
Negara tujuan TKI terbesar masih ke Hongkong, Taiwan, Malaysia, Brunei dan Singapura. Negara-negara di Timur Tengah juga ada peminatnya, namun kecil.
“Jumlah 32.790 TKI itu belum termasuk yang ilegal, di mana jumlahnya tentu jauh lebih banyak. Kita berusaha gencarkan program Zero TKI Ilegal tapi pelan-pelan karena akan sulit jika memberangus secara langsung,” kata Hariyadi.
Program Officer Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) Office Surabaya Muhamad Nour menambahkan, pengiriman TKI saat ini jauh lebih selektif.
“Program pengarahan dan pembekalan yang terorganisir kita perkuat agar TKI mendapat informasi tentang tempat kerja dan negara tujuan, serta bidang kerja secara maksimal,” ujar Nour, di sela Peluncuran Kelompok Kerja Migran, pekan lalu.
Jadi, meski terus ada pertambahan TKI yang dikirim, namun SDM lebih berkualitas. “Kita bentuk jaringan untuk memperkuat informasi,” lanjutnya.
Nour mengatakan, pembentukan kelompok ini untuk memperkuat dokumentasi dan pertukaran pengetahuan, pengalaman tentang migrasi pekerja, pertukaran pandangan, serta perkembangan ekonomi yang berkelanjutan di komunitas pekerja.
Hanya 20 Persen
Data BI Jatim menyebutkan, porsi remitansi TKI terbesar yang masuk melalui pintu tujuan Surabaya, kemudian Pamekasan, Malang, Gresik, dan Madiun.
Pimpinan BI Regional Jatim M Ishak mengatakan, dalam Kegiatan Usaha Pengiriman Uang (KUPU) yakni transfer dana masuk atau remitensi TKI yang terekam BI sesungguhnya hanya 20 persen dari total aliran dana yang masuk ke Tanah Air.
“Sekitar 80 persen melalui jalur informal. Apalagi sekarang hampir di semua negara tujuan TKI, sudah ada transfer uang melalui jalur internet. Jalur ini diminati karena relatif lebih murah,” jelas Ishak.name
Editor : jps